Buruh Migran Indonesia Tuntut Penghapusan KTKLN

Ribuan buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong menggelar aksi massa menuntut penghapusan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN), Minggu (1/9/2013).

Para buruh beralsan, program itu telah menjadi ajang pemerasan bagi BMI. “Pelaksanaan program ini juga sangat bobrok dan cenderung koruptif,” kata Nur Utami, salah seorang peserta aksi, sebagaimana diinformasikan kepada Bara JP Migran Center.

Bara JP Migran Center adalah lembaga yang didirikan Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 (Bara JP) guna memberi layanan hukum kepada para migran di seluruh dunia.

Aksi massa ini dimulai dari Victoria Park dan kemudian berjalan kaki  menuju Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hong Kong. Di depan KJRI, ribuan buruh ini menyampaikan aspirasinya.

Nur Utami menjelaskan, pemerintah menyatakan bahwa biaya KTKLN adalah gratis. Namun pada kenyataannya, kata dia, biaya pembuatannya bisa mencapai Rp 5 juta dan pembuatannya pun tidak semua tempat di Indonesia.

“Ketika kita mengalami masalah di luar negeri, KTKLN tidak diperlukan. Jadi untuk apa pemerintah memeras rakyatnya sendiri?,” kata Nur Utami.

KTKLN merupakan kartu identitas bagi TKI dan sekaligus sebagai bukti bahwa TKI yang bersangkutan telah memenuhi prosedur untuk bekerja ke luar negeri. Tak hanya itu, kartu berbentuk smartcard chip microprocessor contactless dapat berfungsi sebagai instrumen perlindungan baik pada masa penempatan maupun pasca penempatan.

Dasar hukumnya adalah Undang Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri pasal 62 ayat (1) berbunyi: “Setiap TKI yang ditempatkan di luar negeri, wajib memiliki dokumen KTKLN yang dikeluarkan oleh Pemerintah”.

Pada kenyataannya, fungsi kartu ini tidak jelas dan tumpang tindih. Misalnya, jika dikatakan KTKLN sebagai  penunjuk identitas, para BMI sudah memiliki paspor dan visa kerja yang jelas diakui dunia Internasional. Kalaupun KTKLN dianggap penunjuk asuransi, BMI sudah memegang kartu peserta asuransi.

Selain mempersoalkan KTKLN, para BMI di Hong Kong juga bersolidaritas Kartika Puspitasari, buruh migran Indonesia yang dianiaya oleh majikannya. Dengan hanya memakai popok, Kartika diikat di kursi dan ditinggal majikan berlibur selama lima hari ke Thailand tanpa diberi makanan dan minuman.

“Kami juga menuntut supaya pemerintah Indonesia melindungi Kartika, seorang BMI yang disiksa majikan di Hong Kong. Jangan sibuk Konvesi, ingat nasib rakyat,” kata Nur Utami.

Majikan Kartika, yakni Tai Chi-wai (42) dan istrinya, Catherine Au Yuk-shan (41), sedang menjalani pengadilan. Sebagaimana diberitakan oleh South China Morning Post, keduanya menyangkal tuduhan telah melakukan penganiayaan terhadap Kartika.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut