Upaya ‘Merusak’ Politik Lula

Di tahun 2002, Lula Da Silva, seorang aktivis buruh, memenangi Pemilu Presiden Brazil. Bagi banyak orang, itu adalah pembalikan terhadap tradisi politik Brazil. Kenapa bisa demikian?

Maklum, sejak merdeka dan menjadi Republik di tahun 1889, negara berpenduduk 206 juta ini silih-berganti diperintah oleh kaum elit dan militer. Dan Lula bersama partainya, Partai Buruh (PT), membalikkannya di pemilu tahun 2002.

Tetapi bukan di situ kunci sukses Lula. Kunci sukses Lula justru ada saat dia memerintah. Dia menjadi Presiden paling popoler dan paling dikagumi dalam sejarah Brazil.

Saat menjabat Presiden, Lula melahirkan banyak program progressif dan populer. Dia menciptakan program Bolsa Família guna menolong keluarga miskin dan kelompok rentan. Dia juga menyalurkan kredit lunak bagi petani dan produsen berskala kecil.

Tidak mengherankan, seperti diakui Bank Dunia, angka kemiskinan di Brazil turun drastis dari 27 persen di tahun 2003 menjadi 7 persen di tahun 2009. Dia juga berhasil memangkas kesenjangan sosial yang sempat melebar di negeri itu.

Ekonomi Brazil juga tumbuh perkasa. Bahkan, ketika dunia dihantam krisis ekonomi tahun 2009, ekonomi Brazil tetap tumbuh 7,5 persen. Itu yang menyebabkan Brazil muncul sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia dan memprakarsai lahirnya BRICS (Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan).

Tak mengherankan, di ujung masa-jabataannya, tingkat penerimaan rakyat Brazil atas pemerintahan Lula mencapai 80-90 persen.

Popularitas Lula yang besar itu berkontribusi mengantarkan kawan separtainya, Dilma Rousseff, terpilih sebagai Presiden di pemilu tahun 2010. Sayang, di bawah kepemimpinan Dilma, ekonomi Brazil mulai menurun.

Tuduhan Korupsi

Tiba-tiba, pada Jumat (4/3) lalu, Polisi Federal Brazil mengambil paksa Lula di apartemennya. Lalu, dengan mobil dia dibawa ke bandara Sao Paulo dan diinterogasi selama hampir 4 jam.

Kejaksaan Sao Paulo menuding Lula memiliki apartemen yang berasal dari praktek pencucian uang. Politisi partai buruh ini juga dituding menerima 270.000 USD untuk furniture dan perbaikan apartemennya itu.

Sayangnya, semua tuduhan itu tidak punya bukti yang kuat. Lula sendiri membantah keras tudingan itu. Dia mengaku bukan pemilik apartemen mewah triplex dia Guaruja. Dia juga mengaku tidak punya tanah luas di Atibaia.

“Saya bisa mendapatkan uang berjuta-juta. Tetapi semua orang yang mengenal saya tahu bahwa saya tidak tertarik dengan uang, tetapi memperbaiki negeriku,” kata Lula.

Lula menegaskan, sebagai seorang politisi dari Partai buruh, dirinya tidak pernah berniat merampas makanan dari meja si miskin. Sebaliknya, dia selalu berpikir untuk memberikan kemajuan kepada negerinya.

“Saya tahu apa saya kerjakan untuk negeriku. Saya tahu bahwa apa yang saya kerjakan adalah untuk kebanggaan dan harga diri bangsaku,” tegasnya dalam konferensi pers usai ditahan oleh kepolisian federal Sao Paulo.

Pengacara Lula, Cristiano Zanin Martins, mengaku tidak diizinkan oleh pihak Kejaksaan mengakses dokumen ataupun file yang terkait dengan kasus yang dituduhkan ke Lula.

Karena itu, bagi Zain Martins, kasus yang dituduhkan terhadap Lula penuh kejanggalan. Dan memang sejak awal kasus ini sangat janggal.

Pertama, penahanan Lula terjadi hanya setelah testimoni seorang politisi Partai Buruh, Delcídio do Amaral, yang menuding Lula terkait korupsi di perusahaan minyak negara Petrobras.

Do Amaral, yang juga Senator Partai Buruh, sedang diadili karena terlibat skandal Petrobras. Namun, tudingan Amaral belum ditelusuri kebenarannya.

Mantan Menteri Kehakiman Brazil, José Eduardo Cardozo, meragukan tuduhuan Amaral. Sebab, Amaral sedang dalam posisi dituntut dan terancam kehilangan keanggotaan di Partai Buruh dan posisi di Senat.

“Dia bukan orang yang tepat untuk menyampaikan kebenaran,” kata Cardozo.

Dan memang benar demikian. Amaral, yang ditahan akhir November lalu karena skandal Petrobras, dikeluarkan dari penjara tanggal 19 Februari lalu.

Harian Brazil O Estado de S.Paulo, testimoni Amaral terkait dengan negosiasinya dengan kejaksaan untuk pengurangan hukuman.

Kedua, Lula menganggap tuduhan korupsi terhadap dirinya didorong oleh kepentingan politik. Dalam hal ini, isu korupsi sengaja dimaikan oposisi untuk menjatuhkan kredibilitas Lula dan Partai Buruh.

Tudingan Lula bukan tanpa alasan. Hanya beberapa hari sebelum penahanan itu, tepatnya 28 Februari 2016, Lula menyatakan kesediannya mencalonkan diri sebagai Presiden di pemilu 2018 asal mendapat restu dari partainya.

Tentu saja, bagi sayap kanan, pencalonan Lula bisa mengubur impian mereka merebut kembali kursi Presiden. Maklum, dengan popularitas yang dimilikinya, Lula tentu punya peluang besar untuk memenangi Pilpres itu.

Manipulasi Isu Korupsi

Memang, sejak beberap tahun terakhir, oposisi sayap kanan Brazil sangat ngotot menggulingkan pemerintahan Dilma Rousseff. Berbagai jalan mereka tempuh: demo jalanan, isu impeachment lewat parlemen, dan lain-lain. Tetapi belum berhasil.

Belakangan oposisi getol menggarap isu korupsi. Mereka menuding pemerintahan Dilma Roussef dan Partai Buruh terlibat kasus korupsi di perusahaan minyak negara Petrobras.

Dengan sokongan media massa, yang memang dikuasai penuh oleh oposisi sayap kanan, isu korupsi ini benar-benar memojokkan pemerintahan Dilma Rousseff. Alhasil, popularitas penerus Lula ini benar-benar melorot.

Tetapi isu korupsi ini manipulatif. Menurut Lincoln Secco, seorang sejarawan dari Universitas Sao Paulo, sejak tahun 2015 media massa sengaja menarget Partai Buruh.

“Skandal yang melibatkan PT (Partai Buruh) ditayangkan hampir setiap hari di televisi, tetapi nyaris tidak ada kritik terhadap pemerintahan PMDB di Sao Paulo,” kata Secco.

Padahal, dalam skandal Petrobras, hampir semua partai terlibat. Termasuk partai oposisi utama, Partai Sosial Demokrat Brazil (PSDB), yang paling getol menyuarakan isu korupsi di pemerintahan Partai Buruh.

Yang paling banyak terlibat adalah partai kanan Partai Progressif/PP (31 orang), Partai Gerakan Demokratik Brazil/PMDB (9 orang), Partai Buruh (9 orang), PSDB (1 orang), dan partai Sosialisnya Marina Silva (1 orang).

Memang betul ada politisi Partai Buruh yang terlibat korupsi. Tetapi, faktanya, lebih banyak koruptor dari partai sayap kanan yang notabene oposisi (PP, PMDB, PSDB, dan PSB). Tetapi kenapa media dan Kejaksaan hanya mengejar politisi Partai Buruh? Inilah janggalnya.

Reaksi Rakyat

Partai Buruh dan gerakan rakyat tidak terima dengan tuduhan korupsi itu. Mereka menggelar aksi protes untuk membela nama baik mantan Presiden Lula Da Silva.

Joao Pedro Stedile, pimpinan dari gerakan Petani Tak Bertanah (MST), mengatakan, Lula adalah korban dari upaya sengaja untuk menodai reputasinya.

“Alasan untuk ini tidak jelas, tetapi mendiskreditkannya dan mencegah pencalonannya sebagai Presiden di pemilu 2018,” kata Stedile.

Serikat buruh terbesar di Brazil, Central Única dos Trabalhadores (CUT), dengan anggota sebanyak 25 juta orang, menyerukan pembentukan “Front Luas” untuk membela Lula Da Silva.

“Pemimpin paling populer dalam sejarah Brazil dipaksa bersaksi oleh polisi Federal, meskipun tidak ada bukti,” tulis CUT dalam siaran persnya, Jumat (4/3).

Gerakan kaum miskin perkotaan, mahasiswa, professor Universitas, dan gerakan sosial lainnya juga menyatakan dukungan terhadap Presiden Lula Da Silva.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut