10 Lagu Tentang Emansipasi Perempuan

bikini Kill.jpg

Inilah 10 lagu teratas tentang emansipasi perempuan versi The Nation. Ini adalah salah satu majalah mingguan tertua di Amerika Serikat. Didirikan tahun 1865, majalah ini dianggap berhaluan liberal dan progressif.

Pemilihan 10 lagu ini dilakukan untuk menyambut peringatan Amandemen ke-19 konstitusi AS. Amandemen inilah yang memberikan hak pilih pertama kali bagi perempuan untuk memilih dalam pemilu.

Sebagai catatan, karena The Nation adalah koran liberal-progressif, maka lagu-lagu pilihannya pun berdasarkan perspektif feminisme liberal. Karena itu, harap dimaklumi mengapa lagu-lagu berikut yang dipilih:

1. Aretha Franklin, “Respect ”

Lagu ini dirilis pertama kali tahun 1965, lalu menjadi terkenal tahun 1967, ketika dinyanyikan oleh Aretha Franklin. Lagu ini kemudian populer dikalangan aktivis hak-hak sipil dan gerakan feminis. Empat dekade berlalu lagu ini tetap populer dan menjadit hits di mana-mana.

Respect mewakili harapan setiap perempuan dan laki-laki di dalam rumah tangga, yakni rasa saling menghormati. Ini juga mewakili suara-suara mereka yang selama ini kehilangan hak-haknya sebagai manusia, seperti korban rasialisme.

2. Odetta, “Paths of Victory ”

Odetta adalah aktivis hak-hak sipil. Ia banyak menyanyikan lagu-lagu Bob Dylan. Martin Luther King Jr sering menyebut dia ‘ratu musik kerakyatan Amerika’.

Lagu “Paths of Victory” ditulis Bob Dylan tahun 1962. Odetta sendiri sangat dipengaruhi oleh Bob Dylan. Tahun 1960-an sering disebut tahun kelahiran kembali musik rakyat dan gerakan sipil. Sejak itu, lagu ini menjadi simbol gerakan sipil, termasuk gerakan feminis. Lyrik-nya sendiri tidak spesifik berbicara pembebasan perempuan.

3. Lesley Gore, “You Don’t Own Me”

Ini adalah lagu populer yang ditulis oleh penulis lagu Philadelphia John Madara dan David White. Tahun 1963, lagu ini direkam ulang oleh Lesley Gore dan menjadi sangat populer. Sejak itu lagu ini dikenal sebagai lagu feminis.

Lagu ini berbicara tentang perempuan merdeka, yang berdaulat atas tubuhnya sendiri, bebas melakukan apa yang diinginkan, dan tidak terikat oleh relasi atau aturan apapun yang menghalangi kemerdekaannya. Ia bebas menjalani hidup sesuai dengan keinginannya.

4. Bikini Kill, “Rebel Girl ”

Bikini Kill adalah band feminis beraliran punk rock di Amerika Serikat. Salah seorang pentolan grup ini adalah Kathleen Hanna, seorang aktivis feminis dan penulis zine punk. Band ini juga merupakan pelopor gerakan Riot grrrl, sebuah gerakan feminis dengan menggunakan punk rock di pertengahan tahun 1990-an. Lagu-lagu mereka banyak menyoroti isu-isu seperti mengutuk pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan terhadap perempuan, pembagian kerja seksual yang timpang, patriarkhi, dan rasisme.

Salah satu lagu paling populer band ini adalah “Rebel Girl”, yang diciptakan tahun 1991 dan direlease tahun 1993. Konon, lagu ini didedikasikan untuk seorang perempuan bernama Juliana Luecking. Lagu ini sering dianggap sebagai manifesto-nya kaum perempuan yang ingin memberontak dan melakukan revolusi sosial.

“Rebel Girl” versi lain ditulis oleh Joe Hill untuk mengenang aktivis buruh dan tokoh feminis, Elizabeth Gurley Flynn.

5. Sarah Jones, “Your Revolution”

Sarah Jones adalah artis dan penyair yang banyak berbicara tentang hak azasi manusia, kesetaraan gender, dan perlawanan terhadap UU yang mendiskrimasi perempuan.

Melalui lagu “Your Revolution”, Sarah Jones mengeritik berbagai prasangka maupun cara pandang yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek seksual. Ia juga mengeritik eksploitasi seksual perempuan dalam lagu-lagu popular, termasuk hip-hop. Lagu ini terinspirasi dari lagu “The Revolution Will Not Be Televised” karya Gil Scott-Heron.

6. Nellie McKay, “Mother of Pearl ”

Nellie McKay adalah seorang artis dan penulis lagu. Sebagai bekas pelawak tunggal, ia sering menggunakan lagu-lagunya untuk membawa pesan satire. Kebanyakan soal feminisme.

Lagu “Mother of Pearl” pun liriknya sangat satir. Dimulai dengan kata-kata “Feminists don’t have a sense of humor/Feminists just want to be alone”. Namun, dalam lirik selanjutnya, ia melontarkan kritikan bergaya satire terhadap kekerasan terhadap anak-anak, pemerkosaan, diskriminasi upah terhadap perempuan, aborsi, dan lain-lain.

7. Liz Phair, “Girls! Girls! Girls!”

Liz Phair adalah penyanyi Indie-Rock Amerika. Ia populer dengan album debutnya di tahun 1993,  Exile in Guyville. Di album ini, ada lagu berjudul “Flower”, yang menyinggung kebebasan perempuan atas tubuhnya, termasuk mengekspresikan kehendak seksualnya.

Dalam lagu “Girls! Girls! Girls” Liaz makin memperlihatkan ekspresi kebebasannya sebagai perempuan. Ini nampak dalam lirik: That if I want to leave, you better let me go/ Because I take full advantage of every man I meet/ get away almost every day.

8. Destiny’s Child, “Survivor ”

Lagu “Survivor” dinyanyikan oleh grup R&B Destiny’s Child. Lagu ini ditulis oleh  Beyoncé Knowles, Anthony Dent, dan Mathew Knowles. Dan dirilis tahun 2001 lalu.

Beberapa lagu Destiny’s Child memang mempromosikan emansipasi perempuan. Bahkan, beberapa lagunya memproklamirkan bahwa perempuan tidak perlu bergantung di ketiak laki-laki, seperti Independent Woman dan Survivor. Destiny Child juga berbicara agar perempuan bebas memiliki tubuhnya sendiri dan bangga dengan seksualitasnya.

Lagu “Survivor” menegaskan bahwa perempuan tidak akan menjadi lemah hanya karena ditinggal pasangan laki-lakinya (suami/pacar). Bahkan, setelah ditinggalkan, si perempuan malah tambah kuat secara moral, lebih kaya secara finansial, lebih bijak, dan lebih cerdas.

9. Janis Ian, “At Seventeen ”

Lagu “At Seventeen” dinyanyikan oleh penyanyi folk Amerika, Janis Ian. Lagu ini pertamakali direlease di tahun 1975.

Janis sendiri mulai terkenal ketika pada tahun 1965, di usia 15 tahun, ia menulis lagu berjudul “Society’s Child”. Lagu ini menyoroti dampak diskriminasi rasial terhadap kehidupan anak-anak. Ia mengambil kisah dari seorang gadis kulit putih dengan kekasihnya yang keturunan kulit-hitam.

Dan dilagu “At Seventeen”, ia menyoroti tentang kehidupan remaja: ilusi kecantikan dan popularitas. Ia mengambil sudut pandang perempuan jelek yang terabaikan di sekolahnya. Sementara perempuan cantik, yang menjadi ratu di sekolahnya, menjadi rebutan dan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Namun, popularitas bukanlah segalanya. Dari realitas itu, si perempuan jelek belajar memahami realitas. Seperti dikataan Janis di lirik pembuka lagunya: I learned the truth at seventeen.

10. Tupac Shakur, “Keep Ya Head Up”

Lagu “Keep Ya Head Up” adalah lagu rapper terkenal Amerika, Tupac Shakur. Di pembukaan lagu ini ditulis “lagu ini dedikasikan untuk Latasha Harlins”. Latasha Harlins adalah gadis negro yang ditembak Soon Ja Du, seorang Korea yang memiliki sebuah toko.

Lagu ini sebetulnya berbicara tentang kurangnya penghargaan terhadap perempuan, khususnya perempuan kulit hitam. Ini nampak jelas dalam lirik lagunya: I wonder why we take from our women/ Why we rape our women, do we hate our women?/ I think it’s time to kill for our women/ Time to heal our women, be real to our women.

………………

Catatan: keterangan soal penyanyi dan lagunya adalah tambahan dari kami. Keterangan itu kami olah dari berbagai sumber. Dan, perlu kami tegaskan, bahwa pemilihan 10 lagu ini tidak mewakili sikap atau ekspresi politik dari redaksi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • mataniari hamonangan

    artikel yang kawan-kawan redaksi terjemahkan dan publikasikan diberdikarionline ini menunjukkan ‘ambiguitas’ redaksi. walaupun dengan berbagai tambahan yang sifatnya ‘korektif’. dari kesepuluh lagu tentang emansipasi perempuan tersebut hampir semua lagu bicara dengan semangat feminis liberal. majalah The Nation memang berhaluan liberal-progresif atau hampir sama dengan ‘new left’, tetapi lebih kuat haluan liberalnya. saya tidak menolak lagu-lagu tersebut sebagai sebuah ‘ekspresi politik’, tapi yang saya kritik adalah ‘ambiguitas’ kawan-kawan redaksi dengan memberikan “catatan” untuk menegaskan kembali sikap politik redaksi agar tidak dianggap ‘liberal’. tetapi biar pun begitu saya menghormati ‘otoritas redaksi’ kawan-kawan berdikarionline. selain itu saya mendapatkan artikel yang cukup bagus dari internet tentang feminisme marxis dengan feminisme liberal untuk kawan-kawan baca, judulnya “MARXIST WOMEN VERSUS BOURGEOIS FEMINISM” yang ditulis oleh Hal Draper dan Anne G. Lipow.
    HORAS!! salam hormat…

    HENTIKAN NEOLIBERALISME!!
    LAKSANAKAN PASAL 33 UUD 1945!!

  • Jpang

    lagu dari tanah air ada nggak ya?

  • DjiSamSoe

    Lagu-lagu dari Tanah Air misalnya Lagu-lagu keroncong. Ada juga lagu daerah, Walaupun bersifat kedaerahan.