Kerajaan Fiktif Bermunculan, Gejala Apa Ini?

Situasi ekonomi yang memburuk, ditambah politik yang tak memberi secercah harapan, merupakan ladang subur bangkitnya demagog fasis yang menampilkan diri bak “juru selamat” dengan obat “negara kuat”-nya.

Begitu melayari tahun 2020, bangsa ini dihantam begitu banyak ombak persoalan, dari melonjaknya biaya hidup, korupsi yang merajalela, meredupnya cahaya demokrasi, hingga makin megahnya bangunan oligarki negeri.

Di sela-sela hantaman ombak besar itu, muncul riak-riak: munculnya kerajaan-kerajaan fiktif di seantero negeri. Mulai dari Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jawa Tengah. Kemudian Sunda Empire  (SE) di Jawa Barat. Di Bali, ada yang mengaku pewaris kerajaan Majapahit.

Dan belum selesai derita defisit akal sehat itu, muncul lagi deklarasi baru: berdiri Negara Rakyat Nusantara. Negara baru yang didirikan oleh Yudi Samhudi, bekas caleg partai Gerindra, mengklaim telah membubarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Anda boleh terpingkal-pingkal melihat fenomena ini, bahkan menganggapnya sebuah kegilaan paling menjijikkan di era revolusi industri 4.0 ini. Tapi, saya sarankan, jangan anggap remeh gejala sosial ini.

Tak bisa menyebut fenomena ini sebatas aksi penipuan, seperti kesimpulan Polisi.  Tak bisa juga disimpulkan sekedar sebagai fenomena “neo-tribalisme, yaitu berkumpulnya orang-orang yang punya cara pandang dan emosi yang sama, sebagaimana diyakini sosilog besar UI, Imam B Prasodjo.

Ini lebih sekedar dari itu. Bagi saya, jika masyarakat rasional dan kaum progressif tak waspada, ke depan Indonesia bisa punya Presiden yang lebih gila dan dibanding Jair Bolsonaro di Brazil. Sudah neoliberal, fasis, sinting pula.

Pertama, kemunculan kerajaan fiktif tidak bisa dilepaskan dari konteks ekonomi, sosial dan politik yang mendera sebagian besar rakyat kita sekarang ini.

Situasi ekonomi yang memburuk, ditambah lagi kondisi politik yang tak memberi harapan, membuat sebagian rakyat kita nyaris frustasi dan putus asa.

Namun, sesulit keadaan, pada dasarnya manusia itu pantang menyerah. Manusia modern (homo sapiens) bisa bertahan dan berkembang biak hingga 7 milyar sekarang karena semangat pantang menyerah itu.

Jadi, dalam situasi nyaris frustasi dan putus asa, sebagian orang tetap memiliki harapan. Tetapi harapan itu digantungkan pada kekuatan lain: ratu adil atau juru selamat.

Nah, kalau kita lihat, baik KAS maupun SE sama-sama menjanjikan kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Disamping itu, mereka juga menampilkan diri bak juru-selamat.

Bila sedikit cermat melongok sejarah bangkitnya fasisme, hingga orang-orang seperti Donald Trump, Boris Johnson, dan Jair Bolsonaro, mereka lahir dan tumbuh-kembang di tengah ketidakpuasan atas situasi ekonomi dan politik, lalu mereka tampil sebagai “juru selamat”.

Lantas, kenapa harus ada klaim dari kerajaan besar di masa lalu, seperti Majapahit? Sebab, setiap demagog yang hendak mendaulat diri sebagai “juru selamat” harus menunjukkan kesinambungan silsilahnya dengan kebesaran di masa lalu. Sekaligus untuk memperkuat klaim sebagai “ratu adil” yang sudah ditunggu-tunggu.

Kedua, yang menarik dari femomena KAS dan SE, yang berbeda dengan fenomena nabi-nabi atau rasul palsu, adalah pesan politik yang mereka tunjukkan.

KAS, meski menyebut diri keraton/monarki, tetapi pakaian mereka ada bau-bau militernya. Ada tanda pangkat di pundak dan dada sebelah kiri sang Raja, sinuhun Toto Santoso Hadiningrat. Begitu juga permaisuri, punggawa, hingga prajurit kerajaan.

Kerajaan SE lebih vulgar lagi. Kostumnya sangat mirip militer. Mirip pasukan perdamaian PBB. Lengkap dengan bertumpuk-tumpuk tanda pangkat, lencana, dan lain-lain.

Selain kostum ala militer itu, pesan politik mereka adalah negara kuat, yang berbentuk monarki. Klaim kekuasaan mereka merentang luas lintas negara, bahkan mensubordinasi lembaga-lembaga dunia, Pentagon, dan NATO.

Saya kira, klaim kekuasaan yang superhebat itu hanya retorika demagog untuk menyakinkan para pengikutnya bahwa mereka memang negara kuat.

Tentu saja, jualan negara kuat merupakan obat mujarab terhadap sebagian besar rakyat Indonesia, terutama mereka yang selama ini tidak merasakan kehadiran dan perlindungan Negara atas kehidupannya.

Ketiga,  retorika para pemimpin kerajaan fiktif ini mungkin membuat anda tertawa terpingkal-terpingkal. Menganggapnya lebih lucu dari semua pergelaran stand-up comedy  di seantero negeri. Menganggapnya kebodohan yang tak terampuni dunia-akhirat.

Untuk itu, ingatlah kata-kata Joseph Goebbels, ahli propaganda NAZI yang terkenal itu. Dia bilang, sebuah propaganda yang sukses, bukan karena mengungkap kebenaran, bukan juga karena ilmiah dan logis, tapi yang dipercayai orang. Caranya: sentuh emosi massa dan sampaikan berulang-ulang.

Siapa yang menyangkal kalau Donald Trump bukan demagog tukang bohong? Sebuah data menunjukkan, ada 13.000 pernyataan publik menyesatkan alias bohong yang dilontarkan Trump sejak berkuasa. Tetapi, faktanya, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya masih di kisaran 48 persen. Dan 77 persen pemilih Republik masih percaya padanya.

Kenapa orang percaya pada Trump yang pembohong?

Di saat rakyat terinjak-injak oleh situasi ekonomi, dikesampingkan oleh politik arus-utama, maka harapan mereka satu-satunya adalah: sang juru selamat. Dan Trump menampilkan diri sebagai sang juru selamat, politik pembela rakyat (teruma bagi warga kulit putih AS), anti-kemapanan.

Jadi, selucu dan sekonyol apa pun pernyataan-pernyataan petinggi KAS dan SE, jangan anggap biasa. Ini hanya prakondisi dari kebohongan yang diulang-ulang. Ini hanya jalan untuk pelan-pelan menyingkirkan pikiran yang rasional, logis, dan ilmiah. Setelah itu, politisi demagog akan tampil di panggung.

Ada yang berpendapat, fenomena kerajaan-kerajaan fiktif ini hanyalah mainan intelijen. Tujuannya adalah mengalihkan perhatian masyarakat dan media pada isu-isu besar yang tengah membelit negeri.

Anggaplah dugaan itu benar. Yang tak dapat disangkal, kerajaan-kerajaan fiktif ini memiliki tak sedikit pengikut. Bayangkan, kalau dalam pemilu nanti, si demagog tukang bohong, yang mengaku juru selamat, yang menjanjikan negara kuat untuk obat segala persoalan bangsa, anda yakin dia tak akan memiliki banyak pengikut?

Situasi ekonomi yang memburuk, ditambah politik yang tak memberi secercah harapan, merupakan ladang subur bangkitnya demagog fasis yang menampilkan diri bak “juru selamat” dengan obat “negara kuat”-nya.

Saat debat politik tak lagi menarik untuk ditonton, sementara kelakuan politisi dan partai arus utama makin menjijikkan, maka rakyat menjadi lebih responsif dengan pesan-pesan politik penuh slogan, simbol, dan sensasi. Tidak peduli itu tidak akurat, tidak logis, dan tidak ilmiah.

Apalagi, jika kekuatan progressif dan barisan kaum rasionalnya tercerai-berai, pasif secara politik, dan sibuk dengan menara gading pengetahuannya.

Mari kita ingat kata-kata Amir Sjarifuddin, mantan Perdana Menteri RI di masa-masa Revolusi: “fasisme menang karena kaum demokratnya pengecut!”

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid