4 Negara Sosialis Ini Lakukan Revolusi Kesehatan

Kesehatan adalah hak dasar setiap manusia. Itu juga dijamin dalam Konstitusi kita. Kendati demikian, belum semua warga negara Indonesia bisa mengakses layanan kesehatan yang adil dan berkualitas.

Di Indonesia, yang sistim kesehatannya berorientasi bisnis, layanan kesehatan itu tidak murah. Ada banyak cerita tentang pasien miskin yang ditolak rumah sakit. Kalaupun sekarang ada yang namanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), rakyat tetap harus keluar uang.

Itupun ada kelas-kelasnya berdasarkan besaran iuran: kelas III dengan iuran Rp 25.500; kelas II dengan iuran Rp 51 ribu; dan kelas I dengan iuran Rp 80 ribu. Dan setiap kelas memperlihatkan perbedaan kualitas layanan. Itulah wajah sistim jaminan kesehatan nasional kita: berbayar dan berkelas-kelas.

Nah, mari kita lihat sistim kesehatan di empat negara di Amerika Latin: Kuba, Venezuela, Ekuador, dan Bolivia. Yang menarik, keempat negara sosialis ini menjadikan layanan kesehatan sebagai hak dasar bagi setiap warga negaranya.

Kuba: mengutamakan pencegahan

Layanan kesehatan di Kuba bersifat universal dan gratis. Tidak mengenal diskriminasi apapun. Bagi pemerintah Kuba, kesehatan adalah hak azasi manusia yang paling mendasar.

Yang revolusioner dari sistim kesehatan Kuba adalah pendekatannya: mengutamakan pencegahan. Artinya, negara dituntut memastikan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk memastikan rakyatnya tidak rentan terhadap penyakit.

Untuk mewujudkannya, Kuba menerapkan yang disebut “dokter keluarga”. Di Kuba, dokter tinggal dan hidup di tengah-tengah rakyat. Mereka hidup di tengah komunitas yang dilayaninya. Di situ mereka melayani, mengawasi, dan memeriksa kesehatan rakyat di komunitasnya. Tak jarang, dokter-dokter ini datang mengetuk rumah-rumah penduduk untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Berkat komitmen pemerintah Kuba atas kesehatan rakyatnya, tenaga dokter di Kuba melimpah. Di Kuba, 67 dokter melayani 10.000 orang. Lebih tinggi dari AS dengan 25 doktor per 10.000 orang. Malahan, ada 50.000 dokter Kuba yang dikirim ke 66 negara lain untuk misi solidaritas dan kemanusiaan.

Tidak hanya itu, anggaran kesehatan Kuba tidak pernah di bawah 10 persen dari APBN-nya. Ketika dicekik krisis, Kuba memilih memangkas belanja militernya ketimbang kesehatan. Anggaran kesehatan yang besar itu memungkinkan Kuba bisa mengembangkan teknologi kesehatannya.

Prestasi kesehatan Kuba menakjubkan. Angka kematian bayi (infant mortality rate) di Kuba berada di bawah lima bayi per seribu kelahiran. Ini termasuk yang terendah di dunia (lebih rendah dari AS dan Kanada). Kuba juga menjadi negara pertama di dunia yang menghapuskan penularan HIV dan Sipilis dari Ibu ke anak. Angka harapan hidup orang Kuba adalah 78 tahun.

Venezuela: revolusi sektor kesehatan

Sebelum pemerintahan Hugo Chavez, anggaran kesehatan selalu di bawah 2 persen dari PDB. Saat itu, jumlah rakyat Venezuela yang bisa mengakses layanan kesehatan dasar hanya 21,5 persen. Tak hanya itu, ada 21 persen penduduk Venezuela yang kekurangan gizi. Privatisasi kesehatan di Venezuela menyuburkan layanan kesehatan yang sekedar mencari laba. Kesehatan hanya bisa diakses dengan kartu kredit dan asuransi. Klinik dan rumah sakit swasta menjamur. Tentunya dengan biaya selangit. Sedangkan rumah sakit umum, yang tarifnya lebih murah, kebanjiran pengunjung.

Begitu Chavez berkuasa, sektor kesehatan mengalami revolusi. Melalui konstitusi yang disahkan tahun 1999, kesehatan dinyatakan sebagai hak dasar rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Lalu, seiring dengan mandat konstitusi, Chavez mendeklarasikan “sistem kesehatan baru”, yang dimaksudkan untuk mendemokratiskan layanan kesehatan dan menjadikan kesehatan sebagai hak rakyat paling fundamental.

Pada tahun 2000, Chavez lansung meluncurkan proyek Bolivar 2000, dengan dukungan militer, yang memberikan layanan kesehatan bagi mereka yang paling membutuhkan. Program ini diprioritaskan untuk mereka yang selama bertahun-tahun menunggu operasi tapi tidak pernah ada uang dan kesempatan yang diberikan oleh negara.

Pada tahun 2003, Chavez meluncurkan program Barrio Adentro I, yakni pembukaan klinik-klinik kesehatan di komunitas. Klinik-klinik ini memberikan layanan kesehatan kepada rakyat di setiap perkampungan (barrio) tanpa dipungut biaya. Kemudian, pada tahun 2005, Chavez meluncurkan misi Barrio Adentro II, yakni pembangunan klinik kesehatan yang disebut “Pusat Diagnosa Komprehensif (CDI)”, yang dilengkapi teknologi, dokter spesialis, dan lain-lain.

Sebelum Chavez berkuasa, Venezula butuh empat dekade untuk membangun 5,081 klinik kesehatan. Di era Chavez, 13 tahun revolusi Bolivarian berhasil membangun 13,721 klinik kesehatan. Pembukaan klinik-klinik kesehatan gratis itu membuat mayoritas rakyat Venezuela bisa mengakses layanan kesehatan berkualitas. Tahun 1997, hanya 21 persen rakyat Venezuela yang mengakses layanan kesehatan dasar. Pada tahun 2007, hanya 8 tahun setelah Revolusi, sebanyak 95% rakyat Venezuela bisa mengakses layanan kesehatan.

Layanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah ini juga berkualitas dan memuaskan rakyat. Survei dari Institut Statistik Nasional (INE) menyebutkan, sebanyak  81.8 persen warga menggunakan sistem kesehatan publik. Survei juga menyebutkan, sebanyak 93.5 persen rakyat Venezuela pernah menggunakan layanan Barrio Adentro.

Selain misi Barrio Adentro, sejak tahun 2004 lalu, Venezuela juga meluncurkan misi Miracle yang memberikan pengobatan gratis kepada 1,5 juta rakyat Venezuela yang menderita penyakit katarak atau penyakit mata lainnya. Pada tahun 2008, Chavez juga punya misi sosial untuk para penyandang cacat. Pada tahun 2010, Venezuela juga meluncurkan Smile Mission, yang memberikan layanan gratis untuk kesehatan gigi rakyat.

Tak hanya itu, untuk mencetak tenaga dokter, Chavez membuka pintu-pintu Universitas selebar-lebarnya agar rakyat bisa belajar ilmu kedokteran. Ini dicapai melalui mission sucre, yang memberikan kesempatan pemuda-pemuda untuk belajar di Universitas dengan biaya gratis. Kemudian, melalui Medicina Integral Comunitaria (MIC) alias Universitas Tanpa Tembok, pemerintah menyelenggarakan kursus kesehatan gratis, yang menyeimbangkan antara teori dan praktek, di semua klinik Barrio Adentro. Melalui program ini, anak-anak muda dan rakyat biasa di sekitar klinik diajari sistim pengobatan komprehensif berbasis komunits.

Dengan program itu, Venezuela mencetak tenaga dokter revolusioner, yang siap bekerja di mana saja. Saat ini, rasio dokter di Venezuela meningkat dari 20 orang dokter per 100.000 penduduk pada 1999 menjadi 80 orang dokter per 100,000 penduduk pada 2010, atau meningkat hingga 400 persen.

Ekuador: biaya murah tapi berkualitas

Tahun 2008, di bawah pemerintahan Rafael Correa, Ekuador menerapkan konstitusi baru. Konstitusi itu menegaskan kesehatan sebagai hak rakyat dan wajib dipenuhi oleh negara. Menariknya lagi, menurut konstitusi itu, pemenuhan hak kesehatan harus berbarengan dengan hak dasar lainnya, seperti hak atas air, pangan, pendidikan, olahraga, pekerjaan, jaminan sosial, kesehatan lingkungan dan segala hal yang mempromosikan kesejahteraan.

Untuk mencapai tujuan itu, Correa pun meningkatkan belanja kesehatan negerinya. Antara 2007 hingga 2014, Ekuador menggelontorkan 9 milyar USD untuk sektor kesehatan. Bandingkan dengan era sebelumnya: empat pemerintahan digabung hanya membelanjakan 2,6 milyar USD.

Infrastruktur kesehatan publik juga diperbaiki, terutama di daerah pedesaan dan daerah terpencil. Sejak tahun 2007, sudah 46 pusat kesehatan dan 12 rumah sakit baru dibangun. Sebelumnya rumah sakit publik Ekuador sudah ada 140 buah.

Meningkatnya jumlah rumah sakit dan pusat kesehatan publik itu memberikan ruang kepada jutaan rakyat Ekuador yang sebelumnya dikecualikan/terpinggirkan, baik karena faktor jarak/geografi, kemiskinan dan diskriminasi, untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas.

Bolivia: layanan medis gratis untuk semua

Bolivia, yang mayoritas penduduknya masyarakat asli/pribumi, berjibaku keluar dari kemiskinan. Lebih dari 60 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Dan tentu saja, mereka sulit mengakses layanan kesehatan. Masyarakat pribumi nyaris tidak pernah disentuh oleh layanan kesehatan.

Tahun 2013 lalu, di bawah pemerintahan Evo Morales, Bolivia meluncurkan program kesehatan yang disebut “Mi Salud” (Kesehatanku). Program ini memberikan layanan medis gratis kepada setiap rakyat Bolivia di seantero negeri.

Tahun pertama, program ini berhasil memberikan layanan kesehatan gratis kepada 500 ribu orang di kota El Alto, tempat di mana program ini dimulai. Dan sejak itu program ini telah diperluas ke kota-kota lain dan pelosok-pelosok kampung.

Memang, dibandingkan dengan Kuba, Venezuela, dan Ekuador, Bolivia agak tertinggal di belakang. Namun, program itu menunjukkan itikad kuat pemerintah Bolivia untuk mewujudkan mandat konsitusi-nya: kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut