Angrok dan Warisan Kepemimpinannya

Slompret ngempret

Kempul ngungkul

Kendhang riyel ketipung imbal

Bonang loro tur slendro

Slompret pelog

Jaran kepang nyongklang

Merake iker

Macan mangap megap-megap

Bujangganong kaleyang kiprah

Wus nyata kagungan reyog

Prasaja gawe gembira

—Ki Nartosabdo

Ada satu kisah menarik tentang asal-usul istilah “Rok” pada nama Ken Angrok yang pernah diungkapkan oleh Pramoedya Ananta-Toer dalam salah satu novel sejarahnya, Arok-Dedes. Konon, “Rok” pada nama Angrok itu bermakna seorang yang jago gulat atau gelut dalam istilah Jawanya.

Dalam banyak tangkapan pengisahan sejarah, memang Ken Angrok lekat dengan citra awal yang urakan, jalanan, dan bahkan penjahat. Dari istilah “Rok” dan “Angrok” itulah dapat pula dikatakan bahwa “Angrok” adalah sejenis golongan orang sebagaimana “warok” yang dikenal di daerah Ponorogo, mengingat kesenian reyog itu setidaknya sudah ada pada corak iringan musiknya yang menggunakan dua tangga nada sekaligus (slendro dan pelog), yang konon menggambarkan penyatuan dua wangsa di masa Mataram Kuno, wangsa Sanjaya dan wangsa Sailendra.

Namun, dengan kembali pada interpretasi sejarah Pram, citra urakan Angrok seolah memudar dengan melihat bagaimana Sang Rajasa ini meraih kekuasaan. Bukankah tak mungkin orang dengan latar-belakang yang urakan dapat secara cerdik dan sabar dalam meraih kekuasaan?

Memang, dalam membaca novel sejarah Pram itu, terasa sulit untuk tak menduga bahwa Angrok di situ adalah seperti Soeharto ketika dengan cerdik dan sabarnya membiarkan peristiwa kudeta ’65 yang kemudian menyebakannya dapat menggantikan kedudukan Soekarno?

Bisa jadi citra urakan, jalanan, bahkan penjahat pada Angrok, hanyalah sekedar penjelasan bahwa anak Ken Endog itu bukanlah “ordal” dalam wangsa-wangsa yang selama ini berkuasa di banyak kerajaan-kerajaan Jawa—seperti halnya istilah “sabrang” dalam khazanah pewayangan Jawa.

Setelah Angrok berkuasa terbukti juga bahwa legitimasi kebudayaan para raja Jawa yang selama ini menarik garis kepatutan spiritual pada Wisnu berbelok pada Syiwa, yang kemudian dilanjutkan oleh pendiri kerajaan Majapahit.

Ketika berubah kepatutan spiritual dalam memimpin, maka berubah pula tipe kepemimpinan yang dipegang. Kutukan seorang Empu Gandring dan kepedihan anak-anak Dedes dan Ametung bukanlah sebuah persoalan yang besar pada tipe kepemimpinan yang disuguhkan dan diwariskan oleh Ken Angrok. Dan terbukti, pada masa Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit, kontribusi Ranggalawe, yang terbantai di Sungai Tambakberas, dan penyisihan diri Sang Arya Wiraraja di Madura, adalah beberapa konsekuensi yang mesti dituai oleh tipe kepemimpinan ala Angrok.

Di sinilah “politik balas budi” atau “politik etis,” yang dikenal baik dalam kebudayaan Barat (yang pernah dicetuskan oleh Belanda) dan Timur, seolah bukanlah sikap politik yang mesti dipegang ketika hendak dan sedang berkuasa. Ketika Belanda saja yang dikenal sebagai bangsa penjajah dapat melihat apa yang dikenal sebagai “budi pekerti,” apalagi orang-orang nusantara yang konon sangat pandai dalam menimbang apa-apa yang terbit dari “budi,” yang bahkan pun dalam titik terkejamnya.

Pada istilah “budi” tentu saja orang tak sekedar menemukan apa yang dikenal sebagai “sopan-santun,” namun juga berbagai hal yang bisa jadi menopangnya ketika sedang berdiri dan menahannya ketika sedang rebah. Dengan demikian, warisan kepemimpinan Angrok adalah sejenis kepemimpinan yang berpotensi membunuh dirinya sendiri, atau setidaknya mempermalukan dirinya sendiri.

Penulis : Heru Harjo Hutomo

Foto : Wayang beber versi ken arok

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid