Feminisme ala Preity Zinta

Bagi yang pernah nonton film Veer-Zaara (2004), mungkin yang ditangkap adalah kisah cinta dua anak manusia, Veer Pratap Singh dan Zaara Hayaat Khan, yang mengaduk-aduk perasaan dan menguras air mata.

Ditambah lagi, Veer dan Zaara berasal dari dua bangsa yang bermusuhan hingga sekarang. Veer (Shah Rukh Khan) adalah seorang perwira Angkatan Udara India. Sedangkan Zaara (Preity Zinta) adalah anak seorang politisi kaya di Lahore, Pakistan. Cinta mereka awet kendati dipisahkan paksa selama 22 tahun lebih.

Tetapi, bagi saya, disamping kisah cinta yang dahsyat itu, ada pesan yang tak kalah dahsyatnya: emansipasi perempuan. Dan tokohnya adalah Zaara Hayaat Khan. Menariknya, di pemunculan awal film itu, Zaara sudah mendeklarasikan dirinya sebagai perempuan merdeka: “Aku adalah Aku”.

Zaara bukan perempuan biasa. Dia mendobrak tradisi yang melekat dalam masyarakatnya. Bayangkan, seorang perempuan bangsawan Pakistan pergi ke India seorang diri. Hanya untuk mengantarkan abu jenazah neneknya. Tindakannya itu adalah sebuah kritik terhadap tradisi feodal yang menganggap lemah perempuan dan mengurungnya di dalam rumah.

Lihatlah kata-katanya: “Sampai sekarang, aku belum pernah melakukan hal-hal yang penting bagi hidupku, Ibu. Dan mungkin tidak akan melakukan hal-hal besar di masa depan. Hidupku, seperti hidupmu, akan dihabiskan untuk menjadi istri dan ibu yang baik.”

Itu belum seberapa. Lihatlah dialog Zaara dengan Bauji/Choudhary Sumer Singh (Amitabh Bachchan), paman sekaligus ayah angkat Veer. Bauji menceritakan kisah sukses dirinya membangun desa dari nol: mengadakan listrik, membangun rumah sakit, hingga sekolah gratis.

Lalu Zaara memotong, “bagaimana dengan anak perempuan?”

“Tidak mungkin bagi kami untuk mengirim anak perempuan itu setinggi itu (sekolah lanjutan). Lagipula mereka harus belajar untuk mengurus rumah tangga, buat apa sekolah yang tinggi?” jawab Bauji dengan santai.

“Itu tidak adil, Bauji,” bantah Zaara.

“Apa yang anda dan Maati telah lakukan untuk desa ini, orang lain butuh berabad-abad untuk mencapainya.”

“Tapi sementara kalian mempersiapkan laki-laki untuk menghadapi dunia, kalian melumpuhkan perempuan. Itulah mengapa seorang Veer bisa menjadi seorang pilot Angkatan Udara, sedangkan perempuan-perempuan desa tetap buta huruf.”

“Para gadis sekarang sudah mencapai bulan. Mereka berjalan bahu-membahu dengan laki-laki. Dengan pendidikan seorang gadis desa dari sini bisa mengalahkan Veer.”

Dahsyat sekali kan gagasan emansipatoris dari Zaara ini. Dan singkat cerita, karena masukan dia, Bauji membatalkan pembangunan lapangan kriket dan mengubahnya jadi Sekolah Perempuan. Dan perempuan desa didukung untuk bersekolah lebih tinggi.

Dan masih ada lagi. Untuk diketahui, Zaara ini sebetulnya sudah dipaksa bertunangan dengan Raza Sharazi (Manoj Bajpayee), anak seorang politisi Pakistan. Sebetulnya, ini pertunangan politik. Jadi, ayah Zaarah, Jahangir Hayaat Khan (Boman Irani), seorang kaya dengan ambisi politiknya yang tinggi, ingin terjun ke politik. Agar jalannya mulus, dia dibantu oleh Abdul Zharazi, ayah dari Raza Sharazi. Nah, untuk menjaga persekutuan politik itu, Zaara dan Raza hendak dinikahkan.

Sejak awal Zaara tidak menyetujui pernikahan politik itu. Dia memberontak. Dalam keinginnya, laki-laki yang hendak dinikahinya adalah laki-laki yang menyerahkan hidupnya untuk dirinya. Bukan laki-laki yang sekedar menginginkan tubuhnya, apalagi laki-laki patriarkal yang hendak menjadikannya budak rumah-tangga.

Dan dalam film ini, Zaara memang membatalkan pernikahannya dengan Raza. Dia memilih pergi ke Punjab, kampung halamannya Bauji dan Maati, untuk mewujudkan mimpinya membangun sekolah perempuan untuk perempuan desa.

Saya kira, yang membuat Veer klepek-klepek adalah pendiriannya sebagai perempuan merdeka, pemikirannya yang emansipatoris, dan kepercayaannya pada cinta sejati. Ya, memiliki kekasih yang progressif, apalagi feminis, tentu menyenangkan sekali.

Selain soal kisah cinta dan isu-isu feminis, film ini juga berbicara tentang perjuangan menegakkan hukum. Dan ini diwakili oleh sosok Saamiya Siddiqui (Rani Mukerji), seorang pengacara muda yang menganggap tugas pengacara bukanlah berjuang memenangkan kasus, melainkan memenangkan kebenaran.

Saya kira, sutradara film ini, Yash Chopra, juga punya misi khusus: mengajak kaum muda India dan Pakistan untuk menatap masa depan dengan lebih baik, tanpa mengungkit-ungkit lagi pahitnya perang dan konflik antar kedua negara.

Film ini sangat menarik. Bukan cuma alur ceritanya, pesan-pesannya, tetapi juga lagu-lagunya. Terutama lagu “Tere Liye” itu—bukan Tere Liye yang penulis novel cinta-cinta itu. Lagu itu mewakili film itu: kesetiaan dan cinta.

Risal Kurnia

Veer-Zaara (2004) | Durasi: 192 menit | Negara: India | Sutradara: Yash Chopra | penulis: Aditya Chopra | Pemeran: Shah Rukh Khan, Preity Zinta, Rani Mukerji, dll

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut