Jajak Pendapat Unggulkan Partai Kiri Menangi Pemilu Yunani

Syriza.jpg

Dua hari menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Yunani, sejumlah lembaga jajak pendapat memprediksi partai oposisi baraliran kiri, Syriza, akan memenangi pemungutan suara.

Jajak pendapat terbaru dari Metron Analysis menunjukkan bahwa Syriza akan memimpin 5,3 persen atas pesaingnya dari partai kanan, Partai Demokrasi Baru (ND). Sebelumnya, perbedaan suara kedua partai diperkirakan 4,6 persen. Sementara jajak pendapat RASS memperkirakan Syriza akan memimpin 4,2 persen dibanding partai pesaingnya.

Jajak pendapat dari ALCO menunjukkan bahwa Syriza akan meraih 33,8 persen suara. Sementara Syriza membutuhkan 36-40 persen suara untuk menjadi kekuatan mayoritas di parlemen. Jajak pendapat ALCO juga menunjukkan bahwa masih ada 9 persen pemilih yang belum menentukan pilihan politik mereka.

Selain itu, menurut jajak pendapat, tempat ketiga akan ditempati oleh partai tengah To Potami (Sungai), yang juga akan menjadi kunci dalam koalisi di parlemen. Urutan keempat, versi ALCO, diprediksi akan ditempati oleh partai ultra-kanan Golden Dawn. Sementara versi RASS, posisi keempat akan diduduki oleh Partai Komunis Yunani (KKE).

Menurut UU Pemilu Yunani, sebuah partai harus meraih suara minimal 3% untuk bisa menempatkan wakilnya di parlemen. Selain itu, partai pemenang pemilu akan meraih bonus 50 kursi.

Dalam kampanye terakhirnya pada hari Kamis (22/1) lalu, Syriza berhasil menghadirkan puluhan ribu massa. “Pada hari Senin, penghinaan nasional akan berakhir. Kami akan mengakhiri segala dikte dari luar,” kata Alexis Tsipras, 40 tahun, Ketua Partai Syriza, yang dikenal getol mengecam kebijakan neoliberal di Yunani.

Syriza adalah koalisi kiri radikal, baik radikal maupun reformis, yang terbentuk pada tahun 2004. Beberapa grup kiri pembentuk Syriza, antara lain: Active Citizen, Synaspismos (koalisi gerakan kiri dan ekologis), DEA (pekerja kiri), AKOA (pembaharuan komunis ekologis kiri), dan KEDA (Gerakan untuk Persatuan Aksi Kiri).

Pada tahun 2012, kendati masih baru, Syriza berhasil tampil menjadi kekuatan politik yang cukup diperhitungkan di panggung politik nasional Yunani. Saat itu, partai berhaluan kiri-radikal ini meraih 17 persen dan menjadi partai terbesar kedua di parlemen.

Syriza bangkit di tengah-tengah krisis ekonomi dan politik yang melanda Yunani sejak 5 tahun terakhir. Kebijakan neoliberal telah meluluhlantakkan ekonomi nasional negeri tua ini. Sekitar 2,5 juta rakyat Yunani (total penduduk Yunani berkisar 11 juta orang) hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara tingkat pengangguran mencapai 30 persen.

Kebijakan neoliberal juga membawa negeri ini pada kebangkrutan. Utang Yunani mencapai 319 milyar euro (atau 368 milyar USD). Akumulasi utang sebesar itu berpangkal pada sistim politik yang korup dan kebijakan ekonomi neoliberal yang bersandar pada utang.

Ironisnya, Yunani harus membayar utang itu dengan harga mahal. Dalam beberapa tahun terakhir, Troika (IMF, Bank Sentral Eropa, dan Uni Eropa) memaksa Yunani melakukan penghematan. Anggaran untuk belanja sosial dipangkas besar-besaran. Jumlah pekerja di sektor publik dikurangi. Lalu usia pensiun dinaikkan. Tak hanya itu, upah minimum ditekan dan berbagai tunjangan dipangkas.

Lebih parah lagi, untuk alasan pembayaran utang, Troika memaksa Yunani untuk memprivatisasi semua perusahaan milik negara dan layanan publik, seperti perusahaan energi, telekomunikasi, rumah sakit, bandara, transportasi, dan lain-lain.

Dalam situasi itulah Syriza bangkit. Partai berhaluan kiri ini berkampanye lantang, entah melalui wakil mereka di parlemen maupun melalui aksi massa, untuk menentang kebijakan penghematan. Dalam kampanye Pemilu kali ini, Syriza mengusung empat pilar untuk membawa rakyat Yunani keluar dari kesulitan ekonomi ekstrem, yakni mempromosikan program darurat untuk sektor sosial paling rentan, pemulihan ekonomi dan pajak yang berkeadilan, mengatasi pengangguran, dan mentransformasi sistim politik dengan memperdalam demokrasi.

Selain itu, jika berhasil memegang tampuk kekuasaan, Syriza berjanji akan melakukan negosiasi ulang terkait utang dengan para kreditor, menghentikan memorandum dengan Troika, dan melaksanakan pembangunan ekonomi yang mengutamakan manusia serta menghargai alam.

Prediksi kemenangan Syriza telah membuat gemetar kelompok kanan dan para pebisnis di belakangnya. Menteri Ekonomi Yunani yang berhaluan neoliberal, Gikas Hardouvelis, memperingatkan kepada para pemilih, bahwa memilih partai anti-penghematan akan mendorong Bank Sentral Eropa untuk menghukum ekonomi Yunani.

“ECB (Bank Sentral Eropa) adalah pemegang kunci. Kunci ini dengan mudah dan tiba-tiba mematikan pendanaan bank dan mengcekik ekonomi Yunani dalam hitungan detik,” kata Hardouvelis kepada suratkabar To Vima.

Jerman juga sudah memperingatkan bahwa setiap langkah untuk membalikkan kebijakan penghematan di Eropa pasca pemilu tidak akan ditoleransi. “Pemilu mendatang tidak akan mengubah utang Yunani. Setiap pemerintahan baru wajib mematuhi perjanjian yang dibuat oleh pendahulunya,” kata Menteri Keuangan Jerman, Wolfgang Schaeuble.

Perdana Menteri Yunani dari partai kanan (Demokrasi Baru), Antonis Samaras, memperingatkan kepada para pemilih bahwa pemilu Yunani dan prospek kemenangan bagi Syriza akan melemparkan Yunani dalam kekacauan.

Namun demikian, berbagai ketakutan yang dihembuskan oleh kelompok kanan itu tidak mengubah sikap politik rakyat Yunani yang sedang meluap-luap hendak mencari jalan keluar dari krisis ekonomi dan politik. Dan jalan keluar itu bisa dicapai melalui Syriza.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut