Cerpen: Menanti Riwayat Ahmad Sukarno

Jalan yang diberi nama "Ahmed Soekarno"--dari nama Bung Karno--di Timur Tengah

Orang Tua itu memperkenalkan namanya setelah lima hari dari perjumpaan pertama. Wajahnya sudah sangat keriput, kerut wajahnya itu bersih dari bulu-bulu, kulitnya seperti sedang mengatakan sesuatu bahwa wajah itu milik orang tua yang masa mudanya dihabiskan dengan bekerja keras. Aku menyebutnya, Syekh! Seharusnya aku menamainya dengan Pengemis Tua! Karena para pengunjung kedai seperti sudah sepakat, bahwa Syekh itu hanya seorang Pengemis Tua.

“Kau ingin bahagia? Ingatlah masa lalumu, kemudian menangislah, menangis itu tapal pertama bagi para penempuh, Kau tidak harus pergi ke laut merah kemudian pergi ke Makkah untuk menangis, semua arah adalah wajah Allah. Kau hanya butuh bergabung bersama orang-orang yang hijrah dari sakitnya Dunia ke sehatnya Akhirat. Bayangkanlah kembali Anak Muda, lapuknya Dunia dan utuhnya Akhirat, hapuslah tapak-tapak kakimu diatas padang Dunia yang hampir punah ini, dengan air matamu!”  Ucapan pertama yang kudengar dari mulut Syekh, binar mata itu menyorot hitam bola mataku, tidak banyak mata lain di kedai Elnasiri malam itu, segelas kopi Sumatra terpaksa tertunda untuk kuteguk! Malam itu aku hanya merasa telah dipertemukan dengan Pengigau yang Relijius.

“Anda harus memperkenalkan nama Anda dan dari Mana Anda berasal, agar malam ini Saya bersedia mendengarkan apa yang Anda katakan!” Pintaku pada Syekh, tubuh rentanya duduk berselonjor di emper kedai Elnasiri, dekat trotoar.

“Kau tidak perlu tahu Siapa namaku dan Dimana kampungku! Kau bukan orang sini, Kau orang jauh, Dimana kampungmu Anak Muda?”

“Saya dari Indonesia, Syekh.”

“Kau belum lahir waktu Ahmad Sukarno mengunjungi negeri ini, aku masih muda waktu itu.”

“Ah, kemarilah Syekh, wajib bagi saya satu meja dengan Anda, Sekarang Saya penunggu cerita tentang salah seorang Pembebas Bangsa Indonesia itu, kita akan minum kopi bersama.”

“Aku tidak minum kopi, Anak Muda! Biarkanlah aku bercerita dari  sini.”

“Saya akan memesankan segelas teh panas untuk Anda, Syekh.”

“Tidak perlu, aku hanya minum air putih.”

“Kau ingin Allah menggolongkanmu termasuk dari orang-orang yang baik? Katakanlah! Bahwa setiap kegiatan penjajahan adalah musuhmu yang agung, termasuk jika dirimu sendiri pelakunya, bangsamu sendiri pelakunya.”

“Iya  akan Saya katakan! Tapi setelah Anda bercerita Tentang Ahmad Sukarno.”

“Kehidupan ini bising oleh deru buldoser di lahan-lahan yang tenang. Uang berputar dari tangan besar ketangan besar yang lain. Sekarang kesengsaraan itu adalah diam, sedangkan kebahagiaan adalah pergi dari keberanian menuju ketakutan yang sebenarnya.” Syekh tidak mengalami kesusahan ketika berkata-kata, seperti masih sangat sehat ketika itu.

“Saya menunggu cerita tentang Ahmad Sukarno dari Anda, Syekh!”

“Kesuraman itu berbisa, dan tidak mampu mengatasinya adalah kelemahan yang tidak sederhana, selalu mendekatlah pada Sang Pencipta kejelasan,  dengan dimusnakanya sifat pemuja dunia, dengan dianugrahkanya kejelasan, semoga Kau akan termasuk dari golongan yang akan diterima diruang tamunya.”

“Syekh, sepertinya disini bukan Masjid dan Anda bukan seorang Imam Masjid.” Perkataan Syaikh terpaksa kupotong! Aku hanya menunggu cerita tentang Ahmad Sukarno, tidak yang lain, dari orang tua yang sepertinya sedang berpura-pura tuli itu!

“Dirimu adalah Masjid, dan Kau imamnya. Diriku adalah Masjid, dan akulah Imamnya.”

“Ah, Anda! Saya tidak sabar mendapatkan cerita dari Anda!”

“Anak Muda! ternyata sudah larut malam, ada yang sedang menungguku ditempat lain, semoga Allah mempertemukan kita kembali lain waktu.”

Ah, Orang Tua berjubah lusuh itu pergi meninggalkan kedai Elnasiri yang sudah sangat sepi, angin pagi sudah berani menyakiti, kabut mulai merangkak menciumi Kairo yang tua, suara gonggongan anjing datang dari arah gang samping kedai! Sambil meninggalkan kedai aku hanya bisa kecewa karena  Syekh tidak bercerita tentang Ahmad Sukarno.

***

Kurangkum kembali kata-kata Syekh yang terserak malam itu, ada yang ingin kutanyakan. Kenapa aku harus menangis?  Bahkan aku dibuat tidak percaya! Syekh yang  seorang Pengemis Tua berbicara tentang sakitnya Dunia dan Sehatnya Akhirat? Bukankah sebaiknya Syekh sedikit memperbaiki posisi tanganya dari tangan dibawah menjadi tangan diatas? Ah, sebaiknya aku tidak boleh berpikir keras, Orang Tua itu hanya orang kampung yang datang kesini kemudian bertahan hidup disini dengan cara  mengkumuhkankota.

***

Tidak disangka! Petang disebuah masjid mungil nan megah dibibir laut mediterania yang putih, lima hari dari pertemuan kilat dengan Syekh di Kairo,  tidak seperti  yang kuharapkan sebelumnya, percakapan kabur yang menimbulkan pertanyaan malam itu ingin ku ulangi di kedai Elnasiri, tapi kenyataanya menjadi begitu jauh dan berbeda. Ya, karena sosok Syekh nampak sedang memimpin barisan Shalat Magrib berjemaah, sosok itu begitu jelas dari Shaf pertama. Tubuh rentanya dibalut jubah bagus, kepala peraknya ditutupi Torbus  merah. Aku berharap aku telah salah orang, dan sepertinya memang seperti itu, tidak mungkin orang banyak di Masjid itu  sepakat, Kakek Tua yang biasa pergi ke Kairo untuk mengemis, mengimami Shalat Magrib mereka.

Selepas Sholat, sebagian orang-orang dalam Masjid itu memilih langsung meninggalkan Masjid, sebagian lagi nampak saling berjabat tangan, menebar senyum, ada yang mengambil Mushaf, mungkin akan menunggu Sholat Isya. Aku sendiri memutuskan untuk menjabat tangan Imam Masjid itu.

“Kau Anak Muda dariIndonesia itu?”  Pertanyaan yang datang dari wajah ramah dan sejuk, namun sepertinya petangku akan dirundung oleh ketidakpahaman yang kritis, karena Imam Masjid dihadapanku adalah Syekh itu sendiri.

“”Syekh, rupanya ingatan Anda sebaik penyamaran Anda!”  Jawabku. Syaikh hanya tersenyum, pipinya yang keriput terangkat.

“Syekh, Saya ingin bertanya sesuatu terusan obrolan yang  tidak selesai pada malam itu di kedai.”

“Bertanyalah nanti Anak Muda! Jangan disini,kotaini adalah rumahku, Kau telah memasuki rumahku, Kau tamuku yang harus kujamu dengan baik.”

“Apa yang bisa saya harapkan jika saya menangis? Anda berbicara tentang sakitnya Dunia dan sehatnya Akhirat? Sedangkan Anda memilih meletakkan tangan Anda dibawah! Tidakkah sebaiknya waktu Anda dihabiskan untuk menghujat cara hidup Anda, Syekh?” Pertanyaan ini kutanyakan di Elnasiri  Restaurant, pada Syaikh yang mulai kukagumi.

“Anak Muda! Orang yang sedang ketakutan, orang yang sedang girang, orang yang sedang  kesakitan semua bisa menangis! Bahkan Kau bisa dibuat menangis oleh Allah tanpa melalui sebuah keadaan yang spesial, Akhirat begitu lezat sedangkan dunia sangatlah hambar dan tawar. Berjalanku sudah sangat panjang hampir selesai, Orang yang sudah tua tentu lebih tau banyak tentang penyakit yang meringkihkan daripada orang yang masih muda.”

“Kenapa Anda harus minta-minta, Syaikh?”

“Ada yang belajar disebuah organisasi untuk sekedar menjadi Pengemis! Cara yang seperti itu begitu ribet. Untuk menjadi Pengemis, tidak perlu belajar terlebih dahulu, tidak perlu berkelompok, tidak harus tahu Bagaimana caranya membuat surat yang baik. Ah, benar-benar mudah menjadi Manusia yang tidak berdaulat. Untuk mengamati hilir mudik Manusia yang tidak dibela oleh sistim, hingga kemiringan hidup, aku duduk di emperan Kedai, kemudian semua orang menulisi dahiku dengan Pengemis Tua! Aku tidak pernah mengadahkan tangan keatas, tapi orang-orang yang berlalu-lalang melempariku dengan uang pecahan-pecahan kecil hingga sebatang rokok bahkan sebungkus permen murah, mereka tidak tahu! Anak Muda, kehidupanku berdiri diatas kakinya sendiri, bahkan ribuan kaki bediri diatasnya.”

“Syekh, Anda telah mengajari saya Bagaiamana caranya hidup baik!”

“Anak Muda, supirku akan mengantarkanmu ke Hotel, tempat itu milikku, menghadap ke laut putih. Kau tulis tesismu hingga selesai disana. Losmen murah yang Kau tempati dari kemarin itu terlalu jauh dari perpustaanAlexandria.”

“Terima kasih, Syekh.” Jawabku datar, pada laki-laki tua yang sejak saat itu kusebut sebagai pemenang.

“Anak Muda! Dengan Izin Allah kita akan berjumpa lagi, Kau akan mendengarkan cerita tentang beberapa kunjungan Ahmad Sukarno ke negeri ini.” Janji Syekh, menjelang Adzan Isya berkumandang, sebelum Syaikh meninggalkan Elnasiri  Restaurant, meninggalkan sebuah janji, meninggalkan sebuah paham lama yang hidup kembali.

Biodata Penulis: 
Nama: Hasani Utsman
Facebook: Hasani Utsman
Twitter: @HasaniUtsman
Pekerjaan: Sebagai Mahasiswa Indonesia yang tinggal dan belajar di kota Tanta, Mesir. 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut