Bung Hatta Bicara Energi Terbarukan

Begitu bumi kita diambang krisis perubahan iklim, yang banyak dipicu oleh pemanasan global, banyak yang menggugat penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil.

Dibanding tahun 1906, suhu permukaan bumi hari ini rata-rata meningkat antara 1.1 hingga 1.6 derajat Fahrenheit –atau sekitar 0,6 hingga 0,9 derajat Celsius.

Pemanasan global mempercepat laju penyusutan lapisan es di kutub Bumi. Bersamaan dengan itu, permukaan air laut menaik antara 7 hingga 23 inchi (18 hingga 59 cm). Curah hujan makin tinggi, berakibat banjir makin sering. Di sisi lain, karena perubahan iklim ekstrim, El Nino dan La Nina juga sering terjadi.

Pemanasan global telah membawa bumi dalam bahaya. Biang keladinya adalah penggunaan bahan bakar fosil yang terus-menerus menyemburkan emisi melalui cerobong dan knalpot. Tidak salah kemudian, banyak orang yang menggugat penggunaan bahan bakar fosil.

Bersamaan dengan itu, seruan menggunakan energi terbarukan makin membahana. Meskipun, pada prakteknya, peralihan ke energi terbarukan belum signifikan.

Hampir seabad yang lalu, Bung Hatta sudah bicara tentang energi fosil dan terbarukan. Dalam buku Beberapa Fasal Ekonomi, yang merupakan kumpulan artikel yang ditulis Bung Hatta antara 1935-1941, ia menyinggu negeri yang punya banyak aliran sungai dan air terjun.

Menurutnya, selain tempat hidup bagi ikan dan banyak bahan makanan yang dibutuhkan oleh manusia, sungai dan air terjun juga bisa sumber tenaga atau energi listrik.

“Sebab itu, negeri yang banyak mempunyai gunung, sungai dan air mancur, negeri itu kaya akan tenaga listrik,” tulis Bung Hatta.

Tentu saja, kata Bung Hatta, karena kaya akan tenaga listrik, negeri tersebut tidak perlu bergantung pada batubara. Semua kebutuhan listriknya, yang diperlukan untuk menyalakan lampu, menggerakkan mesin, hingga menjalankan kereta api, bisa diperoleh dengan memanfaatkan “kodrat air”.

“Dan ongkosnya lebih murah daripada menggali tambang,” terangnya.

Ditambah lagi, karena air tidak ada habisnya, tenaga listrik yang dihasilkan oleh air juga tidak pernah habis. Ini yang membuat pembangkit listrik tenaga air lebih berkelanjutan.

Karena itu, Bung Hatta meyakini, negeri yang memiliki banyak gunung dan aliran sungai lambat laut akan lebih berbahagia ketimbang negeri yang bergantung pada batubara.

Tentu saja, pikiran Bung Hatta itu sangat relevan. Pertama, energi terbarukan merupakan jalan keluar atas pemanasan global saat ini. Kedua, Indonesia kaya dengan potensi energi terbarukan, yang memungkinkan negeri ini berdikari dalam urusan energi.

Sayang sekali, sampai detik ini kita masih sangat bergantung pada energi fosil. Dari total konsumsi energi 2012, ketergantungan terhadap energi fosil mencapai 94,4 persen.

Hingga 2017, baru sekitar 12 persen potensi energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia yang berhasil digunakan sebagai energi listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Padahal, seperti diakui PLN sendiri, potensi EBT Indonesia mencapai 443 gigawatt (GW). Sayang sekali, hingga tahun lalu, potensi pemanfaatan EBT baru berkisar 8 GW.

Memang, Indonesia punya ambisi mulia untuk mengejar target bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025. Faktanya, hingga 2017, bauran EBT Indonesia masih di angka 11,9 persen.

Memang tidak mudah menghentikan ketergantungan pada energi fosil, terutama karena logika profit yang sudah berpuluh-puluh abad berkelindan di dalamnya. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Apalagi, Indonesia punya potensi besar untuk berdikari di lapangan energi dengan memanfaatkan kekayaan energi terbarukan.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut