Dari Guru, Daud Lewu Beralih ke Pengrajin Furniture Akar Kayu

Kreativitas tiada batas, itulah yang hendak ditunjukkan pria bernama Daud asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Kabupaten Sumba Timur, Kecamatan Lewa Tidahu, Desa Bidipraing ini.  Daud sapaan akrab warga  terhadapnya ini telah berusia 51 tahun.

Pasca meninggalkan posisinya sebagai guru honorer di SMP N 2 Lewa pada tahun 2008, Daud kerapkali ditemui warga lebih sering melangsungkan usaha mandirinya sebagai seorang petani, mengelola kebun keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun penulis, Daud juga merupakan Ketua Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH) Opang Madangu yang telah berdiri sejak tahun 2008 silam, (data; KLHK 2012). Daud juga memiliki pemahaman tentang konservasi hutan dan  sangat peduli pada pelestarian Kawasan Hutan di daerahnya.

Selain itu, di tahun 2012,  Daud pernah merintis program GEMPO (Gerakan Menanam Pohon) di lahan milik sendiri serta mendorong setiap keluarga di dalam maupun di luar desa Bidipraing  untuk menanam 100 pohon setiap tahun. Daud juga membuat persemaian Tanaman Hutan (Jati, Mahoni) untuk dibagikan secara gratis ke masyarakat sekitar. Masih, Daud berhasil menginisiasi Peraturan Desa yang mendorong perlindungan Mata Air sekaligus mengupayakan rehabilitasi hutan dan lahan desa.

Ia pula yang menginisiasi kegiatan pembuatan Hutan keluarga dengan menanam puluhan ribu Tanaman Hutan di lahan seluas 5 hektar. Hutan Keluarga ini sendiri mampu menghasilkan pohon dengan nilai ekonomi tinggi. Ia pun mendorong agar warga sekitar Kawasan Hutan memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) serta pangan lokal, budidaya hortikultura, tanaman perkebunan dan energi terbarukan.

Daud yang latar belakangnya merupakan keluarga petani dan telah memiliki pengalaman sejak kecil dalam menggeluti sistem pertanian konvensional tentunya bukan hal baru baginya saat menerima tugas sebagai salah satu tokoh dalam pengembangan Kawasan Hutan bekerja sama dengan Pemerintah Desa,  KLHK, maupun petugas Polhut  dalam melakukan pengendalian Kawasan Hutan.

Dari pengalamannya tersebut, timbul insiatif untuk menggeluti usaha di bidang kerajinan tangan dengan memanfaatkan akar pohon kayu bekas penebangan serta batang-batang kayu bekas untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kursi, meja, hingga kerajinan tangan lainnya.

Daud lewu Mbani, nama lengkapnya, lantas menjelaskan keunikan yang merupakan karya-karya sendiri itu:

“Memang dari segi desain terlihat sangat sederhana, layaknya kursi kayu zaman dulu. Tapi ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat bersantai yang sederhana dan juga pasti aman untuk ditempati oleh orang dewasa apalagi bagi anak kecil karena kedudukan serta kekuatannya sudah diperhitungkan.”

Di samping itu, bentuk dan ukurannya yang sederhana juga tidak memakan ruang yang besar. Tentu ini sangat cocok dengan desain rumah minimalis.

Ketika ditanya terkait omset dari hasil karyanya, beliau tidak dapat memberikan angka yang pasti. Sebab, pembelian yang tidak menentu. Hasil karya Daud tersebut masing-masing karyanya juga dikenai tarif yang berbeda-beda.

“Harganya ada yang dimulai dari kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah berdasarkan ukuran, jenis kayu, lama pengerjaan serta tingkat kesulitan dalam pengerjaan bahannya,” terang Daud.

Bila Anda ingin berkenalan lebih jauh dengan tokoh kita ini dan memesan karyanya, Anda bisa menghubungi: 0822-3027-5163.

 

Umbu Tamu Praing

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid