6 Negara Yang Sukses Memerangi Buta Huruf

Meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau United Nations Literacy Decade (UNLD) 2003-2012, namun masalah buta huruf belum juga teratasi.

Data yang dilaporkan UNESCO akhir september lalu menunjukkan, masih ada 775 juta orang dewasa di dunia ini yang masih buta-huruf. Ditambah lagi, ada 61 juta anak-anak yang tidak pernah menyentuh bangku sekolah.

Memang, salah satu tantangan program pemberantasan buta-huruf adalah komitmen negara. Belajar dari pengalaman pemberantasan buta huruf di berbagai belahan dunia, justru pemberantasan buta-huruf yang diorganisir oleh negara lah yang paling sukses.

Berikut ini 6 negara yang berhasil mengorganisir gerakan pemberantasan buta-huruf:

1.    Uni Soviet

Di Rusia, setelah kaum revolusioner berhasil menggulingkan rezim Tsar melalui revolusi, program pemberantasan buta-huruf menjadi prioritas pemerintahan revolusioner. Lenin bilang, “selama di negeri kita masih ada buta-huruf, maka sulit untuk bicara pendidikan politik.”

Karena itu, kendati dalam kondisi situasi politik tidak stabil, Soviet tetap melancarkan kampanye pembebasan dari buta huruf di kalangan anak-anak, tentara, remaja, pekerja, dan petani. Tak hanya itu, Soviet juga menggratiskan pendidikan.

Hasilnya cukup menakjubkan. Pada tahun pertama, ada 5 juta orang yang berhasil dibebaskan dari buta-huruf. Yang paling sukses adalah di kalangan pekerja dan tentara merah. Pada tahun 1924, 99% pekerja bebas dari buta huruf. Sementara di kalangan tentara merah menurun dari 50% menjadi 14% buta-huruf.

2.    Kuba

Kuba juga punya sukses dalam pemberantasan buta-huruf ini. Sebelum Revolusi Kuba tahun 1959, sebanyak 50% anak-anak di Kuba tidak pernah menyentuh bangku sekolah. 72% anak-anak berusia 13-19 tahun tidak bisa melanjutkan sekolah ke sekolah menengah (setingkat SMP). Dan satu juta orang rakyat Kuba buta-huruf.

Berbicara di forum PBB, tahun 1960, Fidel Castro menjanjikan, “tahun depan rakyat kami mengusulkan meluncurkan perang habis-habisan terhadap buta-huruf, dengan tujuan ambisius mengajari setiap orang buta-huruf untuk membaca dan menulis.”

Sembilan bulan kemudian, tepatnya tahun 1961, lebih dari satu juta orang Kuba dimobilisasi untuk ke seantero negeri guna membebaskan rakyat dari buta-huruf. Saat itu, 707.000 rakyat belajar membaca dan menulis. Alhasil, dalam waktu sangat singkat, buta-huruf berkurang dari 21% menjadi 3,9%.

Metode Kuba disebut “Yo sí Puedo”, (Yes, I can). Program ini menggunakan metode pedagogis-kritis. Di masanya, pada tahun 1961, para pengajar atau instruktur buta-huruf tinggal di tengah-tengah rakyat. Mereka tinggal dan tidur di rumah-rumah petani. Siang hari, mereka turut bekerja di sawah atau ladang. Dan, pada sore hari, mereka mulai membuka kelas untuk belajar.

Di mana-mana, di ladang-ladang, di pabrik-pabrik, dan di mana saja, berkumandang slogan: setiap orang Kuba adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.

Catatan PBB menyebutkan, 100% orang Kuba berusia 15-24 (laki-laki dan perempuan) sudah melek huruf. Selain itu, 96,2% anak-anak usia sekolah dasar sudah terdaftar. Dan, pada tahun 2004, 92,6% anak-anak itu berhasil menyelesaikan pendidikan dasar. Bahkan, dalam peringkat UNESCO, Kuba berada di urutan ke-10 dari 125 negara dalam hal melek huruf.

3.    Nikaragua

Sebelum Revolusi Sandinista tahun 1979, tingkat buta-huruf di Nikaragua mencapai 52%. Bahkan, untuk daerah pedesaan, angkanya diperkirakan berkisar antara 75% hingga 90%.

Setahun setelah Revolusi, tepatnya tahun 1980, pemerintahan Sandinista meluncurkan kampanye pembebasan buta-huruf pertama. Lebih dari 90.000 relawan, sebagian besar perempuan muda, terlibat dalam kampanye ini. Mereka terjun ke desa-desa, ke pabrik-pabrik, untuk mengajar rakyat membaca dan menulis.

Hasilnya sangat menakjubkan. Dalam setahun, pemerintahan Sandinista berhasil mengurangi buta huruf dari 52% menjadi 12,9%. Dalam beberapa tahun selanjutnya, jumlah buta huruf di Nikaragua bisa ditekan hingga di bawah 5%. Atas prestasi itu, UNESCO memberikan “Nadezhda K. Krupskaya Award” kepada Nikaragua.

4.    Venezuela

Sebelum Chavez terpilih sebagai Presiden tahun 1998, jumlah buta-huruf di Venezuela mencapai 1,5 juta orang dari 26 juta penduduk. Selama tiga Presiden sebelum Chavez, yakni Jaime Lusinchi, Carlos Andrés Pérez dan Rafael Caldera, hanya berhasil membuat 37.000 orang bisa membaca dan menulis.

Dua tahun menjadi Presiden, Chavez langsung meluncurkan program pemberantasan buta huruf bernama “kampanye aksara Bolivarian”. Hanya dalam setahun: 100 ribu orang bisa membaca dan menulis. Meski begitu, Chavez menganggap kampanye awal ini gagal mencapai target. Sebagai evaluasinya: pemberantasan buta huruf bukan soal uang dan fasilitas semata, tapi bagaimana memobilisas rakyat.

Tahun 2003, Chavez meluncurkan program kampanye aksara luar biasa Simón Rodríguez. Belakangan berganti nama menjadi Misión Robinson (Misi Robinson), yang menargetkan bisa mengajari sejuta rakyat Venezuela membaca dan menulis dalam setahun.

Metode yang dipake adalah model Kuba: “Yo sí Puedo”, (Yes, I can). Hanya dalam dua tahun, 1,5 juta penduduk Venezuela berhasil dibuat bisa membaca dan menulis. Akhirnya, pada tahun 2005, UNESCO mengumumkan ‘Venezuela sebagai teritori bebas buta-huruf’.

Misi Robinson tidak berakhir hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tetapi akan berlanjut menjadi pendidikan dasar (Robinson I) dan lingkaran membaca (Robinson II). Dengan begitu, para peserta bisa mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan.

Selain itu, dari tahun 2003 hingga tahun 2010, ada 80 juta terbitan baru yang didistribusi massal ke rakyat. Sebagian besar merupakan buku dengan harga sangat murah bahkan gratis.

5.    Bolivia

Dari sekitar 10 juta penduduk Bolivia, sekitar 1,2 juta orang tidak bisa membaca dan menulis. Sebagian besar diantara mereka dalah masyarakat asli India, yang sejak berdirinya Bolivia telah disingkirkan dari kehidupan ekonomi dan politik.

Begitu terpilih sebagai Presiden tahun 2006, Evo Morales langsung meluncurkan program pemberantasan buta-huruf. Dengan mengadopsi metode Kuba,  “Yo sí Puedo”, (Yes, I can), Evo Morales memobilisasi rakyatnya untuk memerangi buta-huruf.

Setelah bekerja intensif selama 33 bulan, sebanyak 820,264 berhasil lulus dari pelatihan membaca dan menulis. Bolivia sendiri membangun sedikitnya 80.000 pusat pelatihan membaca dan menulis di seluruh pelosok negerinya. Sebanyak 52,000 melanjutkan pendidikan.

Dan, akhirnya, pada tahun 2008, Kuba berhasil terbebas dari buta-huruf. Dan sekaligus menjadi negara Amerika Latin ketiga, setelah Kuba dan Venezuela, yang terbebaskan dari buta-huruf.

Evo sendiri mengatakan, keberhasilan memberantas buta-huruf adalah kemenangan atas kolonialisme, yang selama ratusan tahun selalu kesetaraan sosial, termasuk pendidikan.

6.    Indonesia (Di Bawah Soekarno)

Molly Bondan dalam bukunya, “In Love with a Nation”, mengungkakan, ketika Jepang menduduki Indonesia tahun 1942, jumlah penduduk melek huruf masih kurang dari 7%. Pada 1945, sekitar 90% rakyat Indonesia buta-huruf.

Begitu merdeka, Indonesia lansung meluncurkan program pemberantasan buta huruf. Kampanye pertama dilakukan tanggal 14 Maret 1948, masih dalam keadaan perang, dengan program bernama Program Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Bung Karno menjadi pengajar pertamanya.

Pada Juni 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan makin mengintensifkan gerakan tersebut. Kursus PBH dibuka secara intensif di sejumlah karasidenan, seperti Malang, Surabaya, Kediri, Madiun, Bojonegoro, Semarang, Pati, Surakarta, Kedu, Yogya, Banyumas, dan lain-lain.

Jumlah kursus PBH yang diselenggarakan oleh Pemerintah berjumlah 18.663 tempat, dengan 17.822 orang guru dan 761.483 orang murid. Sedangkan yang digelar secara independen berjumlah 881 tempat dengan 515 orang guru dan 33626 murid.

Pada tahun 1951, disusun program Sepuluh Tahun Pemberantasan Buta Huruf dengan harapan semua penduduk Indonesia akan melek huruf dalam jangka waktu sepuluh tahun berikutnya. Namun, pada tahun 1960, masih ada sekitar 40 persen orang dewasa yang buta huruf.

Akhirnya, pada tahun 1960, Bung Karno mengeluarkan komando untuk menuntaskan buta huruf sampai 1964. Hampir semua organisasi massa, terutama dari PKI, Gerwani, dan PGRI non-vaksentral, terlibat dalam kursus-kursus PBH di seluruh negeri. Alhasil, pada 31 Desember 1964, penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas buta huruf.

Sayang, prestasi Indonesia di era Bung Karno itu tidak bertahan. Di era Orde Baru, kendati ada Program Paket ABC, masalah buta-huruf tidak berhasil di atasi. Penyebabnya, program Paket ABC itu tidak memobilisasi massa rakyat.

Lebih parah lagi, pemerintahan pasca reformasi malah tidak pernah mendengunkan program pemberantasan buta-huruf. Akibatnya, hinggaa 2011, masih ada  8,3 juta jiwa atau 4,79 persen dari jumlah penduduk Indonesia berusia 15-45 tahun yang buta-huruf.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut