Ilusi “Bharatayudha” Dalam Pilpres RI 2014

Cerita klasik dari India dengan judul Bharatayudha, yang merupakan bagian dari epos Mahabharata, mulai diceritakan lagi akhir-akhir ini. Hingga serialnyapun ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional dengan versi terbarunya. Namun, apakah memang ada fenomena peningkatan minat publik pada dunia seni dan sastra yg berkualitas, atau hanya bagian dari strategi marketing politik menjelang Pilpres 2014 saja?

Menurut latar belakang tekstual historisnya, masyarakat India berasal dari pertemuan dua bangsa besar. Yang paling awal menempati daerah dengan julukan anak benua itu adalah bangsa Dravida, suatu kumpulan manusia yang berciri khas fisik rambut “kriwil” dan berkulit gelap/hitam, selain badan yang kekar. Kemudian gelombang kedua datanglah yang sering disebut dengan nama ras atau bangsa Arya. Para ahli menyebutnya setipe dengan ras atau bangsa Jerman maupun Iran. Berciri fisik memiliki postur tinggi, berkulit putih/terang, dan hidung mancung.

Dari sumber yang lain menyebutkan, Arya dalam bahasa sansekerta(di dalam Veda)berarti”Mulia” dan Dravida(Dasyus) menunjukan “wilayah” di India. Jadi, keduanya bukan menunjukkan ras(race)atau bangsa yang selama ini dipahami. Kemungkinan istilah Dravida digunakan untuk menyebut masyarakat yang tinggal lebih dulu (atau sering disebut penduduk asli) di lembah sungai Sindhu,yang memiliki  peradaban metropolis dengan bukti kota Mohenjodaro dan Harappa—dua kota dengan infrastruktur serta pemukiman yang teratur rapi. Sedangkan Arya adalah kelompok orang yang datang kemudian dan dengan peradaban nomaden dan berburu.

Peradaban yang berkembang sebelum kedatangan bangsa Arya diyakini lebih maju dan lebih tua dari Veda yang dibawa bangsa Arya. Meskipun demikian, struktur sosial dan peradaban yang masih berkembang saat ini adalah perkembangan dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya, yang kemudian berkembang menjadi Indo-Arya, setelah proses asimilasi dengan bangsa Dravida, dimana posisi bangsa Arya sebagai superior dan bangsa Dravida sebagai inferior.

Hasil asimilasi kebudayaan dan bangsa itulah yang mendominasi India dalam semua aspek sekarang ini. Hal itu, menurut beberapa sumber, disebabkan oleh terjadinya proses penaklukan dan marginalisasi antar bangsa pada awal perkembangan peradaban manusia dan migrasinya. Mungkin karena berhasil menaklukkan penduduk asli tersebutlah kemudian bangsa yang datang belakangan menyebut dirinya dengan nama Arya. Apa yang terjadi di India bukan tidak mungkin sama dengan yang terjadi di benua Amerika, dimana suku “Indian” ditaklukkan bangsa Anglo Saxon dan Latin, lalu dimarginalkan. Hanya soal waktu yang berbeda saja. Bangsa Arya lebih awal menaklukkan bangsa Dravida di lembah sungai Sindhu, jauh sebelum bangsa Anglo Saxon dan Latin menindas bangsa “Indian”.

Kembali ke cerita Bharatayudha bagian dari epos Mahabharata. Kisah ini menggambarkan peperangan yang terjadi antar saudara. Namun, jika diperhatikan dengan seksama dari uraian di atas, muncul spekulasi bahwa tiap kubu yang berlawanan merepresentasikan masing-masing bangsa di India yang sifatnya dominan. Kurawa adalah cerminan bangsa Dravida, Pandawa adalah cerminan bangsa Arya. Tentunya akan ditemukan berbagai kewajaran dari spekulasi itu, karena yang menuliskan epos Mahabharata pun diyakini memiliki latar belakang bangsa Arya.

Terlepas dari spekulasi tersebut, secara substantif epos Mahabharata merupakan salah satu karya sastra terbesar dan indah sepanjang masa. Penuh dengan nilai-nilai filosofis dan kaya akan pengetahuan dari aspek psikologis, sosiologis, maupun antropologis. Meskipun demikian, tetap harus dicermati bahwa secara sosial-politik dan sosial-ekonomi tidak menggambarkan satu penyelesaian dari tuntutan keadilan sosial yang ada. Perang Bharatayudha tidak pernah menyoal nasib rakyat dan dampaknya pada ekonomi negara di tengah hasrat perebutan kekuasaan dan harga diri. Juga terlalu mengagungkan perilaku kehidupan istanasentris yang menjauhkan kesempatan tiap orang untuk menjadi pemimpin dari bangsanya sendiri.

Menurut pendapat saya, pemimpin bukan diturunkan secara genetik, tapi dibentuk oleh pengalaman dan kemampuan. Syarat selanjutnya adalah dipilih dan diikuti oleh pengikutnya (rakyat). Dalam bahasa yang lain, pemimpin dilahirkan oleh massa. Karena itu, dari perspektif lain, masih lebih berbobot cerita tentang Kumbakarna dalam epos Ramayana, yang menyoal nasib rakyat ketika perang dijadikan salah satu program andalan kakaknya si Rahwana. Perang yang dibalut cerita tentang moral dan etika. Walau berada pada posisi politik yang diyakini salah, Kumbakarna maju berperang sebagai pengabdian pada bangsa dan negara untuk mengurangi beban rakyat negaranya.

Cerita Bharatayudha tersebut akhir-akhir ini sering dipergunjingkan sebagai kiasan dari kontestasi pada Pilpres RI 2014 yang akan datang. Dengan hanya 2 pasangan peserta Pilpres, diinterpretasikan seolah-olah terjadi duel seperti dalam cerita Bharatayudha oleh masing-masing kubu. Semuanya mengklaim bahwa kelompoknyaadalah representasi dari kubu Pandawa tanpa memberikan penjelasan yang rasional dan ilmiah pada publik. Suatu ironi di tengah hasrat berkuasa yang tak terbendung lagi, sehingga mengabaikan etika sosial dan moral yang dianut oleh masyarakat pemilihnya.

Dalam pandangan saya, kontestasi Pilpres RI 2014 sama sekali tidak mirip atau berkaitan dengan cerita Bharatayudha. Namun lebih seperti repetisi/pengulangan tragedi politik nusantara, yakni konflik yang terjadi setelah Hayam Wuruk meninggal, antara Wikramawardhana dan Wirabumi; huru-hara demak yang disulut oleh Arya Penangsang karena dendam dan berakhir dengan duel antara kubu yang dipimpin Joko Tingkir melawan kubu yang dipimpin Arya Penangsang dengan kemenangan kubu Joko Tingkir; huru-hara Mataram yang menghasilkan terbelahnya Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, dan seterusnya. Itu lebih mirip situasi Pilpres 2014 ini.

Pertarungan ego dari 2 kubu yang bercorak nasionalis dengan indikasi adanya “global capital interest” membuat masing-masing pihak lupa bahwa Persatuan Nasional yang kuat lebih dibutuhkan dan bisa diwujudkan jika kedua belah pihak bersatu, dan kemudian menyingkirkan anasir-anasir serta komprador-komprador kepentingan asing yang “membonceng” di masing-masing kubu.

Jika meninjau kembali pada masa paska deklarasi kemerdekaan Republik Indonesia, situasi hampir serupa juga terjadi ketika polarisasi sesama kaum penentang kolonialisme memuncak dan kemudian berujung pada konflik-konflik politik yang menghasilkan disintegrasi bangsa dan negara. Prioritas pada kedaulatan nasional kiranya lebih penting saat ini dalam manajemen pengelolaan SDA dan ekonomi nasional yang berbasis kerakyatan daripada pencitraan diri masing-masing kubu yang bersolek terlalu menor.

Bharatayudha mungkin cocok sebagai dongeng untuk anak-anak dalam rangka pendidikan moral yang humanis dengan batas-batas tertentu (perang sebaiknya tidak diajarkan pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan secara jasmani dan rohani) dan juga hiburan orang dewasa di waktu malam. Tapi, untuk menjadi ilustrasi kompetisi dalam Pilpres 2014, tampaknya terlalu berlebihan. Jika kita menoleh ke belakang pada sejarah peradaban nusantara, cara seperti itu menjadikan kita seolah-olah lupa pada diri kita sendiri. Meminjam kata-kata yang pernah dilontarkan Bung Karno, JASMERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah)!

Salam Gotong Royong

Yoris Sindhu Sunarjan, Komite Pimpinan Pusat – Serikat Tani Nasional (KPP-STN)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut