Simon Bolivar, Sang Pembebas Amerika Latin

Selama lebih dari 300 tahun, Amerika Selatan meringkuk di bawah kolonialisasi Spanyol. Awal abad ke-19, seorang anak bangsawan terpelajar berusaha membebaskan kawasan itu. Dia adalah Simon Bolivar.

Dia memimpin perang kemerdekaan di Asia Selatan. Sepanjang hidupnya (1783-1830), dia berhasil membebaskan enam bangsa, yaitu Venezuela, Panama, Ekuador, Bolivia, Kolombia, dan Peru.

Anak Kaum Kaya

Bolivar lahir di Caracas, Venezuela, tahun 1783. Ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya ketika belum menginjak usia 10 tahun. Namun, orang tuanya merupakan keluarga kaya di Caracas. Dia diwarisi perkebunan dan ratusan budak

Sejak itu Bolivar tinggal bersama pamannya. Sebagai bagian dari lapisan sosial paling atas, dia menikmati pendidikan terbaik. Dia mendapat pendidikan privat. Salah satu gurunya, Simón Rodríguez, adalah pengagum Revolusi Perancis.

Usia 15 tahun, dia dikirim untuk belajar di Spanyol. Di sana dia bergaul dengan keluarga kerajaan, salah satunya:  Pangeran Fernando—kelak menjadi raja dengan gelar Ferdinand VII. 

Tinggal di Spanyol selama tiga tahun, Bolivar menemukan tambatan hatinya. María Teresa Rodríguez del Toro y Alaysa, anak seorang bangsawan di Spanyol, memikat hati Bolivar. Mereka menikah pada 1802.

Setahun kemudian, Bolivar dan Teresa kembali ke Venezuela. Namun, tak lama setelah tiba di tanah kelahirannya, istrinya jatuh sakit dan meninggal dunia. Bolivar sangat terpukul oleh kejadian itu, dan berjanji tidak akan pernah menikah lagi.

Demi mengobati luka hatinya, Bolivar pergi berkelana ke Eropa. Salah satunya: Paris. Saat itu Perancis sedang dalam pasang revolusioner pasca revolusi 1789. Dalam rundungan galau ditinggal istri, Bolivar menemukan semangat baru dalam suasana revolusi.

Dia mulai belajar dari tokoh-tokoh pencerahan masa itu, seperti ohn Locke, Jean-Jacques Rousseau, dan Montesquieu. Dia juga terpapar oleh gagasan Thomas Paine, pemikir revolusioner berkebangsaan Inggris itu.

Kemudian, atas nasehat gurunya, Simón Rodríguez, Bolivar pun mulai membangun tekad politik untuk mengusir kolonialisme Spanyol dari tanah Amerika Selatan. Pada 1806, dia memutuskan kembali ke Venezuela.

Perjuangan Kemerdekaan

Saat itu posisi Spanyol mulai terdesak. Negeri matador ditaklukkan oleh Napoleon, yang memaksa raja Ferdinand VII menjalani pengasingan. Kekosongan kekuasaan itu yang dimanfaatkan oleh pejuang kemerdekaan Venezuela untuk memproklamirkan kemerdekaan. Itu terjadi pada bulan April 1810. Saat itu terbentuk pemerintahan junta.

Bolivar merupakan salah satu delegasi yang ditunjuk dan dikirim oleh pemerintahan Junta untuk mendapatkan dukungan politik dan logistik dari Inggris. 

Saat itu, Bolivar sudah menyadari kelemahan dari pemerintahan junta. Ia sendiri menginginkan Venezuela merdeka 100 persen dari Spanyol dan berbentuk Republik.

Demi mewujudkan cita-cita mulianya, Bolivar mengajak seorang jenderal legendaris yang pernah bertempur bersama Napoleon dan George Washington, Francisco de Miranda.

Memang, Bolivar bersama Jenderal Miranda berhasil memerdekakan Venezuela dan membentuk negara Republik: sering disebut Republik Pertama. Sayang, usianya tak lama. Selain karena dikepung oleh koalisi kaum royalis (sebutan bagi bangsawan Venezuela pendukung raja Spanyol) dan sisa-sisa tentara Spanyol, Republik baru itu diluluhlantakkan oleh gempa bumi.

Republik pertama resmi tumbang pada 1812. Bolivar melarikan diri ke Cartagena, New Granada. Di sana dia melakukan evaluasi mendalam atas kegagalan revolusi. Hasil evaluasinya dituangkan dalam bentuk manifesto, disebut “Manifesto Cartagena”.

Di Cartagena, Bolivar menggalang kembali kekuatan revolusi. Gubernur Cartagena, yang anti-Spanyol dan bersimpati pada perjuangan kemerdekaan, mengirimkan seorang Jenderal, namanya Fransisco De Paula Santander, untuk memperkuat barisan Bolivar.

Pada 1813, pertempuran pertama antara pasukan Bolivar dan Spanyol meletus di Cúcuta, sering disebut “Perang Cúcuta”. Pasukan Bolivar berhasil mengalahkan gabungan tentara Spanyol yang dibantu oleh kaum royalis. 

Kemenangan itu memompa semangat Bolivar dan para pejuang kemerdekaan. Bolivar pun mengobarkan perang pembebasan Venezuela, yang disebutnya “kampanye yang mengagumkan” atau admirable campaign. Satu per satu wilayah Venezuela berhasil dibebaskan, seperti Mérida, Barinas, dan Trujillo.

Dalam waktu singkat, pada 6 Agustus 1813, Bolivar berhasil memasuki kota Caracas. Dia disambut dengan gegap-gempita oleh warga biasa Caracas dan diberi julukan “sang pembebas” (El Libertador).

Republik kedua pun terbentuk. Kali ini, belajar dari kelemahan Republik pertama yang desentralis dan federalis, Bolivar membuat Republik Kedua lebih sentralistik dan terkomando. Namun, sistem ini pun tak menolong. Pada pertengahan 1814, Republik Kedua dikalahkan oleh Spanyol dan royalis.

Lagi-lagi Bolivar harus menyingkirkan. Kali ini ia pergi ke Jamaika. Dari sana dia menulis surat, yang disebut Carta de Jamaica (surat dari Jamaika), berisi evaluasi terhadap kegagalan Republik kedua.

Pada Desember 1815, dia berlayar ke Haiti untuk mencari dukungan. Sebetulnya, pada 1803, bangsa Haiti berhasil memerdekakan diri dari kolonialis Perancis. Di Haiti, Bolivar berhasil mendapat dukungan dari Presiden Haiti, Alexandre Pétion. 

Pada 1816, Bolivar kembali berlayar menuju Venezuela untuk melanjutkan perang pembebasan. Untuk mendapatkan dukungan, tindakan pertamanya adalah memerdekakan kaum budak. Setelah itu, dia membangun basis perlawanannya di Sungai Orinoco. Untuk menyebarluaskan pesannya, dia menerbitkan koran mingguan bernama Correo del Orinoco (1818-1822).

Selain membebaskan budak, Bolivar juga membagikan tanah-tanah yang disita dari penguasa Spanyol atau bangsa penyokong Spanyol kepada petani miskin. Dia menyerukan persatuan bangsa Venezuela tanpa memandang ras dan kelas.

Selangkah demi selangkah, pasukan Bolivar berhasil merebut kota-kota kecil. Awalnya dia merebut Guayana, Angostura (sekarang Ciudad Bolívar), dan lain-lain. Pada 1819, dia mulai menyusun rencana penyerbuan terhadap Granada baru (la Nueva Granada)

Demi melancarkan serangan dadakan, Bolivar dan pasukannya menempuh jalan yang sulit, yaitu menyeberangi pegunungan Andes yang dingin. Saat itu, banyak pasukannya yang mati karena kedinginan dan kelaparan.

Pada Agustus 1819, serangan pun dimulai. Dalam pertempuran yang disebut “perang Boyacá”, pasukan Bolivar menang. Tiga hari kemudian, Bolivar memasuki kota Bogota. Inilah titik balik dalam perjuangan kemerdekaan Amerika Selatan.

Setelah keberhasilan merebut Granada baru, Bolivar berhasil membebaskan sejumlah negara, seperti Kolombia, Ekuador, Panama, dan Venezuela. 

Di sisi lain, Jose de San Martin, seorang pahlawan pembebas Amerika lainnya, berhasil membebaskan Chile dari Spanyol dan kaum royalis. Dia kemudian bergerak menuju pesisir utara untuk membebaskan Peru.

Pada 17 Desember 1919, di kota Bogota, Bolivar memproklamirkan berdirinya Gran Colombia (Kolombia Raya), atau sering disebut Republik Kolombia. Bolivar terpilih sebagai Presiden, sedangkan Francisco de Paula Santander sebagai Wakilnya.

Sementara itu, pada 1820, Spanyol diguncang oleh revolusi anti-monarki. Hasilnya: Raja Ferdinand VII terpaksa menerima pembatasaan kekuasaan dan prinsip-prinsip liberalisme.

Dan lagi-lagi Bolivar pintar mengambil momentum itu. Pada 1821, dia dan pasukannya melancarkan serangan berskala besar ke kota Caracas. Bolivar dan kaum revolusi berhasil menang dalam pertempuran Carabobo. Mereka pun merangsek masuk ke kota Caracas. Sejak itu, Caracas sepenuhnya terbebaskan dari Spanyol dan kaum royalis. 

Setahun kemudian, Antonio José de Sucre, kawan seperjuangan Bolivar, berhasil membebaskan Ekuador (1822) dan Peru (1824). Dengan demikian, hampir semua wilayah Amerika Selatan berhasil dibebaskan oleh Simon Bolivar dan kawan-kawannya.

Perpecahan di Tubuh Republik

Pada 1821, sebuah konstitusi baru untuk Republik Kolombia Raya berhasil disahkan. 

Ada banyak hal progresif dalam konstitusi itu, seperti penghapusan perbudakan, kebebasan pers, jaminan atas kebebasan sipil, dan jaminan atas hak-hak pribadi. Konstitusi ini juga mengadopsi model sekularisme.

Secara politik, Kolombia Raya berbentuk Republik yang bersatu dan terdiri dari beberapa provinsi. Selain itu, Republik dipimpin oleh seorang Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih oleh Kongres.

Sayang sekali, tak lama setelah Republik Kolombia raya berdiri, perpecahan internal tak terelakkan. Saat itu ada dua faksi yang bertarung di dalam negara baru itu: negara kesatuan terpusat versus federalisme.

Bolivar, yang menjadi pengusung Negara Kesatuan Terpusat, menginginkan negara Amerika selatan yang bersatu dan sentralistik demi menjaga kemerdekaan. Menurutnya, negara yang kekuasannya terbagi-bagi, seperti pengalaman Republik Pertama, sangat mudah dipecahkan oleh pihak asing.

“Kita butuh negara yang kuat, tegas, dan efisien. Jika tidak, kita harus menerima resiko menjadi korban penjajahan, tirani, dan kezaliman bangsa asing,” kata Bolivar.

Sebaliknya, bagi Santander, seorang jenderal berpikiran liberal, model sentralistik sangat berpotensi melahirkan diktator. Setiap wilayah juga harus menikmati otonomi dan kemerdekaan untuk mengatur dirinya sendiri.

Perpecahan tak terhindarkan. Pada 1928, ada sebuah persekongkolan yang dipimpin oleh Santander untuk menyingkirkan dan membunuh Simon Bolivar, tetapi berhasil digagalkan.

Tak berhenti di situ, di Provinsi Venezuela, José Antonio Páez, seorang pejuang kemerdekaan yang ditunjuk sebagai kepala pemerintahan setempat, melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan pusat yang dipimpin oleh Bolivar.

Tak hanya gerakan pemisahan, di tubuh angkatan perang juga terjadi ketidakpuasan, salah satunya pemberontakan Jenderal José María Córdova. Dia tak menyetujui keputusan Bolivar yang menempatkan dirinya sebagai diktator.

Tahun 1930, di tengah perpecahan internal yang memuncak, kondisi kesehatan Bolivar juga memburuk. Akhirnya, pada April 1830, Bolivar mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden.

Ia kemudian berniat ke Eropa. Sayang, pada 17 Desember 1830, Bolivar meninggal dunia karena penyakit TBC.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid