VSTP, Kisah Serikat Buruh Radikal Zaman Hindia-Belanda

Awal abad ke-20, beriringan dengan perkembangan kapitalisme di Hindia-Belanda, serikat buruh pun mulai bermunculan. Pegawai-pegawai kereta api yang menjadi sang pemula pergerakan buruh di Hindia-Belanda.

Pada 1905, tiga tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo, berdiri Serikat Buruh yang pertama: Staatsspoorwegen Bond (SS-Bond). Kemudian serikat pekerja gula, atau Suikerbond, pada 1907. Dan setahun kemudian, berdirilah serikat buruh paling radikal di masanya: Vereniging van Spoor- en Tram­personeel (VSTP).

Lalu, bagaimana sejarahnya?

Vereniging van Spoor- en Tram­personeel, disingkat VSTP, berdiri pada 14 November 1908 di Semarang. 

Serikat buruh ini didirikan oleh 63 orang pekerja dari tiga perusahaan kereta api di Semarang, yaitu Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) dan Semarang–Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

Awalnya VSTP hanyalah serikat buruh kecil yang kepemimpinannya didominasi oleh orang Eropa. Orang-orang bumiputera diterima dan mendapat hak penuh, tetapi kurang diberi tempat pada kepemimpinan. Pekerja rendahan juga belum begitu diperhatian sebagai sasaran perekrutan.

Padahal, sejak 1910-an, karena kurang dilirik dan diperhatian oleh serikat buruh yang didirikan oleh orang Eropa, masyarakat pribumi juga mulai berserikat.

Hingga 1910-an, ada dua arus yang bertarung di VSTP. Arus pertama  menghendaki VSTP hanya untuk pekerja Eropa. Sementara lainnya menghendaki VSTP menjadi serikat pekerja untuk semua, baik Eropa maupun bumiputera.

Pada 1913, Den Hollander, Ketua Eksekutif Pusat VSTP, menyatakan VSTP hanya untuk pekerja eropa. Dia mendesak Sarekat Islam untuk mendirikan serikat pekerja sendiri untuk bumiputera.

VSTP berubah setelah kedatangan seorang sosialis Belanda, Henk Sneevliet, pada 1913. Dia menganjurkan agar VSTP bersifat terbuka bagi siapapun (multi-ras), bahkan perlu menjangkau bumiputera yang berupah rendah.

Dia berpendapat, sebagai organisasi serikat buruh VSTP harusnya berjuang untuk semua buruh, tanpa membeda-bedakan asal-usul ras, agama, maupun kedudukan sosialnya. Dia bahkan menganjurkan VSTP untuk bekerjasama dengan Sarekat Islam.

Pada Oktober 1913, VSTP menyetujui usulan Sneevliet, bahkan memberi kuota bagi pekerja bumiputera untuk duduk di kepemimpinan pusat.

Dalam waktu singkat, VSTP pun berkembang. Pada akhir 1913, VSTP hanya memiliki 1.242 anggota (673 orang Eropa dan 569 orang pribumi). Namun, pada Januari 1915 telah menjadi 2.292 anggota. Mayoritas mereka adalah bumiputera. Menjelang 1920-an, bumiputera mulai mendominasi kepemimpinan VSTP.

Pada 1915, Semaoen, seorang juru tulis perusahaan kereta api Staatsspoorwegen di Surabaya dan anggota Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), bergabung dengan cabang VSTP di Surabaya. Setahun kemudian, dia pindah ke VSTP pusat di Semarang.

Saat itu, VSTP punya koran propaganda bernama Si Tetap, Semaoen ditunjuk sebagai editornya. Koran inilah yang jadi corong VSTP untuk menyuarakan nasib pekerja di seluruh Hindia. 

Setelah penunjukan Semaon sebagai propagandis, VSTP pun berkembang pesat. Mereka punya 93 cabang di seluruh pulau Jawa dan cabang kecil di pantai barat Sumatera dan Sumatera Utara (Deli). Basis terbesar mereka ada di empat kota: Semarang, Cirebon, Madiun dan Yogyakarta.

Pada akhir abad ke-19, orang-orang Eropa mendominasi posisi-posisi penting dalam jawatan kereta api, seperti masinis, kepala stasiun, kondektur, dan juru tulis. Namun, sejak berkobarnya perang dunia pertama yang mempersulit pengiriman pemuda-pemudi Belanda ke Hindia, jumlah pribumi yang menduduki posisi strategis semakin meningkat. 

Pada 1914, hampir semua masinis, kepala stasiun, kondektur, dan juru tulis dipegang oleh bumiputera. Sementara orang Eropa hanya menjadi pengawas. Situasi itu menguntungkan VSTP yang semakin didominasi oleh wajah bumiputera.

Dalam perkembangannya, VSTP banyak merespon persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pekerja kereta api, terutama soal upah, tunjangan, dan jam kerja. Banyak tuntutan VSTP yang dipenuhi oleh pihak manajemen perusahaan kereta api.

Pada 1920-an, para pekerja kereta api terdampak oleh perlambatan ekonomi. Biaya hidup melambung tinggi, tetapi upah tak kunjung ikut naik. Di beberapa tempat, buruh kereta api menggelar mogok. Namun, banyak pemogokan yang gagal. 

Pada bulan Mei 1922, Semaun kembali dari kunjungan singkatnya ke Uni Soviet. Dia segera mengambilalih kepemimpinan VSTP yang keanggotaannya sudah merosot dari 16.975 orang pada Oktober 1921 menjadi 7.731 orang pada Mei 1922.

Untuk mengonsolidasikan kembali VSTP, Semaun melakukan tur keliling pulau Jawa. Ia menggelar rapat umum di kota-kota yang memiliki cabang VSTP. Usahanya tidak sia-sia: dalam hitungan bulan, keanggotaan VSTP membesar kembali.

Namun, resesi ekonomi semakin memperparah kondisi hidup para pekerja. Keresahan akan situasi upah dan kondisi kerja mulai mengarah ke titik didih. Merespon situasi itu, pimpinan VSTP segera menemui manajemen tiga perusahaan kereta api terbesar kala itu agar tidak abai dengan ketidakpuasan para pekerja.

Saat itu, proses negosiasi dengan pengusaha dan pemerintah menemui jalan buntu, sehingga VSTP mengancam melakukan pemogokan besar-besaran.

Pada Kongres VSTP Februari 1923, yang dihadiri oleh seratusan orang wakil dari 79 cabang, desakan untuk melakukan pemogokan umum semakin menguat. Namun, Semaun mewanti-wanti cabang-cabang VSTP untuk tidak bertindak sepihak.

Pada bulan April 1923, pertemuan antara Eksekutif Pusat VSTP dengan manajemen tiga perusahaan kereta api terbesar tak juga mencapai titik temu. Mau tak mau, pimpinan VSTP terdesak untuk menerima satu-satunya pilihan: pemogokan umum.

Akhirnya, karena tidak mencapai titik temu, pada 9 Mei 1923, 10 hari jelang lebaran Idul Fitri tahun itu, VSTP menggelar pemogokan berskala besar. Pemogokan itu diikuti oleh puluhan ribu buruh di Semarang, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon.

Pemerintah merespon pemogokan itu dengan keras. Selain pemecatan massal, pemerintah juga mengirimkan tentara untuk menghentikan pemogokan.

Akhir Mei 1923, VSTP menghentikan pemogokan dengan kekalahan besar. Jumlah anggotanya menyusut drastis akibat PHK massal. Tak hanya itu, Semaoen juga dipaksa menjalani pembuangan.

Pasca itu, VSTP terus mengalami tekanan dari pemerintah Hindia-Belanda. Akhirnya, pada 1926, serikat buruh militan ini terpaksa membubarkan diri.

MAHESA DANU

Note: sebagian besar isi artikel ini merujuk pada tulisan John Ingleson, Kaki dan Tangan Terikat: Pekerja Kereta Api dan Pemogokan 1923 di Jawa

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid