Amilcar Cabral Dan Perjuangan Pembebasan Nasional

Tanggal 20 Januari lalu, rakyat Afrika mengenang 41 tahun kepergian seorang pejuang terkemuka: Amilcar Cabral. Dia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Guinea-Bissau dan Cape Verde.

Namun, bagi rakyat Afrika, kontribusi perjuangan Amilcar Cabral bukan hanya di negerinya, Guinea-Bissau, tetapi menjalar hingga seantero Afrika. Bahkan menginspirasi bangsa-bangsa dan rakyat tertindas di berbagai belahan dunia.

Cabral dibunuh oleh agen Portugis pada tanggal 20 Januari 1973. Saat itu, di tengah malam yang sunyi, seorang agen Portugis bernama Innocenta Canida, yang telah disusupkan dalam gerakan rakyat Guinea-Bissau selama bertahun-tahun, memberondongnya dengan senjata mesin.

Sekilas Perjuangannya

Kolonialis Portugis menjajah lusinan negara di Afrika, termasuk Guinea-Bissau dan Kepulaun Verde, selama 500-an tahun. Selama itu pula Portugis menjalankan perbudakan dan penjarahan secara sistematis terhadap negeri kecil itu.

Cabral lahir di tengah keganasan kolonialisme itu di Bafata, Guinea-Bissau, pada tanggal 12 September 1924. Ayahnya, Juvenal Lopez Cabral, adalah seorang guru dan pejuang anti-kolonial. Sementara ibunya, Iva Pinhel Evora, adalah seorang buruh di sebuah pabrik pemasok ikan.

Usia 8 tahun, Cabral ikut kedua orang tuanya ke Cape-Verde. Di sanalah ia bersekolah hingga sekolah menengah atas. Tahun 1940, Cape-Verde dilanda kekeringan dashyat. Sebanyak 50.000 tewas. Namun demikian, kolonialis Portugis tidak berbuat apapun. Kejadian itu benar-benar membuka mata Cabral untuk melihat kejahatan kolonialisme.

Pada tahun 1945, Cabral mendapat bea-siswa dari penguasa Portugis untuk belajar di Lisbon. Bea-siswa ini sebetulnya tidak cuma-cuma: penjajah Portugis berharap mahasiswa-mahasiswa cerdas ini bisa dikooptasi dan dijadikan administratur kolonial. Di sana Cabral mengambil studi ilmu pertanian.

Tetapi harapan kolonialis Portugis itu kandas. Di Lisbon, Cabral bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Afrika dari berbagai negara, seperti Augustinho Neto (pejuang kemerdekaan Angola) dan Eduardo Mondlane (tokoh utama Front Pembebasan Mozambik/FRELIMO). Mereka membentuk kelompok studi bawah tanah, yang mempelajari teori-teori politik–termasuk marxisme–dalam rangka menemukan jalan keluar pembebasan negerinya.

Tahun 1950-an, Cabral kembali ke negerinya sebagai sarjana pertanian. Ia melakukan perjalanan ke desa-desa. Yang menarik, proses turun ke bawah (Turba) itu membawa Cabral pada sebuah kesimpulan: strategi land-reform–sebagaimana ditempuh banyak gerakan kiri di berbagai belahan dunia–tidak cocok untuk Guinea-Bissau. Pasalnya, corak utama kepemilikan tanah di Guinea-Bissau adalah kepemilikan tanah kecil.

Sebaliknya, bagi Cabral, penindasan kolonial justru berkontribusi besar dalam menindas kehidupan petani negerinya. Misalnya, penguasa kolonial membuat aturan yang mencekik leher petani, seperti harga jual yang ditentukan penjajah, pajak yang selangit, petani dipaksa menanam tanaman tertentu, dan lain-lain.

Pada tahun 1956, bersama lima kawannya dari Guinea-Bissau dan Cape Verde, Cabral mendirikan partai bernama Partido Africano da Independecia da Guinea e Cabo Verde (PAIGC/Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Cape Verde). Partai inilah yang memimpin perjuangan pembebasan nasional Guinea-Bissau dan Cape Verde.

Awalnya, partai ini bergerak di perkotaan, dengan mengorganisir kaum buruh dan kaum miskin, kemudian merambat ke desa-desa untuk menyeret kaum tani dalam perjuangan. Sebulan setelah pembentukannya, PAIGC mengorganisir buruh di pelabuhan Bissau untuk melancarkan pemogokan. Namun, kolonialis merespon pemogokan itu dengan kejam. Polisi dan tentara dikerahkan untuk menumpas pemogokan itu: 50 buruh tewas dan ratusan lainnya terluka.

Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi Cabral dan PAIGC. Pada sebuah konferensi partai di tahun 1959, PAIGC memutuskan untuk mengambil metode perjuangan bersenjata. Sebagai tahap awal, mereka mengambil taktik gerilya, yang dimaksudkan untuk menstimulasi keadaan agar rakyat memberontak. Taktik gerilya ini efektif untuk menciptakan teritori-teritori yang terbebaskan.

Pada tahun 1964, PAIGC memasuki tahap perjuangan baru,  yakni membentuk sayap bersenjata bernama Angkatan Bersenjata Revolusioner Rakyat (FARP). Tak hanya itu, PAIGC mulai merekrut kaum buruh, petani, kaum miskin, dan anak-muda untuk terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan Portugis.

Perjuangan bersenjata itu efektif. Tahun 1966, PAIGC mengklaim berhasil membebaskan 50% teritori negerinya. Keadaan itu membuat kolonialis Portugis naik pitam. Akhirnya, tahun itu juga, Portugis melipat-gandakan tentaranya di Guinea-Bissau.

Namun, PAIGC tak mau kalah. Taktik gerilya mereka diarahkan makin opensif. Dengan dukungan persenjataan dari negeri-negeri kiri, seperti Kuba dan Uni Soviet, PAIGC makin keras menghantam tentara Portugis.

Tahun 1969, PAIGC berhasil membebaskan dua-pertiga wilayah Guinea-Bissau. Tak hanya itu, di tengah perjuangan gerilya, partai ini juga berjuang membebaskan rakyatnya dari buta-huruf. Hal tersebut membuat PAIGC terus mendapat simpati dari rakyatnya.

Alhasil, pada tahun 1970-an, Portugis mulai mengumpulkan berbagai kekuatan, dengan dukungan Amerika Serikat, untuk menghabisi PAIGC. Pada bulan November 1970-an, Portugis mengerahkan tentaranya dan pasukan bayaran untuk merebut Conakry, Ibukota Guinea, dan membebaskan orang portugis yang ditangkap oleh PAIGC.

Tak hanya itu, Portugis mulai ‘menanam’ agen di dalam tubuh PAIGC, yang bertugas menciptakan keretakan dan perselisihan di dalam tubuh partai revolusioner itu. Lalu, pada tahun 1972, intelijen Portugis (PIDE dan DGS) mulai berupaya membunuh Cabral dan tokoh-tokoh kunci PAIGC lainnya. Tetapi upaya itu menemui kegagalan.

Pada tanggal 8 Januari 1973, setelah pelaksanaan Pemilu di daerah yang dibebaskan, Cabral menyerukan pembentukan Majelis Rakyat Nasional sebagai jalan menuju Proklamasi Kemerdekaan. Namun, rencana itu benar-benar membuat Portugal kalang-kabut. Untuk mencegah upaya itu, pada tanggal 20 Januari 1973, mereka membunuh Cabral.

Kendati demikian, proklamasi Kemerdekaan Guinea-Bissau tidak bisa dihentikan lagi. Tanggal 24 September 1973, Kemerdekaan Guinea-Bissau diproklamirkan.  Luís Cabral, saudara kandung Amilcar Cabral, ditunjuk sebagai Presiden.

Tak lama kemudian, tepatnya 25 April 1974, giliran rezim kolonial Portugal yang kena batunya. Sekelompok tentara yang menyebut dirinya Gerakan Angkatan Bersenjata (MFA), yang sudah muak dengan rezim fasis Salazar-Cateano, melancarkan pemberontakan militer. Rezim Fasis Portugal pun tumbang. Keadaan ini membuka jalan bagi dekolonialisasi semua jajahan portugal.

Faktor Yang Mendukung Kemenangan

Yang menarik, kendati menempuh perjuangan bersenjata, tetapi PAIGC tidak menapikan perjuangan di medan lain, seperti di lapangan ekonomi, politik, kebudayaan, dan pendidikan.

Pertama, di daerah-daerah yang sudah dibebaskan, PAIGC mempraktekkan apa yang disebut demokrasi revolusioner, yakni melalui pembentukan Komite Desa (Comite de Tabanca). Di setiap desa, ada komite yang terdiri dari lima orang. Paling minimal harus ada dua orang perempuan. Komite inilah yang mengatur soal pertanian, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan menyediakan logistik bagi pasukan gerilya.

Kedua, pembentukan koperasi pertanian dan lumbung rakyat. Bagi Cabral, ekonomi merupakan dimensi penting dalam perjuangan pembebasan nasional. Dalam konteks ini, PAIGC mendorong pertanian kolektif dan pendirian koperasi-koperasi pertanian.

Ketiga, PAIGC juga mendirikan pusat-pusat pendidikan dan layanan kesehatan di daerah yang dibebaskan. Di bidang pendidikan, target utamanya adalah memberantas buta-huruf. Di bidang kesehatan, PAIGC mendirikan 177 posko sanitarios (pusat kesehatan). Tak hanya itu, PAIGC juga membentuk Brigade Kesehatan, yang mendorong dokter-dokter berkeliling ke desa-desa.

Keempat, PAIGC membentuk semacam “Pengadilan Rakyat” di daerah yang terbebaskan. Pengadilan ini punya tiga hakim yang dipilih langsung oleh rakyat di desa-desa. Para hakim ini sewaktu-waktu dapat diganti apabila dianggap tidak bisa bekerja sesuai keinginan warga desa.

Bagaimana Memaknai Pembebasan Nasional

Amilcar Cabral juga punya kontribusi penting dalam pendiskusian soal perjuangan pembebasan nasional. Di sini, ia mencoba memberikan jalan keluar terhadap kegagalan sejumlah gerakan pembebasan nasional di berbagai negara bekas jajahan, termasuk negara-negara Afrika.

Di negara-negara tersebut, meskipun sudah merdeka secara politik, tetapi gagal mencapai kemajuan di lapangan ekonomi. Penyebabnya, struktur ekonomi kolonial tidak pernah dirombak total. Akibatnya, negara-negara ini tetap bergantung secara ekonomi-politik ke negara-negara bekas penjajahnya.

Menurutnya, perjuangan pembebasan nasional sebagai sebuah proses revolusi tidaklah berujung hanya pada momen ketika bendera nasional dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan.

Cabral menjelaskan, sebagai sebuah revolusi, pembebasan nasional harus bermakna adanya transformasi kehidupan (bangsa/rakyat) ke arah yang lebih baik (emansipasi).

Pada tahap awal, emansipasi ini harus bermakna kemerdekaan nasional, yang menghapuskan segala bentuk dominasi asing. Dalam realitas politiknya, bangsa merdeka harus pandai-pandai memilih teman dan mendefenisikan musuh dalam rangka memastikan proses emansipasi nasional tetap berjalan.

Dalam “The Weapon of Theory” (1966), ia menegaskan, pembebasan nasional harus didasarkan pada hak setiap rakyat untuk bebas menentukan nasibnya sendiri. Perjuangan ini akan mengembalikan identitas, martabat, dan hak menentukan nasib sendiri orang-orang Afrika yang merdeka.

Aspek kedua dari pembebasan nasional ini adalah pembebasan penuh kekuatan produktif nasional dari segala bentuk dominasi asing dan rintangan sosial-ekonomi imperialistik. Pembebasan kekuatan produktif ini bermakna penentuan cara produksi yang tepat sesuai dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan rakyat, juga sesuai dengan tuntutan pengembangan kebudayaan rakyat, sehingga rakyat punya kapasitas untuk mengembangkan dirinya.

Untuk hal itu, dia mengingatkan, “perlu selalu diingat bahwa rakyat berjuang bukan hanya karena ide, untuk sesuatu yang ada di kepalanya….tetapi untuk keuntungan material, untuk hidup yang lebih baik dan damai, untuk membuat kehidupan mereka lebih baik dan menjamin masa depan anak-anak mereka.”

Artinya, bagi Cabral, perjuangan pembebasan nasional hanya akan bermakna jika membawa perubahan nyata dalam kondisi kehidupan rakyat. Dengan demikian, kemerdekaan akan kehilangan esensinya jika di alam kemerdekaan itu rakyat tetap tertindas dan terhisap, entah oleh bangsa asing ataupun bangsa sendiri.

Cabral juga tidak menapikan aspek pembebasan budaya, yang bertujuan menghapus budaya kolonialis/imperialis dan budaya lokal yang reaksioner. Ia menyerukan agar rakyat kembali kepada kebudayaan mereka sendiri, yang sesuai dengan lingkungan kehidupannya, dengan melempar jauh-jauh kebudayaan asing.

Namun, Cabral juga meyadari, bahwa perjuangan pembebasan nasional tidak bisa dititipkan pada satu tokoh ataupun pada sebuah organisasi politik. Maklum, Cabral menyadari lemahnya ideologi, program politik, dan cita-cita politik dalam gerakan pembebasan nasional. Terang-terangan ia bilang, “jelaslah bahwa perjuangan rakyat akan efektif hanya jika alasan untuk berjuang itu didasarkan pada aspirasi, impian, dan keinginan untuk keadilan dan kemajuan rakyat sendiri, bukan aspirasi, impian, dan ambisi setengah lusin orang atau sekelompok orang yang bertentangan dengan kepentingan rakyat mereka yang sebenarnya.”

Tetapi, ke arah mana perjuangan pembebasan nasional itu? menuju emansipasi rakyat sepenuhnya, itu masih abstrak. Karena itu, Cabral terang-terangan memproklamirkan, “di sini hanya ada dua jalan kemungkinan bagi bangsa merdeka: kembali ke dominasi imperialisme (neo-kolonialisme, kapitalisme, dan kapitalisme negara) atau mengambil jalan menuju SOSIALISME.”

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat – Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut