Budaya Sambatan dalam Masyarakat Samin

Masyarakat Samin atau Sedulur Sikep merupakan salah satu kelompok etnik yang menetap secara tersebar dari wilayah pedalaman Jawa Tengah hingga bagian barat Jawa Timur. Dua tempat yang menjadi wilayah sentral bagi domisili masyarakat Samin adalah desa Klopodhuwur di Blora dan desa Tapelan di Bojonegoro (Hutomo,1996). Istilah Samin sendiri diambil dari nama leluhur mereka yakni Samin Surosentiko (1859-1914) atau Raden Kohar. Beliau adalah putra dari Raden Surowidjojo dan cucu Raden Mas Brotodiningrat, Bupati Sumoroto yang menjabat dari tahun 1802-1826.

Kisah mengenai masyarakat Samin atau Wong Sikep sebenarnya bermula ketika ayahanda dari Samin Surosentiko, yakni Raden Surowidjojo, yang meninggalkan kehidupan keningratan dan melakukan serangkaian tindakan yang merusak ketentraman para pejabat kolonial Belanda serta kaum priyayi yang menjadi kaki tangan kolonial. Raden Surowidjojo beserta kawanannya kerap merampok para pejabat Belanda dan antek-anteknya untuk kemudian membagikan hasil rampokan tersebut pada kaum pribumi yang melarat akibat kebijakan penjajah ketika itu. Kelompok mereka dinamakan Tiyang Sami Amin. Tindakan raden Surowidjojo ini mengingatkan kita akan kisah serupa seperti Robin Hood dari Eropa maupun Si Pitung dari tanah Betawi.

Raden Kohar, putra raden Surowidjojo, yang lahir pada tahun 1859, kelak meneruskan usaha ayahnya dalam perjuangan menentang kolonialisme dan membela wong cilik. Raden Kohar kemudian lebih dikenal sebagai Samin Surosentiko atau Samin Anom (muda). Sementara Raden Surowidjojo dikenal dengan nama Samin Sepuh.

Perjuangan Raden Kohar dimulai pasca pemberlakuan kebijakan liberalisasi agraria oleh pemerintahan kolonial Belanda tahun 1870. Ketika itu, banyak hutan jati di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang terkena program swastanisasi sehingga mengakibatkan jatuhnya penguasaan dan pengelolaan hutan-hutan tersebut ke tangan pemodal swasta asing. Sementara masyarakat yang berdomisili atau mencari penghidupan di kawasan hutan jati menjadi tergusur atau dikenai berbagai macam pajak oleh pihak pemerintah dan pemilik modal.

Dalam perjuangannya menentang pemerintah kolonial, raden Kohar juga mengembangkan suatu ajaran yang berbasiskan nilai-nilai kearifan lokal Jawa (Kejawen) yang disertai nuansa sinkretisme Hindu-Dharma dengan ajaran Islam versi Syekh Siti Jenar (tasawuf). Oleh karena itu, raden kohar atau Samin Surosentiko dipandang pula sebagai pemimpin spiritual bagi para pengikutnya. Bahkan pada tahun 1907, Samin surosentiko diangkat sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam yang akan membebaskan tanah Jawa dari belenggu penindasan kolonialisme oleh para pengikutnya. Banyak pihak yang menganggap bahwa Saminisme ini merupakan bagian dari gerakan mesianik ratu adil yang memang tengah marak dikalangan masyarakat Jawa ketika itu.

Hal menarik dari perlawanan raden kohar serta komunitasnya tersebut adalah karakternya yang anti kekerasan. Jadi perlawanannya lebih mengambil bentuk pembangkangan terhadap berbagai aturan yang ditetapkan pemerintah Belanda dan antek-anteknya, seperti menolak membayar pajak dan tetap tinggal di area hutan yang telah dikapling oleh para kapitalis asing. Manifestasi perlawanan juga mereka tunjukkan dengan berbicara kasar serta berlaku tidak sopan bila sedang berhadapan dengan pegawai pemerintahan. Bahasa yang mereka gunakan pun adalah bahasa Jawa Ngoko yang dianggap kasar oleh kalangan priyayi. Hal ini berlanjut hingga Indonesia merdeka kini, ketika mereka menolak membayar pajak serta mengikuti berbagai aturan pemerintahan yang mereka anggap tidak banyak berubah dari masa kolonial, yakni lebih berpihak pada kepentingan pemiliki modal dan mengabaikan masyarakat lokal. Penolakan mereka terhadap pembangunan pabrik semen PT. Semen Gresik oleh Pemprov Jawa Tengah di pegunungan Kendeng beberapa tahun silam merupakan salah satu contoh perlawanan mereka terhadap kebijakan pemerintah.

Gerakan Saminisme juga sering dikaitkan dengan ideologi anarkisme yang menolak semua bentuk intervensi otoritas kekuasaan dalam kehidupan komunitas. Tetapi ada pula yang mengidentifikasi Saminisme sebagai gerakan anti kekerasan yang sebenarnya tidak lumrah di tanah Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa di nusantara ini telah ada suatu bentuk gerakan non-violence yang menentang kolonialisme jauh sebelum gerakan serupa muncul di India yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi, dan akhirnya menjadi monumental dimata masyarakat dunia.

Sambatan sebagai Budaya Gotong Royong

Dalam sistem sosial nya, masyarakat Samin mempunyai tradisi unik berkaitan dengan kehidupan agraris yang mereka jalankan. Tradisi itu adalah Sambatan. Sambatan merupakan budaya gotong royong dalam proses produksi pertanian yang dilakukan masyarakat Samin. Inti dari budaya Sambatan ialah aktivitas saling membantu dalam suplai tenaga kerja yang dilakukan oleh beberapa rumah tangga Wong Sikep dengan berlandaskan prinsip timbal balik. Dalam kajian Antropologi Ekonomi hal ini lebih dikenal dengan istilah prinsip Resiprositas.

Prinsip resiprositas tersebut menggantikan pola pengupahan dalam bentuk uang atau barang yang biasa dijumpai dalam hubungan produksi aktivitas ekonomi konvensional. Bila suatu rumah tangga membutuhkan tenaga kerja, maka keluarga yang bersangkutan memohon bantuan dari rumah tangga lainnya. Sebagai imbalannya, keluarga yang telah dibantu pun akan mengerahkan tenaga kerja ketika rumah tangga yang dahulu menolongnya membutuhkan bantuan dalam aktivitas ekonominya. Namun tradisi Sambatan tidak hanya ada pada kegiatan ekonomi atau pertanian saja, tetapi juga berlaku ketika ada suatu keluarga yang sedang mengadakan hajatan atau membangun rumah.

Khusus ketika masuk masa panen, barulah imbalan barang yang berupa sebagian bahan pangan hasil panen diberikan oleh suatu keluarga kepada keluarga lain yang telah membantunya di masa lampau. Karena hampir seluruh keluarga dalam masyarakat Samin melakukan Sambatan, maka yang terjadi adalah saling membagi hasil panen antar rumah tangga sebagai ‘upah’ atas kontribusi masing-masing di masa lampau. Imbalan berupa hasil panen ini disebut Bawon. Bawon juga diberikan pada rumah tangga yang mengalami gagal panen namun tetap terlibat dalam Sambatan di masa lalu.

Tradisi Sambatan tetap bertahan di masa kini meskipun pasca masuknya arus modernisasi dan mekanisasi pertanian sebagai dampak dari Revolusi Hijau pada masa Orde Baru, masyarakat Samin yang semula hanya melakukan pola produksi subsisten kini mulai mengenal pertanian komersil. Namun hal tersebut tidak banyak merubah budaya sambatan dalam masyarakat Samin, yang tetap teguh memegang ideologi warisan leluhur ditengah gempuran kebudayaan asing.

*) Penulis adalah kader GMNI Cabang Sumedang

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: