Partai Nasional Indonesia (5)

Benar! Benar sekali. Tuan-tuan Hakim: “pura-pura menyokong pemerintah”, “onder het voorwendsel vangezagsschraging”, mereka minta kami dihukum, dibuang, atau digantung, tetapi sebenarnya ialah oleh karena kantongnya dan dividennya terancam! Untuk keselamatan kantong dan untuk keselamatan dividen ini juga, mereka kalau perlu, tak segan pula melanggar kekuasaan pemerintah itu, sebagai misalnya AID de Preangerbode tak segan sebentar-sebentar melanggar kekuasaan itu, atau sebagai misalnya Nieuws van den Dag, yang dulu pernah menghina Gubernur Jenderal de Graeff[1] dengan penghinaan:

    “Pergilah, enyahlah, Hindia butuh kepada orang-orang yang lebih keras!”

Kantongnya terancam! Tuan-tuan Hakim, kantongnya terancam!—Untuk melindungi kantong ini, maka mereka mengabui mata umum, — untuk menjaga kepentingan ini maka mereka mengadakan pers yang tiiada moral melainkan moral duit, tiada kesusilaan melainkan kesusilaan fulus! “Juga negeri Belanda,” – begitulah Tuan Vleming, bekas kepala dinas akuntan pajak di sini, berpidato,

    ‘Juga negeri Belanda masih tetap suatu negeri yang diperintah secara kapitalistis, di mana kapital besar yang disusun dalam organisasi yang kuat itu, dan tidak kurang-kurang pula kapital besar yang mempunyai kepentingan-kepentingan di Indonesia, bukan saja mempunyai kekuasaan ekonomi yang besar sekali, tetapi juga bisa menjalankan pengaruh yang hebat atas pemerintah dengan segala alat-alat yang ada padanya. Dan alat-alat ini bukan sedikit.

    Kapital besar ini berhubungan rapat dengan kapitalis-kapitalis besar Inggris, Amerika, Belgia, Jerman, Prancis, dan lain-lain yang oleh adanya apa yang disebut politik pintu terbuka, juga mempunyai kepentingan-kepentingannya di Indonesia dan yang tergabung dengan kapitalis-kapitalis besar Belanda dalam organisasi “Dewan Majikan untuk Hindia-Belanda, yang didirikan dalam tahun 1921. Dengan langsung atau tidak langsung dewan majikan ini mempunyai pers dan dinas penerangan pers yang luas, sedang anggota-anggotanya yang berkepentingan mempunyai pula hubungan dengan dua surat kabar yang terbit di luar negeri, yakni “The New World” dan “Le Monde Nouveau”. Dengan kebohongan, penipuan, perampasan makanan orang,– dan di mana perlu untuk kepentingannya dan jika bisa mencapai maksudnya mereka bersedia berlaku lebih kejam lagi—maka kapital besar yang tersusun dalam organisasi itu, melakukan perjuangan untuk kepentingannya di tiap negeri, jadi juga di Indonesia, sekali-sekali mengubah haluan dimana perlu.”[2]

Lebih terang dari tuan Vleming itu tak bisalah digambarkan asal-usul moral duit dan kesusilaan duit dari pers imperialisme di Indonesia itu. Oleh karena itu, tak haruslah kita heran atau marah atas kegegeran surat-surat kabar ala AID de Preangerbode atau ala Soerabajaasch Handelsblad itu. Biar mereka gembar-gembor, biar mereka berpikir ke kanan dan ke kiri, biar mereka jengkelitan berdiri di atas kepalanya, — kami tak akan ambil pusing, kami tak akan ambil mumet, kami akan bekerja terus!

Tuan-tuan Hakim yang terhormat, marilah kami mengulangi lagi: kekuasaan politik, kemerdekaan, hanyalah bisa didatangkan oleh usaha rakyat Indonesia sendiri! Kaum imperialisme sudah semestinya mengalang-alangi kami; dari sistem imperialisme, yang hidupnya daripada penjajahan itu, kami tak harus mengharap sokongan memberhentikan penjajahan itu. Nasib kami adalah di dalam genggaman kami sendiri; keselamatan kami adalah di dalam kemauan kami sendiri, di dalam tekad kami sendiri, di dalam kebisaan kami sendiri, di dalam usaha kami sendiri. Semboyan kami tidaklah “minta-minta”, tidaklah “mengemis”, tidaklah “mendicancy” sebagai Tilak mengatakannya,– tetapi semboyan kami haruslah “noncooperation”, lebih benar: “selfhelp”, “zelfver-werkelijking”, “selfreliance”!, sebagai yang kami lambangkan dengan perlambang kepala banteng!

Siapa yang masih mengharap-harap pertolongan dari sistem imperialisme, siapa yang masih percaya akan “anugerah” yang nanti akan di-“anugerah”-kan olehnya, siapa yang masih menggugu akan omongan “mission sacree”, siapa yang masih mengarahkan muka ke Barat, ia adalah sama sekali buta akan kenyataan yang sebenarnya, buta akan realiteit.

Sebab kenyataan yang sebenarnya ialah, sebagai tertulis di dalam keterangan asas kami, bahwa negeri Belanda peri kehidupannya sangat tergantung kepada penjajahan Indonesia. Kenyataan yang sebenarnya menyebabkan Mr. Dijkstra di dalam “Indische Gids”[3] 1914 menulis:

    “Penduduk di dalam seratus dua ratus tahun ini tidak bisa mengharapkan dari imperialisme kebudayaan kita, bahwa kekuasaan dan pengetahuan kita akan kita pergunakan untuk memajukan peradaban dan kesehatan mereka.”

Kenyataan yang sebenarnya menyebabkan Tuan Vleming berpidato:

    “bagi kesejahteraan umum penduduk yang hampir 7½ juta dari negeri kita yang kecil……….besar sekali faedahnya, bahwa saban tahun mengalir ke negeri Belanda suatu saldo ekspor yang besar jumlahnya, artinya suatu jumlah harga barang ekspor Hindia yang jauh lebih besar dari jumlah harga impor, berupa dividen, bunga, tantieme, gaji-gaji, pensiun, gaji-perlop, dan lain-lain.[4]

Kenyataan yang sebenarnya ialah, bahwa, sebagai Prof. Moon menuliskan, kebesaran negeri Belanda sekarang ini adalah oleh karena negeri Belanda itu mempunyai negeri jajahan Indonesia yang luas dan banyak penduduk itu. Kenyataan yang sebenarnyalah menjadi sebab Dr. Sandberg tempo hari geger membikin buku yang istimewa bernama: “Indie verloren, rampspoed geboren”,[5] Indonesia merdeka, Belanda pun bangkrut”, menjadi sebab Komisi untuk Pertahanan Hindia-Belanda menulis:

    “Juga dipandang dari sudut ekonomi, lepasnya Hindia akan berarti bencana nasional yang sehebat-hebatnya bagi negeri Belanda.”[6]

[1] Jhr. Andries C.D. de Graeff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1926-1931, menteri luar negeri dalam kabinet Colijn 1933-1937.

[2] Vleming dalam bukunya “Intern. Soc. Dem, Kol. Pol”, hal.82

[3] “Indische Gids” sebuah penerbitan Belanda yang mengutamakan pemuatan penelitian ilmiah. Buku yang dikutip terbitan tahun 1914, No. 36 II, hal. 1240.

[4] Vleming, Ibid hal.72.

[5] Dr. Sandberg, dalam bukunya, “Indie verloren, rampspoed geboren” diterbitkan D.A. Daamen, ‘s-Gravenhage, 1914.

[6] Pledoi Sneevliet di pengadilan Belanda (1917) yang mengakibatkan Sneevliet (1883-1942) diinternir. Sneevliet  adalah orang Belanda yang mendirikan Indische Sociaal Democratische Partij (ISDP) tahun 1914 di Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut