Alexandria Ocasio-Cortex, Milenial Sosialis yang Mengguncang Politik AS

Pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS), yang digelar pada Selasa (6/11) lalu, menorehkan sejarah baru: seorang anak muda, baru berusia 29 tahun, terpilih sebagai anggota Kongres.

Anak muda itu bernama Alexandria Ocasio-Cortez. Lahir tanggal 13 Oktober 1989, dia mencatatkan diri sebagai anggota Kongres termuda dalam sejarah Amerika. Sebelumnya, anggota Kongres termuda dipegang politisi Republik, Elise Stefanik, yang berusia 30 tahun pada 2015.

Sebelumnya, pada 26 Juni 2018, di Pemilihan Pendahuluan (Primary Election) Partai Demokrat, Alexandria berhasil menyingkirkan politisi mapan Partai Demokrat, Joe Crowley. Tidak hanya kaya, Joe sudah terpilih 10 kali di daerah pemilihan itu.

Kemenangan Alexandria menggemparkan seantero AS. Betapa tidak, seorang anak muda dari kelas bawah, yang belum begitu lama terjun dalam palagan bernama politik, berhasil menyingkirkan politisi elit dengan segudang pengalaman.

Kemenangan Alexandria bergema ke seantero AS, bahkan ke negara-negara Eropa. Guardian Inggris menyebutnya “kekecewaan terbesar dalam sejarah politik Amerika.” Sedangkan New York Times menulis, “Milenial sosialis sudah datang..”

Alexandria lahir di Bronx, sebuah kawasan yang dihuni oleh mayoritas pekerja dan imigran di New York. Ayahnya adalah pengusaha kecil di selatan Bronx, sedangkan ibunya kelahiran Puerto Rico.

“Dari sejak kecil, saya melihat ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi di sekitar saya,” kata Alexandria mengenang masa kecilnya.

Demi mendapat pendidikan lebih baik, Alexandria kecil harus menghabiskan waktu sekitar 40 menit setiap hari untuk menuju sekolahnya di Yorktown Heights.

Di sekolah menengah atas Yorktown, Alexandria belajar serius soal sains. Hingga, di ajang Intel International Science and Engineering Fair tahun 2007, dia berada di urutan kedua. Riset ilmiahnya tentang mikrobiologi.

“Benar, sains adalah kesukaan pertamaku,” kata Alexandria, seperti dikutip Business Insider.

Setelah itu, Alexandria kuliah di Boston University. Di sini dia belajar ilmu ekonomi dan hubungan internasional. Untuk menambah uang kuliahnya, dia bekerja pada senator Edward M. Kennedy, seorang politisi Demokrat di Massachusetts.

Setelah tamat, dia kembali ke kampung halaman di Bronx. Dia langsung terjun ke akar rumput, membangun gerakan literasi dan pendidikan bagi anak-anak keluarga miskin.

Tahun 2008, ketika krisis menghantam Amerika, ayahnya meninggal karena jantung. Kejadian itu membuat keluarganya kehilangan tulang punggung ekonomi. Untuk membantu ekonomi keluarga, Alexandria bekerja di restoran dan café-café.

Hingga menjelang Pemilu Presiden AS tahun 2016, muncul sosok yang menarik kembali Alexandria ke gelanggang politik. Saat itu, Bernie Sanders, salah seorang capres, membangkitkan gairah politik banyak anak-anak muda Amerika, termasuk Alexandria.

Kehadiran Bernie Sanders memperkaya perdebatan politik Amerika, termasuk memberi tempat kepada gagasan yang sudah lama dikutuki di sana: Sosialisme. Selama kampanye, Bernie menyebut dirinya sebagai “demokratik sosialis”.

Efek kampanye Bernie yang bertaut dengan kondisi ekonomi yang belum membaik, telah mengubah peta cara pandang politik sebagian besar orang Amerika.

Survei dari Harvard University tahun 2016 menunjukkan, 51 persen anak muda Amerika usia 18-29 tahun tidak lagi mendukung kapitalisme. Sebaliknya, ada 55 persen anak muda yang mendukung ide-ide demokratik sosialis, seperti pendidikan dan kesehatan untuk semua orang tanpa diskriminasi.

Di tubuh Demokrat, terjadi pergeseran cara pandang yang sangat signifikan. Sebanyak 57 persen basis pendukung Demokrat berpandangan positif terhadap sosialisme. Sebaliknya, yang berpandangan positif terhadap kapitalisme menurun jadi 47 persen.

Demokrat Sosialis Amerika (DSA), partai penyokong Bernie Sanders, langsung mendadak naik kelas dari partai pinggirian menjadi partai yang diperhitungkan. Dalam sekejap, anggotanya meningkat dari hanya sekitar 6000-an di tahun 2015 menjadi 43.000 di bulan Juli 2018.

Alexandria hanyalah satu dari sekian banyak milenial Amerika yang mulai tidak percaya dengan kapitalisme. Baginya, kapitalisme telah memperlebar ketimpangan, penyingkiran hak-hak dasar manusia, dan merusak lingkungan.

Sebaliknya, dia mengapresiasi sosialisme. Baginya, sosialisme adalah partisipasi demokratis dalam ekonomi yang bermartabat.

“Bagi saya, sosialisme berarti menjamin hak dasar setiap orang untuk hidup bermartabat. Ini menegaskan nilai Amerika yang kami inginkan, ketika semua anak bisa mengakses pendidikan yang bermartabat. Tidak ada lagi orang yang kesulitan mengakses pengobatan yang diperlukan untuk tetap hidup,” katanya, seperti dikutip TeleSUR.

Dalam situasi itulah muncul Alexandria. Dia muncul sebagai kandidat DPR dari partai Demokrat. Menariknya, dia maju tanpa modal berbentuk uang. Selama kampanye, dia hanya mengunakan dana sebesar 194.000 USD. Bandingkan dengan lawannya di pemilihan pendahuluan Demokrat, Joe Crowley, yang menggunakan dana sebesar 3,4 juta USD.

Itupun, sebagian besar dana kampanye Alexandria berasal dari donasi publik. Dia menolak sumbangan korporasi.

Namun, meskipun modalnya receh, tetapi kampanye Alexandria sangat bergaung. Tema besar kampanyenya menyentuh persoalan-persoalan mendasar yang dirasai pemilih di daerah pemilihannya, seperti kesehatan untuk semua, pendanaan penuh untuk sekolah publik, jaminan pekerjaan, rumah sebagai hak, reformasi aturan imigrasi (ICE), dan upah minimum 15 USD per jam.

Untuk branding kampanyenya, dia bekerja sama dengan sebuah perusahaan desain di New York, Tandem. Kebetulan, pemiliknya adalah teman dekat Alexandria. Lewat desainer Tandem, Maria Arenas, poster-poster Alenxandria tampak fresh, kekinian, dan populer.

“Banyak poster yang dibuat dengan buruk, sehingga tidak berhasil menyampaikan pesan. Banyak yang bagus, tetapi terlalu nampak korporat,” kata Arenas.

Dalam politik era digital, tampilan adalah kunci. Tampilan yang menarik, dengan kombinasi warna yang tepat, bisa membuat orang menyimak poster. Sekaligus melihat foto kandidat dan tema kampanyenya.

Selain media kampanye yang menarik, Alexandria menggabungkan strategi “door to door” dan kampanye digital. Selain membuat banyak video, tim kampanye Alexandria juga aktif di media sosial dengan menggunakan dua bahasa: Inggris dan Spanyol.

Alexandria sendiri banyak turun ke bawah, mendatangi rumah-rumah calon pemilihnya, sembari meminta nomor telepon mereka untuk komunikasi lebih lanjut.

“Ini terus mengetuk pintu demi pintu, hingga air hujan turun membasahi sepatuku,” kata Alexandria, sambil memperlihatkan sepatunya yang bolong di akun twitternya.

Selama kampanye, Alexandria mendatangi sekitar 120.000 rumah dan mengumpul 170.000 nomor telpon. Luar biasa, bukan? Dan inilah kunci kemenangan Alexandria.

Alexandria adalah politisi milenial. Tetapi bukan sembarang milenial, dia milenial sosialis. Selamat, Alexandria.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut