Xi Jinping, Presiden Tiongkok Yang Sederhana

Akhir Desember 2013 lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping kedapatan sedang mengantre di sebuah restoran bakpao biasa di Beijing. Yang tidak lazim, Xi berkunjung ke restoran itu tanpa pengawalan. Karenanya, para pengunjung restoran nyaris tidak menyadari kehadiran orang nomor satu di Tiongkok itu.

Sudah begitu, kendati menjabat Presiden dan Sekjend Partai Komunis, Xi turut mengantre bersama pengunjung lain. Ia juga memesan dan membayar sendiri makanan yang dipesannya. Setelah itu, ia membawa sendiri nampan berisi makanan pesanannya ke salah satu meja.

Menu pesanan Presiden Xi Jinping juga sangat sederhana: enam bakpao berisi daging babi, hati goreng dan sepiring daun sawi. Semuanya dibayar dengan harga 21 Yuan (kira-kira Rp 42.500). Dan, kata pegawai restoran, Xi merogoh kantongnya sendiri untuk membayar makanan itu.

Yang juga menarik, kedatangan Xi tidak didahului pemberitahuan. Juga tidak ada pasukan khusus (paspampres) yang menyisir lokasi. Bahkan, ketika pengelola restoran menyadari kehadiran sang Presiden, keadaan restoran tetap seperti biasa. Pengunjung biasa tetap dibebaskan keluar dan masuk restoran tersebut.

Memang, sejak menjabat sebagai Presiden, Xi Jinping tampil sangat low-profile. Tidak ada karpet merah untuk menyambut kunjungannya. Juga tidak dibolehkan jamuan makan mewah. Bahkan, ia mulai membatasi jumlah pengawalan. Tak hanya itu, ia juga melarang ada pengalihan atau pengosongan lalu-lintas saat kunjungannya.

Tindakan Xi Jinping itu tidak jamak di kalangan pejabat. Di Indonesia, para pejabat gila perlakuan khusus. Kalau lagi kunjungan, Presiden SBY mendapat pengawalan ekstra-ketat. Kalau dia pakai jalur udara, maka banyak penerbangan umum yang akan dibatalkan.

Begitu juga dengan kelakuan pejabat lain, dari Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, hingga Lurah/Kepala Desa. Di Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang Bupati memerintahkan Satpol PP untuk memblokir bandara karena tidak mendapat tiket. Juga kelakuan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo yang doyan mengumbar amarah tatkala tidak mendapat perlakuan khusus saat melakukan penerbangan.

Sosok Xi Jinping, yang baru dilantik sebagai Presiden Tiongkok pada bulan Maret 2013 lalu, memang sedang naik daun. Selain kesederhanannya, Xi juga menjadi harapan baru bagi Tiongkok dalam memerangi salah satu penyakit terbesar di negeri itu, yakni korupsi. Salah satu sumpahnya: memberantas korupsi tanpa pandang bulu.

Sebagai buktinya, Xi mengatakan akan menyasar para “harimau” (birokrat berkuasa) dan “lalat” (birokrat rendahan). Ia berjanji akan tegas menyelidiki setiap pejabat tinggi yang diduga melakukan korupsi. Xi tidak mengulur waktu untuk membuktikan janjinya. Sepanjang tahun 2013, ada 8 pejabat negara setingkat dan di atas Menteri yang diselidiki terkait dugaan korupsi. Tak hanya itu, ada sekitar 129.000 kasus korupsi dan indisipliner yang langsung diselidiki di tahun pertama pemerintahannya.

Selain itu, sebagai bukti tidak pandang bulu, Xi juga mengintensifkan perang melawan korupsi di tubuh partainya. “Kita harus tegas melawan formalisme, birokratisme, hedonisme, pemborosan, korupsi dan berbagai kesalahan lain dalam berbagai manifestasinya,” kata Xi di hadapan 3000-an legislator dari partai Komunis.

Untuk menihilkan peluang korupsi di tubuh partainya, Xi mendukung penuh pembentukan semacam komisi disiplin. Dia mengatakan, di hadapan komisi disiplin ini, tidak satupun kader partai yang kebal hukum. Siapapun, termasuk pejabat tinggi partai, akan dihukum bila melanggar disiplin partai.

Tak hanya itu, dia juga melarang pejabat dan fungsionaris partai menerima menerima hadiah, jamuan makan mewah, karangan bunga, dan melakukan upacara penyambutan. Bahkan, porsi makan para pejabat pun hendak diaturnya: tidak boleh lebih dari 4 piring dan semangkok sup.

Pada bulan Maret 2013, kebijakan ini menemukan tumbalnya. Enam fungsionaris partai, yang ketahuan menghabiskan 63.000 dollar AS untuk menghibur 80-an temannya di sebuah resort pinggir pantai, langsung diberhentikan dan diproses secara hukum.

Namun, banyak pihak yang menilai, bahwa perang melawan korupsi di internal partai Komunis telah menjadi selubung bagi pertarungan politik diantara kader. Banyak kader partai menggunakan isu korupsi untuk menghajar kader lain. Kasus yang paling mencuat adalah Bo Xilai, seorang tokoh partai Komunis dari Chongqing. Banyak yang menilai, penangkapan Bo Xilai, yang dituding menerima suap, sangat bermuatan politis. Maklum, gaya populisme Bo Xilai dianggap ancaman bagi elit partai.

Selain kampanye melawan korupsi, Xi Jinping juga populer karena kampanye “garis massa”-nya kepada partai Komunis. Kampanye ini dimaksudkan untuk mendorong seluruh kader partai komunis, yang sekarang berjumlah 85 juta orang, untuk menyatu dengan massa rakyat. Tak hanya itu, kampanye ini juga dimaksudkan untuk memberangus gaya kerja dekaden, seperti birokratisme, formalisme, hedonisme, dan pemborosan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut