Kebo Anabrang: Pengawal Persatuan Nusantara

Sebelum Laksamana Adipati Unus yang  juga dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor, berlayar ke utara pada tahun 1512  Masehi,  mengusir Portugis yang telah menduduki Malaka sejak 1511,   Laksamana (Mahisa) Kebo Anabrang, dua setengah abad sebelumnya sudah berlayar ke utara;  “dengan membawa panji-panji merah dan putih… bertolak dari Tuban.”  (Smi:72); membawa misi dan visi Raja Kertanagara dari Singhasari yang kemudian terkenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu: melakukan kampanye milter ke negeri-negeri Melayu untuk bersama menghadang perluasan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Yuan-Mongol. Sabrang dan Anabrang adalah dua kata Jawa yang berarti sama: menyeberangi lautan utara (Lor) Jawa sebagai wujud kedaulatan dan kemerdekaan yang nantinya setelah jatuhnya Malaka ke VOC Belanda (1640) menjadi tidak mudah untuk diseberangi. Bila benar, Merah Putih adalah panji-panji Kediri, barangkali tulang punggung utama Ekpedisi Pamalayu itu adalah legiun Kediri yang nantinya, ironis, juga menjadi tulang-punggung penggulingan Kertanagara. (Lihat juga: Kartawiriaputra 1976:16)

***

Ekspedisi Pamalayu yang berangkat dari Tuban  dengan diantarkan oleh Patih Mahisa Anengah dan Panji Angragani itu menurut Kidung Panji Wijayakrama banyak didukung pemuda bahkan sebagai akibatnya:  sanggup mengosongkan Kota Singhasari. Antusiasme pemuda dalam mendukung revolusi politik yang digaungkan  Kertanagara yang memecah kebekuan politik di Jawa itu meluap-luap sebagaimana ciri khas pemuda yang menaruh pada harapan yang ideal tanpa pamrih  bahkan  pun bila dituduh karena digerakkan oleh keinginan merebut putri (-putri) Melayu (yang akan dikawinkan dengan Raden Wijaya ) sebagaimana disampaikan dalam Kidung Harsa Wijaya. (Muljana 2012:157). 

Mungkin suasananya seperti Revolusi 1945 yang banyak didukung  tanpa pamrih oleh kaum muda sebagaimana tafsir Ben Anderson dalam bukunya yang legendaris Revolusi Pemuda. Ekspedisi Pamalayu pun menemukan beberapa keberhasilan yang ditandai dengan dikirimkannya patung Amoghapasa ke Melayu pada 1286  sebagai simbol persahabatan dan perlindungan penuh kasih dari Singhasari. Kemenangan di negeri Melayu ini mungkin dipermudah oleh situasi geopolitik yaitu adanya serangan orang-orang Thai ke Semenanjung Melayu yang membuat Kerajaan Melayu kehilangan dukungan potensial. Kemenangan ini mau tidak mau juga membuat Sriwijaya yang sudah merosot kekuasaannya itu  semakin tidak berkutik dan tak ada kemungkinan dapat membangun aliansi dengan Kubilai Khan.

***

Dengan tugas besar Ekspedisi Pamalayu itu, Kebo Anabrang mungkin tidak mengira bila nasibnya sebagai Panglima Ekspedisi Pamalayu yang diberangkatkan pada 1275 dengan upacara megah nan perwira,  tidak berakhir di Seberang atau pun di lautan menghadang pasukan laut Kubilai Khan tapi justru di darat, di Sungai Tambak Beras, setelah bergulat mengalahkan tentara muda pemberontak  yang lagi naik daun: Rangga Lawe, 20 tahun kemudian, 1295, yang lamat-lamat barangkali ia mencium bau busuk persekongkolan mengubah kebijakan Sang Prabu yang menetapkan bayi Jayanagara sebagai putra Mahkota Kediri di tahun 1295. Barangkali Kebo Anabrang mengingat-ingat: pengusiran tentara Tartar berlangsung pada 24 April 1293. Jadi kedatangan Dara Petak dan dirinya di Majapahit berlangsung kira-kira  4 Mei 1293. Satu tahun kemudian Dara Petak melahirkan Jayanagara karena nama Jayanagara telah tercantum pada Prasasti Penanggungan atau Sukamerta, … menyatakan bahwa Jayanegara diangkat sebagai Yuwaraja di Kediri pada tahun 1217 Saka (1295 Masehi). Pada waktu itu Jayanagara baru menginjak usia dua tahun.

Protes terhadap pengangkatan Nambi sebagai mahapatih hanyalah alasan saja: tujuan utama adalah menyingkirkan kemungkinan kekuasaan jatuh ke “orang-orang trah Sumatera” melalui bayi Jayanegara (yang merupakan hasil persatuan Jawa dan Sumatera) sebagaimana Berg menunjukkan dengan yakin asal-usulnya terletak pada perselisihan antara dua golongan: mereka yang menyenangi persekutuan suci Kertanagara dan mereka yang menentangnya … Pemberontakan Rangga Lawe mulai karena tahun 1295, Jayanegara, anak bayi permaisuri Dara Petak dari Sumatera itu, diberi gelar Putera Mahkota Kediri, yang dapat disamakan dengan “Prince of  Wales” Inggris di Jawa. Anak dari Ibu dari Melayu itu dengan demikian  diberi pengakuan resmi sebagai Raja Jawa di masa datang. Lagi pula, pada tahun itu juga raja mulai sakit yang tak kunjung sembuh, dan Dara Petak untuk sementara menjabat Raja sementara selagi anaknya masih kecil. Pemberontakan-(pemberontakan) itu suatu tanda anti-patinya orang Jawa terhadap ratu asing dan penasehat-penasehat  orang dari Sumatera itu.  (Hall 1988:79)

Barangkali dalam kerangka itu Kebo Anabrang sang pelindung dan penasehat Dara Petak dan Dara Jingga adalah target yang bagaimanapun caranya harus disingkirkan dan dibunuh. Kematiannya menurut cerita yang beredar ditusuk keris dari belakang oleh  Lembu Sora sesama punggawa Majapahit dan juga komandan utama penumpasan pemberontakan Rangga Lawe tetapi sekaligus merupakan paman Rangga Lawe yang tidak tega melihat keponakannya itu disiksa Kebo Anabrang dengan bolak-balik diangkat dan ditenggelamkan kepala Rangga Lawe ke air sungai.  Barangkali sambil menenggelamkan kepala Rangga Lawe dan mengangkat kembali kepalanya ke atas air, Kebo Anabrang berkata jengkel: “Kau pikir kau ini siapa?  Baru berjasa sedikit  dan sebentar  saja ke Majapahit-Singhasari, sudah aeng-aeng menuntut ini itu semaumu sendiri. Nggak kau lihat diriku, Cuk! 18 tahun di Nusantara, Seberang, membangun persatuan nusantara membesarkan Majapahit, mewujudkan cita-cita Prabu Kertanagara?!” 

Kejengkelan Kebo Anabrang bisa jadi sudah dimulai ketika (berdasarkan Prasasti Kudadu, 1294), Rangga Lawe (jika benar  sama dengan Aria Adhikara) telah diangkat Wijaya sebagai Rakrian Mantri Nusantara,  yang otomatis  membuatnya merasa tidak penting di hadapan Majapahit (penerus Singhasari) dalam urusan Nusantara (Seberang) walau tujuh belas tahun ia di sana berjuang.

Meski begitu Kebo Anabrang menerima keputusan Wijaya dan tidak memprotes membabi buta sebagaimana Rangga Lawe, Rakrian Mantri Nusantara, memprotes keputusan Wijaya mengangkat Nambi sebagai mahapatih dan menganggap jasa Nambi yang kecil dan tidak becus sambil menyodorkan pamannya: Lembu Sora yang lebih kompeten, lebih setia, lebih berdarah-darah dalam “pertempuran melawan tentara Daha, dalam pengembaraan ke Sumenep,  dan dalam pengusiran tentara Tartar dari Majapahit” tetapi hanya diberikan kedudukan sebagai Patih Daha.

“Ah, kau sendiri, Lawe, tahu apa tentang Seberang?  Baru menyeberangi Selat Madura ke Ibu Kota dengan perahu gethek saja bisa dipercaya Prabu Kertarajasa jadi Menteri Urusan Seberang?” Barangkali begitu batin Kebo Anabrang.

Tak cukup sampai di situ. Sebagaimana dikisahkan dalam Kidung Rangga Lawe, Rangga Lawe terus berbicara  menumpahkan  padangannya terhadap masa depan Negara Majapahit hingga seakan Wijaya menjadi orang bodoh sebagai raja dalam memilih anggota kabinet  Majapahit Berdaulat, Adil dan Makmur. Rangga Lawe pun nekad menyodorkan diri-sendiri kalau Lembu Sora dianggap tidak memenuhi syarat dan juga memajukan diri sendiri sebagai orang  yang paling penting di hadapan Sang Prabu dalam  membangun Negara: “Tanpa bantuan Lembu Sora dan Lawe, negara cepat atau lambat akan runtuh!” ujar Lawe. (Muljana 1983:135)

Mendengar ucapan lancang Rangga Lawe itu, Mahisa Anabrang yang  juga sudah sentimen dengan Rangga Lawe  dan “tidak sabar  melihat tingkah laku Lawe. Dengan menuding-nuding ia menantang Lawe. ’Lawe, jika engkau jantan, pulanglah! Kumpulkan para pengikutmu dan angkat senjata!’ Mendengar ucapan itu Rangga Lawe, yang juga Adipati Tuban itu, menepuk paha, segera berdiri, tanpa pamit meninggalkan paseban, menuju gardu penjagaan. Membuka bajunya, tangan kanannya  diletakkan di atas dahan, sambil berdiri, tangan kirinya bertolak pinggang. Ia menunggu Nambi keluar paseban. (Muljana 1983:136).

Melihat protes dan ancaman Lawe itu, Sang Prabu meminta nasehat kepada Lembu Sora:

“Seandainya Nambi diganti saja oleh Lawe.”

“Sri Baginda, jangan begitu! Hamba takut akibatnya. Pasti Lawe akan menuduh bahwa orang-orang Majapahit takut mati. Jangan dituruti kehendak Lawe! Baginda akan kehilangan wibawa. Tidak usah menaruh belas kasihan kepada Lawe, karena tingkah lakunya memang kurang ajar. Selama masih ada Mahisa Anabrang dan hamba, pasti Lawe akan dapat segera dimusnahkan!” balas Sora (Muljana 1983:136). 

Lawe tetap pada keputusannya sendiri melawan keputusan raja. Pasukan penumpas Lawe pun  dikerahkan. “Sri Kertarajasa setelah mendengar laporan tentara Majapahit menderita  kekalahan, bertekat untuk mengambil alih pimpinan. Ia bergerak menuju Wirakrama dengan membawa pasukan sebanyak sepuluh ribu… Sora memberi nasihat untuk mengepung tentara Tuban dari tiga jurusan, dari timur, barat dan utara. Masing-masing pasukan di bawah pimpinan Mahisa Anabrang, Gagak Sarkara dan Mayang Sekar.  Pasukan yang menyerang  dari jurusan timur di bawah pimpinan Mahisa Anabrang segera terlibat dalam pertempuran.  (Muljana 1983:139)

***

Barangkali  pada saat pertarungan hidup mati antara Rangga Lawe versus Kebo Anabrang itu, Rangga Lawe walau sudah beristeri dua, baru berumur 35 tahun sementara Kebo Anabrang sudah menginjak 55 tahun dengan karier yang tidak secemerlang sebagaimana mereka yang disebut sahabat-sahabat atau orang-orang dekat Wijaya itu. Namanya barangkali populer sebagai komandan Ekspedisi Pamalayu dan di Seberang sebagai penakluk negeri-negeri Melayu tetapi inti kekuasaan sudah berpindah ke Wijaya Majapahit bukanlah di Kertanagara, tuannya dahulu yang sudah terbunuh. Jadi ia masih perlu menyesuaikan dengan lingkaran kekuasaan yang baru. Bagaimanapun Wijaya bukan Kertanagara.   

Jadi, memang nama Kebo Anabrang dan kariernya tidak bisa dipisahkan dengan cita-cita Raja Kertanagara yang dalam berbagai catatan adalah raja yang punya visi persatuan nusantara untuk menghadang angkara murka Kubilai Khan. Kerja menghadang Kubilai Khan ini dimulai dengan program Ekspedisi Pamalayu di tahun 1275 yang langsung mengangkat nama Kebo Anabrang di panggung kemiliteran nusantara sebagai Laksamana Singhasari yang akan merajai lautan setelah ditinggalkan Sriwijaya yang sudah tidak berdaya akibat serangan kilat dan menyeluruh Raja Chola di seluruh kota Pelabuhan Sriwijaya termasuk jantungnya: Palembang dan berhasil menawan raja.

Pada tahun itu juga, 1275, armada putra mahkota Dinasti Song berhasil dihancurkan armada laut Mongol. Raja Mahkota digendong oleh seorang jenderal terjun ke dalam laut. Demikianlah seluruh kekuatan Tiongkok berhasil dipatahkan. Kubilai Khan menguasai seluruh Tiongkok, menyebut dirinya putra langit dan mengambil nama Yuan untuk dinastinya. (Muljana 2012:153).  Di tahun itu juga, 1275, Kubilai Khan mempekerjakan Marco Polo, yang nanti di tahun 1292,  dalam perjalanan pulang ke Italia sambil menjalankan perintah terakhir Kubilai Khan yaitu mengawal  pengantin putri ke Persia, ketika singgah di Samudra dan menelusuri sebagian pantainya, mestinya bisa saling berhadap-hadapan dengan pasukan Kebo Anabrang.

Kemudian,  sebagaimana disampaikan  Apriadi Ujiarso , “Pada 1276,  Jenderal Bayan, sang komandan armada laut Tatar, mengundang dua mantan bajak laut, Zhu dan Zhang untuk bergabung dalam angkatan laut Tatar. Zhu dan Zhang datang dengan 500 kapal sebagai angkutan pasukan berkuda negeri Tatar yang terkenal sangat tangguh ke pusat pertempuran di Hangzhou. Pada titik waktu ini, negeri-negeri di selatan Tiongkok, tidak ada lagi yang meragukan visi Kertanagara bahwa cepat atau lambat setan Tatar pasti akan menebarkan ancaman ke negeri-negeri mereka.” (Ujiarso 2022:64).  Di sinilah pentingnya Ekspedisi Pamalayu tahun 1275 dilihat sebagai rekomendasi yang jernih dari Kertanagara dalam membaca situasi geopolitik waktu itu.  

***

Kita pun bisa membayangkan: barangkali perang laut dahsyat akan terjadi di  laut Jawa bagian timur antara angkatan laut Singhasari melawan angkatan laut Mongol di akhir abad ke-13 M, tetapi perang laut itu tidak pernah terjadi. Peran Kebo Anabrang sebagai panglima Ekspedisi Pamalayu dalam menghadang Kubilai Khan di lautan juga tidak disebut-sebut sehingga timbul pertanyaan: apa sebenarnya program Ekspedisi Pamalayu bahkan Marco Polo di tahun 1292 bisa berlayar bebas di lautan yang tak jauh dari Jawa. Apakah Kebo Anabrang tidak tahu Marco Polo adalah agen Kubilai Khan?

Ketika Pasukan Mongol itu menyeberangi lautan menuju Belitung, (mungkin  juga singgah  di Bangka), tidak ada sama sekali insiden di lautan diceritakan; bahkan ketika mereka memperbaiki kapal dan membikin kapal-kapal kecil di Belitung untuk menyusuri Kali Mas. Mereka tinggal di Belitung selama hampir 3 bulan juga tidak ada gangguan hingga mereka berlayar menghancurkan Tuban. Di mana Kebo Anabrang, Panglima Laut yang dipuja dan dielu-elukan di Tuban 17 tahun yang lalu?

Karena kosong dalam cerita tradisi dan fakta-fakta belum ditemukan, dalam Novel Menghadang Kubilai Khan, (Susmana 2021:306), kusampaikan bahwa Kebo Anabrang adalah penjaga lautan yang setia pada penerus Kertanagara, Dyah Wijaya, yang membuat seakan-akan Jayakatwang adalah seorang tawanan pulau yang membuatnya tidak berkutik  dan  tidak mendapat informasi perkembangan apapun dari luar. Karena itu tidak bisa bernegosiasi dengan Mongol. Dan Kebo Anabrang bertugas untuk sewaktu-waktu mengabarkan perkembangan armada Mongol ke Jawa;  tidak boleh menyerang sebab Wijaya akan  menggunakan pasukan Mongol mengalahkan Jayakatwang yang merupakan musuh ideologis dan politik Kertanagara.

Walau mungkin bagi sebagian telinga sebagaimana pendapat Berg:  “… bahwa  expedisi perangnya agak luput mencegah armada Mongol di luar pantai Kalimantan. Langkahnya  bukti yang dapat menyimpulkan bagian ini,  Pamalayu dimaksudkan bergerak dalam rencana keseluruhan berhubung dengan ancaman Mongol itu,  maka spekulasinya semua terlalu mudah. Jika tujuan akhirnya untuk menggerakkan perlawanan yang sebenarnya, terhadap expedisi yang diharapkan, maka tidak efektif, karena gagal mencegah pasukan Mongol mendarat di Jawa. (Hall 1988:76)

Tetapi bisa jadi, sebenarnya Singasari belum memiliki angkatan laut yang sekuat Sriwijaya pada masa jaya-jayanya di lautan. Sehingga, strategi yang disiapkan Kertanagara dalam menghadang Kubilai Khan, sebenarnya adalah perang darat bukan perang laut. Ekspedisi Pamalayu itu berarti mengirimkan pasukan darat sebanyak mungkin untuk menduduki tempat-tempat yang mungkin akan disinggahi Pasukan Mongol seperti Champa, Bakulapura (Tanjung Pura, Kalimantan Barat), dan Jambi sambil mengisolasi Sriwijaya. Jadi, perang daratlah yang akan menentukan kemenangan sebagaimana  keyakinan Jenderal Hario Kecik, 688 tahun kemudian yaitu di tahun 1963 jika benar-benar terjadi perang konfrontasi dengan “neokolonialis” Inggris dalam proyek Ganyang Malaysia.  Dengan adanya pelatihan dasar militer para manajer Koperasi Desa Merah Putih dari seluruh desa di Indonesia di 2026,  apakah ini juga merupakan penyiapan strategi utama perang darat di tengah geopolitik dunia yang bersiaga perang?

Sayangnya, strategi ini diketahui Kubilai Khan sehingga memutuskan untuk tidak berhenti sama sekali atau singgah di mana pun, tetapi langsung menuju Belitung yang mungkin dianggap daerah aman karena masih dalam pengaruh Sriwijaya.

“Shi-pi (komandan utama misi penghukuman ke Jawa) menempuh perjalanan 4000 Km menuju Jawa secara non-stop. Strategi ini memang berbahaya — ‘Angin sangat kencang dan laut tak bersahabat sehingga kapal terombang-ambing dengan hebat dan prajurit tak bisa makan selama berhari-hari’ – namun akhirnya berhasil. Shi-pi mendaratkan pasukannya pada 1293, dan tak mendapat perlawanan karena saat itu Kertanagara sibuk berperang melawan Kerajaan Kediri dan terbunuh. Seluruh pasukannya bertempur di  selatan. (Man 2010:317)

Sriwijaya sendiri dalam hal ini Palembang,  sebagai akibat dari diplomasi politik  Majapahit dan Ming, “Pada 1410, pemerintah China (Dinasti Ming) … secara resmi berpihak kepada Jawa  (baca: Majapahit) untuk melawan Malaka yang menuntut kedaulatan atas Palembang .. Artinya, keunggulan Jawa atas Sriwijaya disahkan secara pasti – suatu hal yang disengketakan dan tak terselesaikan sejak ekspedisi Kertanagara dari Singasari tahun 1275 melawan Melayu.” (Suryadinata 2007:115)

***

Tetapi jelas di telinga Jawa, Kebo Anabrang tidak punya peran penting dalam hiruk-pikuk dan kala penting mengusir pasukan Mongol bahkan ketika pasukan Mongol juga sudah terbirit-birit di  darat dan terburu-buru  di laut melajukan kapal meninggalkan Hujung Galuh.  

Yang terjadi justru menurut Pararaton,…sepuluh hari sesudah pengusiran tentara Tartar, Mahisa Anabrang, panglima ekspedisi militer ke Tanah Melayu pada tahun 1275, pulang membawa dua orang puteri bernama: Dara Jingga dan Dara Petak. Barangkali Kebo Anabrang tidak terlibat dalam pergulatan di hari-hari penting mengusir Mongol dikarenakan kesulitan mengamankan negeri-negeri Melayu yang sebagian di utara, (seperti Aceh dan sekitarnya) sebagaimana dilaporkan Marco Polo sudah tunduk kepada Khan Agung. Atau bisa jadi Kebo Anabrang juga seorang politisi  wait and  see yang menunggu dan melihat situasi : siapa yang menang : Wijaya, penerus Kertanagara dengan politik progressif atau Jayakatwang, politisi tradisional dengan kenangan kejayaan masa lalu leluhurnya.

Siapa yang memenangkan pertarungan menjadi basis untuk menentukan sikap. Begitu yakin Wijaya dipastikan menang dan aman untuk kembali ke pentas politik Jawa setelah Jayakatwang dikalahkan, Kebo Anabrang pun pulang bukan dengan tangan hampa tetapi  dengan membawa barisan  baru untuk meletakkan dasar persatuan Jawa dan Sumatera yaitu kartu truf dua putri dari Melayu sebagai sumbangan  perjuangan untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kejayaan Majapahit sebab dengan dua putri Melayu itu Majapahit telah menguasai daerah-daerah penting yang diperjuangkan Kertanagara sebelumnya.

Kebo Anabrang jelas berbeda dengan para panglima Ekspedisi Pamalayu lainnya seperti Indrawarman dan Singawarman, yang memilih menjadi raja-raja kecil daripada tetap menjadi bagian dari visi Kertanagara di bawah panji Majapahit.  Panglima Indrawarman mendirikan Kerajaan Silo jauh di pedalaman Simalungun  yang nantinya di waktu pemerintahan Perdana Menteri Gadjah Mada  (1331-1364), angkatan bersenjata Majapahit mendirikan kerajaaan Pagarruyung di Minangkabau dan memusnahkan keradjaan Silo di Simalungun. (Parlindungan 2007:452)

Ketika menggambarkan kenaikan Wijaya ke takhtanya, Pujangga Prapanca yang mengabdi kepada cucu Wijaya, Hayam Wuruk,  menulis,  “Seluruh Jawa takluk pada pemerintahannya dan bersukacita karena perkawinan sang raja dengan keempat putri Kertanagara”. Padahal “agaknya tidak mungkin putri-putri Kertanagara selamat dari bencana besar yang terjadi setelah serbuan Kediri yang mendadak itu, tapi kita tahu bahwa Wijaya mengawini putri Sumatra”  (Vlekke 2016:64) yang dibawa Kebo Anabrang.

Membawa (dua) putri ini bagi pembaca generasi berikutnya seakan bukanlah tindakan heroik dibandingkan dengan Rangga Lawe dan  kawan-kawannya yang bertempur dan berdarah-darah mengusir Mongol: lelananging jagad. Tindakan ini seakan kedengaran sama dengan bagaimana seorang tokoh komunis yang diejek Hario Kecik karena tergopoh-gopoh terbang dari Belanda ke Surabaya demi menyelamatkan seorang putri di tengah pertempuran mengusir bala tentara Inggris, salah satu pemenang Perang Dunia II, dari tanah daratan yang 733 tahun yang lalu Rangga Lawe dan kawan-kawan mengusir bala tentara Mongol.

Kematian Kebo Anabrang yang ironis, sebagai Laksamana Agung Singasari  yang 17 tahun hidupnya dipersembahkan untuk menaklukkan Melayu (Sumatera) demi visi besar politik luar negeri Kertanagara berakhir dengan menyedihkan di aliran dangkal Sungai Tambak Beras. Tragis dan tragedi, begitulah Mahisa Anabrang, yang seakan tidak perlu dikidungkan dengan penuh hormat dan khidmat sebagaimana kematian Rangga Lawe yang dimuliakan dan dipahlawankan sebagai pemberontak pengganggu yang mulia bahkan sebuah Universitas didirikan dengan mengambil namanya, nama yang diberikan Wijaya ketika menemukan pemuda yang bersemangat di tengah pelariannya.

***

Kebo Anabrang benarkah sanggup mengarungi lautan nusantara hingga Tumasik Singapura, barangkali juga sampai Champa  dan menyeberangi bahaya menghadang Kubilai Khan?  yang mengirimkan  “…1000 kapal, 20.000 prajurit, cadangan makanan … setahun, 1000 kg perak untuk membeli perbekalan baru.” (Man 2010:316).  Meskipun, menurut Tan Ta Sen, “Tanpa alasan jelas, Kubilai Khan mengubah secara drastis rencana yang telah disusun rapi itu pada menit-menit terakhir.  Jumlah serdadu dikurangi menjadi hanya 5.000 dari 20.000 serdadu, hanya seperempat dari rencana semula. Dengan rintangan amat kritis, 5.000 orang serdadu bersenjata lengkap ini diberangkatkan dari Quanzhou pada bulan ke-12 tahun 1292 dan tiba di perairan Jawa pada bulan pertama tahun 1293. (Sen 2018:262).

Misi ke Jawa itu pun ditegaskan lagi oleh Kaisar Kubilai sebagai misi penghukuman  sebagaimana pesan Kaisar sebelum pasukan diberangkatkan: “Setibanya di Jawa, kalian harus memproklamasikan dengan jelas kepada tentara  dan penduduk negara itu bahwa pemerintahan kekaisaran sebelumnya telah melakukan kontak dengan Jawa melalui para utusan dari kedua belah pihak. Hubungan  ini telah berjalan dengan harmonis. Baru-baru ini mereka telah melukai wajah utusan kaisar  Meng Qi dan kalian datang untuk menghukum mereka akibat perbuatan itu.” (Groeneveldt 2018:26)

Yi-k’o-mu-su yang di telinga Jawa menjadi Ike Messe  yang berangkat berperang ke Jawa pun “mengirim Cheng-kuei untuk memberitahukan perintah-perintah maharaja kepada Mu-lai-yu dan kepada kerajaan-kerajaan kecil yang lain. Semuanya (raja-raja dari negeri-negeri ini) mengirimkan putra atau saudara-saudaranya untuk menyatakan ketaklukan mereka. (Coedes 2010:277)         

Tidak ada cerita sepak terjang Kebo Anabrang di telinga Jawa;  tidak  ada perang laut antara pasukan Laksamana Kebo Anabrang melawan  Laksamana Ike Messe yang dikenal sebagai penjelajah dan petarung lautan Asia Tenggara hingga India. “Sang laksamana, orang Uyghur  dari wilayah barat laut yang jauh adalah nakhoda, navigator dan diplomat berpengalaman yang telah menyelesaikan empat misi di luar negeri tetapi belum pernah melakukan sesuatu yang skalanya sebesar ini. Inilah saatnya dia bersinar. (Linde 2026:150) Yang ada hanya sedikit cerita  di Kidung Rangga Lawe bahwa segera sesudah terlibat  dalam pertempuran melawan tentara Rangga Lawe, Mahisa Anabrang  kehilangan kudanya, tentara Majapahit dipukul  mundur. Mahisa Anabrang yang berhasil melepaskan diri dari maut,  menghadang Lawe di tepi Sungai Tambak Beras bersama kuda barunya merendam di dalam air, untuk menyegarkan kembali badannya. Secara mendadak Lawe, yang mengendarai Nila Ambara menyambarnya. Kuda Nila Ambara kena tusuk tombak. Lawe jatuh ke dalam air, namun berhasil memanjat karang padas. Mahisa Anabrang menariknya kembali ke dalam air. (Muljana 1983:139)

***

Begitulah. Setelah kalah bertarung melawan Rangga Lawe di daratan, Kebo Anabrang lari menyelamatkan diri; lalu menghadang Rangga Lawe di sungai. Kebo Anabrang jagoan bertarung di dalam air. Di sanalah, Kebo Anabrang  menenggelamkan Rangga Lawe.

*****

AJ Susmana,

Sanghyang, 31 Juli 2026

Referensi:

  1. Coedes, George. (2010).  Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, Gramedia, Jakarta.
  2. Groeneveldt, W.P. (2018). Nusantara dalam Catatan Tionghoa, Komunitas Bambu, Depok.
  3. Hall, D.G.E. (1988).  Sejarah Asia Tenggara, Usaha Nasional, Surabaya. 
  4. Kartawiriaputra ,Suwarno. (1976).  Wijaya Pendiri Kerajaan Majapahit, Penerbit Tarate, Bandung
  5. Linde, Herald van Der. (2026). Majapahit, Intrik, pengkhianatan dan Peperangan  Di Kerajaan Terbesar Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
  6. Man, John. (2010). Kubilai Khan, Pustaka Alvabet, Tangerang.  
  7. Muljana, Slamet. (2012).  Menuju Puncak Kemegahan, LKIS, Yogyakarta.
  8. Muljana, Slamet. (1983).  Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit, Inti Idayu Press, Jakarta.
  9. Parlindungan, Mangaradja Onggang . (2007). Tuanku Rao, LKIS, Yogyakarta.  
  10. Sen, Tan Ta. (2018).  Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara, Kompas, Jakarta.
  11. Suryadinata, Leo. (2007)  Laksamana Cheng Ho dan Asia Tenggara,  LP3ES, Jakarta.
  12. Susmana, A.J. (2021). Menghadang Kubilai Khan, PT Berdikari Nusantara Makmur, Jakarta.
  13. Ujiarso, Apriadi. (2022).  Dyah Gitarja, Biografi Kekuasaan Majapahit, Interlude, Yogyakarta.
  14. Vlekke, Bernard  H.M. (2016). Nusantara, Gramedia, Jakarta.

[post-views]