Wikileaks Versus Rejim SBY-Budiono

Dengan membabi buta dan reaksioner, para jubir istana negara berusaha menanggapi pemberitaan Wikileaks. Mereka pun berlomba-lomba tampil ke publik untuk membela SBY. Mulai dari Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel Sparringa, Staf Khusus Presiden Deny Indrayana, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menlu Marty Natalegawa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Menko Polkam Djoko Suyanto, bahkan Wapres Boediono.

Meski banyak yang berusaha menangkis, tetapi bocoran Wikileaks sudah terlanjur menyebar dan menjadi polemik. Mengingat bahwa sumber Wikileaks adalah kawat-kawat diplomatik rahasia Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, maka kita pun menjadi tahu persepsi pemerintah AS terhadap rejim SBY-Budiono.

Sebelumnya, Wikileaks membocorkan laporan untuk kongres AS mengenai SBY dalam pemilu 2004. Dalam laporan itu, SBY dijuluki sebagai “the thinking general” atau “jenderal pemikir”. Di situ juga disebutkan bahwa AS kurang setuju kalau Wiranto ataupun Megawati yang menang. Wiranto dianggap ancaman bagi kepentingan AS, sedangkan Megawati dianggap pemerintahannya korup. Dengan demikian, sangat jelas sekali bahwa AS mendukung SBY secara politik untuk memenangkan pemilu 2004.

Dalam dua periode pemerintahannya, SBY bukan saja setia dalam menjalankan agenda neoliberalisme, tetapi juga sukses menjadikan Indonesia sebagai “negara boneka” imperialis AS yang paling loyal. Kurang apa cara SBY menyambut dua Presiden AS saat berkunjung ke Indonesia: George W Bush (2006) dan Barack Obama (2010).

Tetapi imperialis Amerika Serikat bukan Imperialisme Amerika Serikat, jika hanya menyandarkan kepentingannya kepada satu agen saja. Begitulah, sejak awal dan sampai sekarang, AS selalu menjadikan proposal “good governance” dan “clean government” untuk mencari agen-agen barunya. SBY memang loyal kepada Amerika, tetapi banyak berkompromi dengan kepentingan borjuis dan politisi yang dianggap korup di Indonesia: Aburizal Bakrie, Taufik Kiemas, dan Yusuf Kalla.

Lihatlah bagaimana SBY lebih memilih melepas Sri Mulyani, anak didik terbaik AS di Indonesia, ketimbang membuang Aburizal Bakrie. SBY juga banyak melakukan kompromi politik dengan kekuatan politik lain untuk mengamankan kekuasannya hingga 2014. Dengan melakukan banyak sekali kompromi politik, maka SBY pun harus memberikan konsesi kepada sekutu-sekutunya tersebut.

Oleh karena itu, sangat mudah bagi kita untuk memahami bagaimana politik standar ganda dijalankan AS kepada boneka-bonekanya: di satu sisi, memeluk SBY dan menjadikannya ikon pemerintahan bersih dan demokratis di dunia, tetapi di sisi lain, juga memberi catatan-catatan buruk (korupsi, pelanggaran HAM, dll).

Dengan bocoran Wikileaks itu, tentunya dengan pembusukan terhadap SBY dan istrinya, Ani Yudhoyono, maka makin tipislah tiket mereka untuk berlaga kembali di pemilu 2014. Bahkan, jika benar bocoran Wikileaks itu, maka tinggal sedikitlah harapan SBY untuk maju sebagai kandidat Sekjend Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Akan tetapi, bagi kita gerakan anti-imperialis di Indonesia, bocoran Wikileaks telah sedikit membantu untuk menelanjangi “dinding tebal” politik pencitraan rejim SBY-Budiono. Dan, perlahan tapi pasti, bocoran Wikileaks bisa menjadi proses delegitimasi terhadap rejim SBY-Budiono ini.

Kita akan tetap menunggu: Apakah Wikileaks berani untuk membocorkan sepak terjang pemerintahan AS untuk berkolaborasi dengan rejim SBY-Budiono dalam menjalankan agenda imperialisme di Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut