Bung Karno: Azas Dan Taktik Perjuangan

Semula partai politik sangat dihormati. Tahun 1912—awal kemunculan partai pertama, Indische partij—hingga akhir 1960-an dianggap “zaman keemasan partai politik”.  Di era itu parpol melakukan kerja agung: sebagai alat perjuangan rakyat.

Namun, sejak militer mengambil-alih kekuasaan di akhir 1960-an, budaya politik pun merosot. Partai-partai progressif diberangus hingga ke akar-akarnya. Tak lama setelah berkuasa, rezim orde baru menjalankan depolitisasi dan deideologisasi.

Sejak itulah partai politik tak lagi memijakkan kakinya pada aras ideologi. Kalaupun mereka mencantumkan azas di AD/ART, itu tak lebih sebagai prasyarat formal untuk pendaftaran. Kenyataannya, di era orde baru memang ada tiga partai, tetapi mereka terpasung di bawah “azas tunggal”.

Lalu, seiring dengan bertiupnya angin reformasi, terbitlah kehidupan multi-partai. Pemilu 1999 diikuti 48 partai politik; menyusut menjadi 24 pada pemilu 2004; pada pemilu 2009 meningkat lagi menjadi 44 partai politik; dan pemilu 2014 mendatang akan diikuti oleh 10 partai.

Kenyataan berbicara lain: slogan “politik sebagai panglima” sudah digantikan oleh “uang adalah panglima”. Di gedung parlemen, tak ada garis pembatas yang jelas antara partai oposisi dan pemerintah. Asalkan ada uang, mereka bisa menyusun kesepakatan di balik pintu.

Azas partai sekarang sangat hambar; tidak lagi menavigasi gerak dan sepak terjang partainya. Azas itu tak juga bisa mengontrol moral politik kader-kader partai. Saking ompongnya azas itu, kader partai satu per satu terjerembab dalam korupsi, skandal seks, video porno, bermewah-mewahan, dan berbagai perbuatan terkutuk lainnya.

Pada momen seperti itulah kita mesti mengingat Bung Karno. Di tahun 1933, melalui tulisan berjudul “Azas, Azas Perjuangan, Dan Taktik”, Bung Karno menulis mengenai betapa pentingnya azas bagi sebuah partai. Tulisan itu dimuat di koran Fikiran Ra’jat.

Bung Karno mendefenisikan azas sebagai dasar atau “pegangan” kita/partai, yang sampai kapanpun menentukan arah dan sikap partai. “Azas ini tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang,” ujar Bung Karno. Walau sampai kapanpun, bahkan datang kiamat sekalipun, azas ini tetap menentukan sikap dan posisi partai.

Pendek kata, selama partai yang mengusung azas itu masih hidup, maka azas-nya pun terus berlaku. Azas merupakan raison d’être­-nya dan sekaligus perwujudan cita-cita partai. Bung Karno mencontohkan partainya, Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang berazaskan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sampai kapapun, bahkan setelah Indonesia merdeka, PNI wajib tetap memikul azasnya itu.

Azas itulah yang bertindak sebagai navigasi bagi kaum marhaen agar terpastikan mencapai cita-citanya: membangun masyarakat baru tanpa penghisapan. Jika partai meninggalan azasnya itu, berarti ia telah sengaja mengombang-ambingkan diri dan menjauh dari cita-citanya.

Namun, untuk mencapai cita-citanya, misalnya Indonesia merdeka, sebuah partai memerlukan perjuangan. “zonder/tanpa perjuangan, zonder bergerak habis-habisan, kita tidak akan mencapai Indonesia Merdeka. Zonder perjuangan, kita akan tetap hidup di alam sekarang,” kata Bung Karno.

Pertanyaannya: perjuangan yang seperti apa? Maklum, dalam memperjuangkan sesuatu, ada aneka-ragam strategi: meminta-minta/kompromisme, lobi/negosiasi, non-koperasi, parlementer, perjuangan bersenjata, dan lain-lain.

Kata Bung Karno, untuk menentukan pilihan pada beragam strategi itu, setiap perjuangan harus punya prinsip. Inilah yang disebut azas perjuangan. Jadi, menurut Bung Karno, azas perjuangan inilah yang menentukan bentuk pilihan strategi dan wataknya perjuangan itu.

Jika azas perjuangannya “moderat”, maka tak mungkin kita mengambil strategi perjuangan radikal. Sebaliknya, ketika memilih azas “non-koperasi”, tidak mungkin kita memakai strategi lobi atau negosiasi. Azas perjuangan akan menentukan bobotnya strategi perjuangan.

Penentuan azas perjuangan ini juga tergantung dari hasil pembacaan kita terhadap kontradiksi. Kalau pertentangannya antagonistik, semisal antara klas penindas dan terhisap, atau antara negara penjajah dan terjajah, maka pilihan azas perjuangannya tentu harus radikal.

Tidak ada kelas yang mau secara sukarela menyerahkan kekuasannya kepada klas lain. Juga tidak ada penjajah yang mau menyerahkan secara sukarela membiarkan jajahannya merdeka 100%. Karena itu, pilihan perjuangannya harus radikal dan militan.

Dalam perjuangan mencapai Indonesia merdeka, Bung Karno menggambarkan azasnya sebagai berikut: perjuangannya harus non-koperasi karena indonesia merdeka tidak mungkin dengan menunggu belas-kasihan; perjuangannya harus macthsvorming karena pihak sana (penjajah) tak akan menyerahkan kekuasannya tanpa paksaan; dan machtsvorming tidak mungkin terbentuk tanpa massa aksi.

Pertanyaan selanjutnya: bagaimana kita menyusun atau menghidupkan perjuangan itu seusai azas perjuangan kita? Jawabannya singkat: Taktik! Dengan taktik-lah kita menyusun atau memperbesar kekuatan. Bung Karno mendefenisikan taktik sebagai berikut: segala perbuatan yang kita perlukan untuk memelihara perjuangan.

Azas partai tidak bisa berubah kapanpun. Sedangkan azas perjuangan bisa berubah ketika revolusi sudah berhasil dilaksanakan. Tetapi taktik bisa berubah sesuai perkembangan situasi atau tuntutan keadaan. “Taktik bukanlah hukum yang tetap,” ujar Bung Karno.

Bung Karno kemudian mensitir Karl Marx, bahwa kalau ada tuntutan keadaan, kita bisa mengubah taktik 24 kali dalam 24 jam. Entah benar atau tidak Karl Marx pernah berucap begitu. Akan tetapi, secara prinsip Bung Karno sudah benar, bahwa taktik dapat diubah kapan saja sesuai tuntutan atau perubahan keadaan.

Lebih lanjut, Bung Karno menjelaskan, tiap-tiap macam sikapnya musuh, tiap-tiap keadaan, harus kita jawab dengan taktik yang sesuai. “Hari ini kita menyerang, besok pagi kita mengatur susunan….begitulah naik turunnya dan maju mundurnya ombak-ombak taktik dalam perjuangan,” ujar Bung Karno.

Ringkas cerita: azas partai, yakni sosio-nasionalisme dan sosi-demokrasi, bersifat tetap. Azas perjuangan, yaitu non-koperasi, machtvorming, massa aksi dan lain, akan berubah sesuai tugas revolusi kita. Sedangkan taktik mengikuti keadaan dan perimbagan kekuatan.

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD); Pimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut