Winda Sari, Pasien Miskin Yang Sempat Diusir Oleh Rumah Sakit Meninggal Dunia

Mendadak kabar duka tersiar dari broadcast blackberry massanger yang dikirimkan oleh beberapa orang wartawan media yang kebetulan sedang liputan di lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung di bilangan Jl. Dr. Rivai No.6 Penengahan.

Kabar itu menyebut bahwa Winda Sari (25), pasien miskin yang beberapa waktu lalu sempat terusir dari RSUD Abdoel Moeloek, telah meninggal dunia tepat pukul 17.0 WIB Rabu sore tadi (21/1). Sontak saja puluhan aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi internal dan eksternal kampus yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembela Aspirasi Rakyat (GEMPAR) saling berkoordinasi dan segera berdatangan untuk memastikan.

Faktanya: Winda telah berpulang pada Sang Maha Pencipta. Ia meninggalkan seorang suami dan putri tunggalnya untuk selamanya. Kondisinya  memang semakin kritis akibat infeksi dari luka di kakinya ditambah dengan komplikasi diabetes yang dideritanya kian memperburuk keadaan. Jenazahnya segera dimandikan dan dishalatkan di RSUDAM dan malam ini juga dikebumikan di pemakaman umum milik rumah sakit di daerah jagabaya 1 Tanjung Karang Timur.

Seperti diketahui, Winda bersama suami dan anaknya selama ini hidup menggelandang dengan gerobak rongsokannya di seputar pusat kota Bandar Lampung. Berita tentangnya mencuat ke muka publik persisnya pada hari minggu 4 Januari lalu saat ia diusir oleh pihak RSUDAM dan dijemput oleh suaminya Sagimin dengan mengenakan gerobak rongsok sumber mata pencahariannya.

Ternyata Winda merupakan korban tabrak lari mobil tak bertanggung jawab di sekitar Jl. Teuku Umar yang mengakibatkan kakinya luka parah, hingga dibawa oleh suaminya ke rumah sakit daerah, namun selama 6 hari disana ia hanya ditelantarkan dan belakangan disuruh pulang karena statusnya yang tidak punya kartu identitas kependudukan.

Selama beberapa hari Winda dan suaminya harus pasrah kembali menggelandang di dalam gerobak dengan luka di kaki yang kian membusuk. Beruntung banyak pihak yang merespon dan membantunya, para wartawan media pun solid bersimpati mengekspose perkara ini, hingga pihak-pihak yang peduli membawa Winda ke Klinik Kesehatan kecil yang bersedia menampungnya. Namun, berkat desakan politis dari aliansi GEMPAR yang digawangi oleh aktivis-aktivis pergerakan mahasiswa se-Lampung, Winda bisa kembali diterima dan dirawat cukup serius di RSUDAM hingga akhirnya meninggal dunia karena terlambat ditangani.

Rismayanti, Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Bandar Lampung, mengatakan, “tentu soal umur adalah urusan Tuhan, tapi kasus ini akan menambah catatan hitam RSUDAM yang telah kesekian kalinya menelantarkan pasien miskin, soal tindakan medis yang terakhir dilakukan disebut sudah maksimal tentu tidak lantas membuat kita lupa, bahwa RSUDAM sebelumnya telah bertindak keji dengan melakukan penelantaran dan pengusiran Winda Sari sampai ia harus terlunta di jalanan.”

Lebih lanjut Risman menegaskan, “ini juga tanggung jawab pemerintah Gubernur Lampung, bahwa pasien Miskin adalah tanggung jawab negara, berhak mendapatkan layanan kesehatan yang  sama dan rata dengan masyarakat lain tanpa membedakan kelas ekonominya. Hari ini mustinya pemerintah melakukan tindakan tegas, dari mulai sanksi hingga pemecatan Dirut RSUDAM, bukan malah diam dan melakukan pembiaran, Ridho Ficardo jangan kehilangan taring, ini adalah moment untuk menunjukan bahwa Ridho Ficardo gubernur Lanpung yang membela kepentingan rakyat miskin, bukan yang membela kepentingan Kapitalis ! Jangan sampai ada lagi Winda-Winda lainnya di negeri ini !”

Saddam Cahyo

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut