“Zaman Kalabendu” Ronggawarsita

Ada satu kepercayaan bahwa waktu itu bergerak sirkular. Dari kepercayaan ini lalu timbullah konsep tumimbal lahir untuk memetik karma: keadilan yang tak terletak di ujung sana.

Nietzsche, yang tak meyakini Tuhan personal, pernah mengumandangkan soal The Eternal of Recurrence of the Same. Tapi sebagian komentator menafsirkannya sebagai ilham, semacam inspirasi yang diperoleh para seniman. Sebagian lagi, seperti Deleuze, menafsirkannya sebagai semacam Kuasa (der Macht), daya hidup yang musykil terlokalisir—yang di kemudian hari dielaborasikan lebih lanjut oleh Freud.

Pada titik ini musnahlah apa yang disebut sebagai “progress.” Kemajuan hanyalah ilusi: kategori yang merupakan sisa produk modernisme yang berangkat dari kerancuan tata bahasa.

Hampir sezaman dengan Nietzsche, yang konon gemar menghisap opium Jawa, Ronggawarsita mewedar perihal kala yang disimbolkan dengan ular yang mencaplok ekornya sendiri, “begjane ula daulu/ cangkem silite anyaplok.”

Dalam salah satu karyanya, Serat Sabdatama, Ronggawarsita mengabarkan tentang sepotong zaman yang mengalami dekadensi di setiap lini: kalabendu (zaman kualat). Bendu saya maknai sebagai kualat sebab penghukuman di sini—terjerat kualat—karena pilihan si manusia sendiri. Jadi, bukan semacam azab sebagaimana yang terdapat dalam kosakata agama-agama abrahamik—yang memiliki konsep waktu linear, bertumpu pada esok.

Karena itu, bagi saya, seandainya pun karya-karya Ronggawarsita benar-benar sebuah nujuman, sebagaimana yang dikenal selama ini, dalam arti konsep waktu sirkular inilah ia mesti diletakkan.

Barangkali, konsep waktu Einsteinian—dengan lompatan-lompatan waktunya—juga terinspirasi dari kala sebagaimana yang pernah didedahkan oleh Ronggawarsita, Sri Aji Jayabaya ataupun para perenialis non-abrahamik (aryanik).

Saya tak mengatakan bahwa Einstein yang dikenal agnostik percaya pada konsep tumimbal lahir. Tapi interpretasi Einstein atas waktu seolah berpijak di akar yang sama dengan Ronggawarsita ataupun para perenialis non-abrahamik.

Barangkali, yang membedakan Einstein dengan Ronggawarsita adalah bahwa Einstein berangkat dari sebuah kecerdasan imajinal, persis seorang seniman yang mencecap ilham. Adapun pada kasus Ronggawarsita, kala itu dipahami secara eksperiental (gambuh).

Singkatnya, nujuman Ronggawarsita—seperti yang tertuang dalam Sabdatama di mana semua baitnya bermetrum gambuh—tak sekedar berdasarkan intuisi, tapi juga rumus-rumus tertentu. Memang, dibutuhkan kecerdasan yang tinggi untuk mendekati kedekatan nujuman sebagaimana Ronggawarsita.

Seorang sosiolog asal Polandia, Zigmundt Bauman, pada tahun 2012, pernah mendiagnosis zaman belakangan ini. Ia mengatakan bahwa telah terjadi apa yang disebut sebagai interregnum yang bersifat global, yang dalam kata-kata Gramsci, “…the old is dying and the new cannot be born (Times of Interregnum, 2012).

Heidegger juga, dalam Being and Time (1962), memilah adanya dua macam waktu: objektif dan subjektif yang bersifat subjektif-eksistensial. Yang pertama merupakan kesepakatan yang menandakan bahwa manusia itu In-der-Welt-sein yang berkaitan dengan sorge. Yang kedua, berkaitan dengan contoh paling mengena mengenai waktu sirkular adalah menstruasi pada wanita.

Secara kemewaktuan, menstruasi berarti sebuah interregnum. Pada saat itu, libido mereka tinggi namun, persis dedahan Bauman, bingung tentang apa yang semestinya dilakukan.

Kalabendu, interregnum, mestruasai pada wanita, secara psikologis adalah sebuah pengalaman individual yang khas, “Jemeinigkeit,” kata Heidegger, in each case mine. Namun dapat keluar dan memengaruhi dunia sekitar (sosial).

Kalabendu Ronggawarsita dapat dimaknai sebagai sepotong masa yang tak mapan, ada kekuasaan kolonial sekaligus resistensinya, sedangkan pemerintahan baru masihlah sebuah angan yang gamang. Atau dalam pengabaran Gramsci perihal itu kutukan zaman, “…the ruling class has lost its consensus, i.e., no longer ‘leading’ [‘dirigente’] but only ‘dominant,’ exercising coercive force alone, this means precisely that the great masses have become detached from their traditional ideologies, and no longer believe what they used believe previously, etc.

Kalabendu, oleh Ranggawarsita, ditandai oleh beberapa hal: “Ilang budayanipun/ Tanpa bayu wayane ngalumpuk/ Saciptaning wardaya ambebayani/ Ubayane nora payu/ Kari kataman pakewoh.”

[redup budaya

cultural malaise

asa cuma cakrawala

upaya tiada harga

terlilit sulit yang tersisa]

Dan, yang utama, seperti halnya menstruasi pada wanita, “…sangsaya pakewuh/ ewuh aya kang linakon.” Sebab, belenggu kalabendu itu, “ora kena sinirep limpading budi.” Tak terhitung mulai dari Heidegger, Gramsci, hingga Bauman, tak menyajikan jalan yang terang atas kutukan zaman. Seandainya pun digege, “malah sumuke angradon.”

HERU HARJO HUTOMO, penulis, peneliti lepas dan perupa, penulis Jalan Jalang Ketuhanan: Gatholoco dan Dekonstruksi Santri Brai, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2010

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut