Aktivis Mahasiswa Pertanyakan Manfaat “Sail Morotai 2012”

Bukannya memberikan kontribusi kepada pembangunan ekonomi lokal, kegiatan “Sail Morotai 2012” justru dianggap sebagai agenda politik yang hanya menghabiskan uang negara.

Pernyataan itu disampaikan oleh Iswan Yahya, ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Ternate, saat menghadiri diskusi bertajuk “Sail Indonesia di Morotai 2012 : Kajian kritis tentang Maluku Utara dalam genggaman Negara pemodal”, di ruang pertemuan Makugawene.

Panitia acara ini adalah Asosias Pemuda dan Pelajar Tobelo-Galela-Malifut, Morotai, Loloda, dan Kao (AMPP-Togammoloka), sekaligus sebagai bagian dari acara pelantikan pengurus dan rapat kerja pengurus baru organisasi ini.

Panitia pelaksana tidak terbuka

Pelaksanaan acara ini sempat dipertanyakan sejumlah organisasi gerakan mahasiswa, karena minimnya sosialisasi mengenai pelaksanaan kegiatan ini.

“Kegiatan ini sangat tertutup, sehingga banyak rakyat Morotai tidak diberi kesempatan untuk mengetahui apa itu sail morotai 2012 dan apa kegunaannya bagi rakyat,” ujar Iswan Yahya.

Drs. Muhadjir Albar, MSI, sekda Provinsi dan sekaligus ketua panitia “Sail Morotai 2011”, yang mestinya hadir dalam pertemuan ini, ternyata tidak datang hingga acara ini usai. Dari lima pembicara yang dijadwalkan hadir, ternyata hanya empat pembicara yang konfirmasi. “pembicara kunci tidak hadir dalam diskusi ini, sehingga kita tidak mendapat kejelasan tentang acara itu,” kata seorang aktivis mahasiswa yang menjadi peserta diskusi.

Syamsir ali Koda, aktivis dari Gerekan Mahasiswa pemerhati Sosial (GAMHAS), juga turut menyesalkan ketertutupan acara ini. Menurutnya, acara semacam ini harus dibuka kepada masyarakat luas, supaya mereka bisa berpartisipasi dan mengetahui persoalan sebenarnya.

Menanggapi hal itu, politisi partai Golkar Jumal Wange mengaku bahwa pihak legislative belum mendapat kejelasan mengenai dasar hukum pelaksanaan kegiatan akbar itu.

Sekelumit persoalan

Ide pelaksanaan “Sail Morotai 2012” tercetus ketika Presiden SBY menyampaikan pidato saat pelaksanaan “Sail Banda 2010” lalu. Dengan serta merta, tanpa memperhatikan kondisi daerah dan rakyat, Bupati Maluku utara pun menyambut ide yang dilontarkan Presiden tersebut.

Menurut rencana, kegiatan “Sail Morotai 2012” akan memakan biaya sekurang-kurangnya Rp200 milyar. “40 milyar akan ditanggu Pemprov, 26 milyar ditanggung masing-masing Pemda, dan sisanya ditanggung pemerintah pusat,” kata Iswan.
Uang sebesar itu akan digelontorkan guna penyiapan sarana fisik kegiatan seperti jembatan, jalan, dan penginapan atau hotel terapung. Namun, bagi sejumlah aktivis mahasiswa, penggelontoran dana itu justru sangat jauh dari kebutuhan rakyat yang sangat mendesak seperti sembako, pendidikan, dan kesehatan.

Morotai, yang begitu kaya dengan kekayaan alam lautnya, memang sangat menggiurkan bagi investasi asing. Tidak mengherankan, sejumlah aktivis mencurigai adanya kepentingan modal asing di balik event besar “Sail Morotai 2011”, khususnya di sektor perikanan dan pertambangan.

Sebaliknya, ketimbang harus menghamburkan banyak uang untuk event yang sekedar bersolek di depan imperialis itu, para aktivis pergerakan mengusulkan agar Pemda lebih fokus untuk pemenuhan kebutuhan dasar rakyat: pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.

“Bagaimana mau bikin event mewah, sedangkan para nelayan kekurangan BBM untuk menangkap ikan. Akhirnya, mereka dikalahkan oleh investor Jepang yang membawa kapal besar,” kata Iswan Yahya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut