Bernie Sanders dan Antusiasme Politik di AS

Rakyat Amerika Serikat akan memilih presidennya yang ke-45 tanggal 8 November 2016 mendatang. Konvensi (pemilihan pendahuluan) untuk menetapkan satu kandidat dari Partai Republik dan Partai Demokrat telah dimulai sejak Februari lalu.

Hal yang paling menarik perhatian dari konvensi ini adalah kehadiran dua kandidat yang berposisi berseberangan, yakni Bernie Sanders di sayap Kiri, calon dari Partai Demokrat dan Donald Trump, kandidat dari Partai Republik di sayap Kanan. Selain keduanya, terdapat kandidat lain seperti Hillary Clinton (Demokrat) dan Ted Cruz (Republik). Tapi kedua kandidat terakhir ini tampil konvensional, biasa-biasa saja, tanpa terobosan dalam hal gagasan ataupun pola kampanyenya.

Donald Trump menarik perhatian karena pernyataan-pernyataannya yang provokatif, atau seringkali rasis, terkait imigran dan kaum muslim. Ia berencana mendeportasi 11 juta imigran dan membangun tembok tinggi di perbatasan AS – Mexiko untuk membendung pendatang dari Amerika Latin. Stephen Colbert, seorang komedian, sampai menyindirnya bahwa seharusnya Trump membangun tembok perbatasan berlapis yang diantaranya dibuatkan rawa-rawa berisi buaya.

Ketika terjadi teror bom di Paris, Trump menyatakan akan melarang kaum muslim untuk masuk ke negeri tersebut. Trump berambisi memperkuat militer AS untuk menyerang “kekuatan teroris” di Timur Tengah. Dengan retorika populis-nasionalis ia menginginkan perjanjian perdagangan internasional yang hanya menguntungkan Amerika. Sebagai pengusaha sukses dan orang terkenal di AS, Donald Trump tidak kesulitan untuk meraih popularitas dan membiayai sendiri kampanyenya.

Bagaimana dengan Bernie Sanders? Bernie adalah kandidat yang sesungguhnya tidak diharapkan oleh Partai Demokrat sendiri. Di awal kemunculannya ia hanya dianggap kandidat pelengkap (friendly candidates) untuk meramaikan konvensi partai. Dalam jajak pendapat di awal kompetisi, jarak popularitas Bernie dan Hillary terpaut sangat jauh. Tapi situasi kemudian berbalik di pertengahan kompetisi. Jajak pendapat terakhir menunjukkan bahwa Bernie lebih diunggulkan sebagai kandidat partai Demokrat untuk mengalahkan kandidat Republik, baik Trump maupun Ted Cruz, ketimbang Clinton. Dalam konvensi di tujuh negara bagian terakhir, enam diantaranya dimenangkan Bernie.

Apa yang menyebabkan dukungan untuk Bernie terus bertambah? Baik Bernie maupun Trump sama-sama berhasil menyentuh kegelisahan dan ketidakpuasan rakyat Amerika Serikat atas berbagai persoalan yang dihadapi terutama persoalan ekonomi. Tapi bagi Bernie, alih-alih membatasi imigran atau mengobarkan perang terhadap rakyat di negeri lain, ia mengajukan kritik dan solusi yang tidak biasa bagi publik AS.

Pertama, Bernie Sanders menggugat sistem kapitalisme liberal AS yang telah menciptakan kesenjangan sosial yang sangat parah. Kecaman demi kecaman ia lontarkan terhadap korporasi-korporasi raksasa AS yang menumpuk kekayaan triliunan dolar sementara rakyat semakin kehilangan kesejahteraan. Ia menunjukkan data kelas menengah AS yang terus berkurang dari 35% di tahun 1985 menjadi kurang dari 20-an% di tahun 2015. Demikian halnya penghasilan keluarga Amerika berkurang rata-rata hingga 5.000 dolar dibanding tahun 1999. Kemudian ditunjuk pula data 35 juta warga AS yang tidak memiliki asuransi kesehatan, dan sekitar enam juta anak-anak Amerika yang hidup dalam kemiskinan.

Sementara, di lain sisi, Bernie menunjuk meningkatnya kekayaan korporasi. Menurut Bernie, sebagai contoh, kekayaan lima belas orang terkaya di AS telah meningkat sebesar 170 miliar dolar dalam dua tahun terakhir. Jumlah tersebut setara dengan akumulasi penghasilan 40% rakyat AS di level bawah atau dua kali lipat dari anggaran yang digunakan untuk program nutrisi bagi jutaan rakyat.

Kedua, Bernie Sanders mengkampanyekan program-program kesejahteraan yang cukup radikal sehingga oleh lawan politiknya sering dikiritik sebagai ‘tidak realisitis’. Ia mempromosikan kenaikan upah minimum dari 7 dolar/jam menjadi 15 dolar/jam, pendidikan gratis sampai ke bangku kuliah, peningkatan kualitas pendidikan dasar-menengah, jaminan kesehatan universal bagi seluruh rakyat, serta pembukaan lapangan kerja bagi puluhan juta orang lewat program pembangunan infrastruktur.

Dalam kaitan dengan program sosial ini juga Bernie mengkampanyekan dukungannya bagi hak-hak LGBT, kaum perempuan, serta kelompok minoritas (muslim, kulit hitam, hispanik, dan Indian). Ia mengkritik fanatisme buta terhadap agama (bigotry) yang merendahkan sesama manusia.

Rasionalisasi atas program kesejahteraannya adalah dengan mengenakan pajak terhadap setiap transaksi dan spekulasi di Wall Street serta memangkas anggaran militer. Bernie menolak perang sebagai solusi masalah dunia. Ia menginginkan AS tidak lagi bertindak sebagai ‘polisi dunia’ dan menempatkan perang sebagai solusi yang paling akhir dalam kebijakan luar negerinya.

Ketiga, tidak seperti lazimnya kampanye politik di AS, Bernie menolak sumbangan dari donatur korporasi atau yang dikenal dengan istilah super-PACs. Ia menyebut sumbangan besar-besaran yang diberikan korporasi kepada para kandidat melalui tim lobynya sebagai “kontrol terhadap pemilu”. Sebagai konsekuensi atas kritik tersebut Bernie membuka sumbangan dari warga biasa dalam jumlah yang kecil tapi dengan sukses besar. Di bulan Maret 2016 tim kampanyenya berhasil mengumpulkan 40 juta dolar sehingga total sudah mengumpulkan 140 juta dolar dari sekitar 6 juta individu. Bila dirata-ratakan maka besarnya sumbangan adalah 27 dolar per individu donatur.

Keempat, meski minim liputan, atau bahkan dimusuhi oleh media mainstream, pesan yang disampaikan oleh Bernie bergema di seluruh Amerika khususnya di kalangan kaum muda. Dengan usianya yang tidak lagi muda (74 tahun) lebih dari 80% pemilihnya adalah orang dengan usia antara 19-29 tahun. Bernie selalu menyebut istilah “political revolution” (revolusi politik) dalam pidatonya, dan menyatakan bahwa perubahan sejati hanya mungkin tercipta lewat mobilisasi partisipasi dan persatuan rakyat.

Ia menyebutkan bahwa yang terjadi selama pilpres tersebut bukan semata-mata soal memilih seorang Bernie menjadi presiden tapi bagaimana menciptakan gerakan yang dapat mengubah wajah politik dan ekonomi Amerika. “Ini bukan tentang saya, tapi kita,” kata Bernie. Publik AS yang selama ini menganggap istilah ‘sosialis’ sebagai hal tabu perlahan mulai menerima gagasan “sosialis demokrasi” yang diperkenalkan Bernie. Bila kita telusuri melalui media sosial maka akan tampak bahwa popularitas Bernie Sanders jauh melampaui Hillary Clinton. Bahkan publik di media sosial cenderung menilai Clinton sebagai sosok pembohong yang berpura-pura menjadi progresif ketika melihat kenyataan bahwa isu-isu yang diangkat Bernie mendapatkan dukungan luas dari pemilih.

Kelima, dan ini yang sangat dibanggakan oleh para pendukungnya, adalah konsistensi Bernie dalam berbagai isu yang dikampanyekan. Seperti diketahui, Bernie telah menjadi aktivis hak-hak sipil sejak masih menjadi mahasiswa di Universitas Chicago tahun 1960-an. Di sini ia memimpin protes pemisahan ruangan bagi pelajar kulit putih dan kulit hitam. Ia juga berpartisipasi dalam demonstrasi besar saat Martin Luther King menyampaikan pidato legendarisnya “I have a dream”. Kemudian di tahun 1970-an ia masuk ke dalam politik dengan mencalonkan diri sebagai walikota. Beberapa kali gagal, dan baru di tahun 1981 terpilih sebagai walikota Burlington, negara bagian Vermont. Sejak saat itu ia menunjukkan prestasi-prestas, baik sebagai walikota, anggota Konggres, dan terakhir sebagai Senat.

Ketepatannya berposisi terhadap setiap isu politik membuatnya mendapatkan julukan sebagai orang yang selalu berada di posisi yang tepat dalam sejarah (on the right side of history). Bernie menolak agresi AS terhadap Irak, menolak serangan udara terhadap Suriah, menolak perjanjian perdagangan bebas NAFTA dan TPP, menolak bailout bagi bank-bank raksasa, dan lima tahun yang lalu ia telah mengingatkan kesepakatan perdagangan bebas Panama yang belakangan ini menghebohkan dengan keluarnya dokumen skandal penghindaran pajak oleh perusahaan-perusahaan raksasa.

Saat ini posisi Bernie Sanders dalam konvensi Partai Demokrat masih tertinggal dibandingkan Hillary Clinton. Jumlah delegasi Clinton masih unggul, terutama karena jajaran Partai Demokrat yang menjadi delegasi super (delegasi karena kepengurusannya di partai atau tanpa lewat pemilu) mayoritas memilih Clinton. Tapi kemenaangan beruntun terakhir di enam negara bagian membuka optimisme baru bagi Bernie dan para pendukungnya.

Kita pun berharap negara super power ini akan mengubah wajah politiknya lewat kemenangan Bernie sehingga politik luar negerinya pun akan meninggalkan karakter impreialistiknya. Bagaimanapun, menang atau kalah, Bernie Sanders telah membawa tradisi dan wacana baru yang meluas di Amerika Serikat dalam ajang konvensi ini. Dengan reputasinya dan visinya tentang partisipasi rakyat, tingkat kemajuan (progresifitas) Bernie Sanders bisa dikatakan sudah melampaui Franklin D. Roosevelt, mantan presiden AS dengan program New Deal  yang menolak liberalisme ekonomi. Dikatakan lebih maju, terutama karena Bernie telah menginspirasi jutaan rakyat AS yang selama ini apatis terhadap politik dan membuat mereka lebih terbuka terhadap gagasan keadilan sosial.

Mardika Putera

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut