Kelahiran “Negeri Pelangi” Dirusak Gas Air Mata

Peluncuran buku “Negeri Pelangi” Ras Muhamad, Minggu, 17 Februari 2013 di Teebox Cafe, Jl. Wijaya II No.123 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, porak-poranda. Bubar! Bukan karena diserbu sekelompok massa dari organisasi mana pun. Pesta kelahiran buku itu diporak-porandakan gas air mata.   

“Hancur hati semalam. Dua bulan kerjaan dirusak gas air mata,” kata Ras Muhamad, penulis buku tersebut kepada saya. Gas air mata ternyata memang mampu menumpahkan air mata.

Pandangan mata langsung di lokasi perhelatan, mulanya semua berjalan normal. Setelah matahari berpulang ke peraduan, satu persatu muda-mudi beratribut merah kuning hijau berdatangan ke Teebox. Beberapa orang berambut gimbal. Sejumlah awak media massa dengan perkakas liputannya juga tampak hadir. Mereka berbaur saling tegur sapa dan melempar senyum.

Malam semakin pekat. Lokasi semakin ramai. Para awak media dipersilahkan masuk. Acara itu memang dibuka dengan konfrensi pers dan bedah buku “Negeri Pelangi”. Pengamat musik, Bens Leo, bertindak sebagai moderator. Dia memimpin jalannya diskusi.

Sementara itu, massa di luar Teebox berkerumun di pintu. Menunggu dipersilahkan masuk. Dan memang pada akhirnya dipersilahkan masuk. Tapi tidak semua. Sebagian massa masih tertahan di luar.

Sampai sejauh ini situasi masih berjalan normal. Bahkan, Bens Leo mengapresiasi. “Baru kali ini saya lihat, konfrensi pers peluncuran sebuah buku dihadiri tak hanya oleh wartawan, tetapi juga oleh fans, komunitas. Ini peristiwa bersejarah,” katanya mengapresiasi dari meja moderator.

Tidak sampai di situ, setelah membedah isi buku itu dan proses kelahirannya, setelah sesi tanya jawab dengan wartawan usai, Bens Leo juga mempersilahkan fans yang hadir untuk bertanya. Dari air mukanya, Bens jelas nampak sumringah malam itu.

Kurang lebih sekitar pukul 21.00 acara bedah buku dan konfrensi pers usai. Ras Muhamad disalami sejumlah orang. Beberapa minta foto bersama. Suasana di dalam cafe yang tidak begitu besar itu hangat.

Sejurus kemudian, acara dilanjutkan dengan penampilan musik. Selain Ras Muhamad & The Easy Skankin Band, rencananya sejumlah band reggae juga tampil memeriahkan pesta kelahiran buku Negeri Pelangi, seperti Day Afternoon, Republik 21, Boys n Roots, Conrad Vibration.

Band pertama yang tampil Republik 21. Saat menyanyikan lagu pertama, tiba-tiba suasana di dalam ricuh. Tercium bau gas air mata. Orang-orang panik dan berteriak, “Gas…gas…gas air mata…”. Aroma gas itu sangat menyengat dan membuat sesak.

Orang-orang di dalam cafe, tempat acara sedang dihelat berhamburan keluar. Termasuk saya. Ternyata, sesampai di luar suasana tak kalah ricuh. Bukan ricuh karena kerusuhan baku hantam, tapi karena aroma gas air mata yang menyesakkan dan menumpahkan air mata.

Seorang perempuan nampak jatuh terkulai lemas. Beberapa orang lain memberi pertolongan. Semua sibuk dengan tingkahnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka mencuci muka dan kumur-kumur, berbekal air mineral. Orang-orang berbagi air mineral. Saling membantu.

Bergumul dengan gas air mata bukan pertamakali bagi saya. Sewaktu demonstrasi semasa duduk di bangku kuliah dulu, sempatlah beberapa kali marasakan perih dan panasnya gas yang dilesatkan aparat keamanan itu.

Tapi, gas air mata yang semalam lain rasanya. Lebih panas dan menyesakkan. Entah jenisnya berbeda, saya tidak tahu pasti. Dugaan saya, karena aroma gas malam tadi membumbung di ruang tertutup.

Berdasarkan pengalaman waktu kuliah itulah saya langsung mencari odol untuk dioleskan di bawah mata. Ini dulu penawar gas air mata yang ampuh. Dan ternyata memang masih ampuh. Odol itu pun berpindah. Dari tangan satu ke tangan lainnya.

Setelah bisa bernafas dengan lega, saya menyambangi sejumlah orang. Bertanya. Ada apa sebenarnya? Beragam jawaban. Namun tak ada satu pun jawaban yang mengarah bahwa terjadi kerusuhan di luar Teebox sebelum gas air mata itu meledak. Yang ada hanya akumulasi massa yang ingin masuk ke dalam cafe.

Beberapa orang mengatakan, tadi ada beberapa orang polisi. Tapi saya tidak melihatnya. Agaknya aparat sudah terlebih dahulu meninggalkan lokasi kejadian sebelum orang-orang dari dalam, termasuk saya, berhamburan keluar. Kejadiannya memang begitu cepat.

Acara bubar. Tak diteruskan. Apa pun perkaranya, semua yang hadir malam itu tentu punya versi ceritanya masing-masing. Saya teringat dengan pernyataan Bens Leo di awal acara, “Ini peristiwa bersejarah!”

Ya, ini memang peristiwa bersejarah. Jadi cerita. Cerita di hari lahirnya buku “Negeri Pelangi”. Ternyata, begitu lahir, karya memang punya jalannya sendiri. Dan karya itu sendiri yang memilih bagaimana caranya lahir…

Laporan: Wenri Wanhar

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut