‘Menghidupkan’ Soekarno: Warisi Apinya, Jangan Abunya!

BK-hijau.jpg

Beberapa saat sebelum Megawati Soekarnoputri memberi mandat kepada Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi Calon Presiden dari PDI Perjuangan, Ia sempat mengajak Jokowi menziarahi makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.

Sekarang, menjelang keputusan PDIP menunjuk Calon Wapres pendamping Jokowi, Megawati kembali berencana bersiarah ke makam Bung Karno. Memang, ketika menjelang mengambil keputusan penting, Megawati kerap nyekar di makam Bung Karno.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan ziarah sebagai ‘kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, seperti kuburan. Biasanya, mereka yang melakukan ziarah ke makam tokoh besar berharap mendapat ‘petunjuk’.

Tak hanya Megawati, masyarakat umum pun banyak yang menziarahi makam Soekarno. Diantara mereka banyak yang merupakan pengagum figur Soekarno. Sebagian lagi mencari ‘petunjuk’ dari kuburan Soekarno yang dianggap keramat.

Akhir-akhir ini, terutama sejak runtuhnya Orde Baru, figur Soekarno kembali mencuat. Banyak orang yang merindukan dan mengaguminya. Tidak sedikit pula yang memujanya. Dalam kampanye pemilu, foto Soekarno kadang ikut ‘nimbrung’ di baliho Caleg. Ada juga partai yang sengaja mengarak fotonya dalam kampanye. Tak hanya itu, tokoh-tokoh politik yang krisis identitas terkadang mencaplok gaya Soekarno, entah gaya pidatonya, cara berpakaiannya, dan lain-lain. Bahkan, seorang capres yang gandrung dengan dogma neoliberal, yang baru-baru ini menyerahkan leher bangsa ini ke KTM-WTO di Bali, juga mengaku kemana-mana bahwa dirinya belajar dari Soekarno.

Itulah yang terjadi: Soekarno dipuja-puji setinggi langit, patungnya berdiri di sejumlah tempat, makamnya tidak pernah sepi pengunjung, dan lain sebagainya. Sementara ajaran Soekarno, terutama marhaenisme, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi, nyaris tidak tersentuh dan dielaborasi sesuai semangat zaman.

Lenin pernah memperingatkan bahaya ketika tokoh revolusioner, yang sudah meninggal dunia, dipuja-puji berlebihan dan dibangunkan patung-patung suci. Biasanya, kata Lenin, ketika tokoh revolusioner masih hidup, ia dikejar-kejar dan ajarannya diharamkan. Namun, begitu meninggal dunia, maka klas penindas akan mengubah mereka menjadi patung-patung suci yang tidak membahayakan. “..menyatakan mereka sebagai orang-orang suci, memberikan keharuman tertentu kepada nama-nama mereka untuk jadi penghibur bagi kelas-kelas tertindas dan untuk menipu mereka, bersamaan dengan itu mengebiri esensi ajaran revolusioner, menumpulkan ujung revolusionernya yang tajam, dan memvulgarkannya,” tulis Lenin di risalah terkenalnya, Negara dan Revolusi, tahun 1917.

Soekarno juga mengalami hal tersebut. Ketika masih hidup, para penjilat yang pura-pura mendukungnya, yakni militer dan sipil anti-komunis, memaksa Soekarno menerima gelar Presiden Seumur Hidup. Akibatnya, hingga sekarang, gelar paksaan itu menjadi dalih bagi orang untuk mengaitkan Soekarno dengan otoritarianisme. Juga gelar-gelar yang lain, seperti Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi, dan lain sebagainya.

Di masa Orde Baru, Soekarno dan ajarannya ditindas. Pada tahun 1966, MPRS yang dikomandoi oleh AH Nasution mengeluarkan Ketetapan (TAP), yakni Tap Nomor XXXIII/ MPRS/ 1966 tentang Pencabutan Kekuasaan Soekarno dan Tap MPR XXVI/ MPRS/ 1966 tentang Pembentukan Panitia Peneliti Ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Kedua TAP MPRS itu sangat melecehkan Soekarno dan ajaran-ajarannya.

Tak hanya itu, melalui TAP MPRS nomor XXV tahun 1996, marxisme resmi dilarang. Padahal, marxisme punya kontribusi besar dalam memperkaya pemikiran politik progressif para pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk Soekarno. Marxisme berjasa besar dalam membentuk nasionalisme Indonesia yang kiri, yang punya komitmen besar terhadap kesetaraan dan keadilan sosial, sembari memagarinya dari bahaya chauvinisme dan fasisme.

Soekarno sendiri menganggap marxisme sebagai senjata analisa paling tajam untuk membedah keadaan ekonomi, sosial dan budaya sekaligus sebagai teori panduan untuk melancarkan aksi. Di kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Soekarno menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Artinya, dengan pelarangan marxisme, ajaran marhaenisme pun kehilangan pijakan berpikirnya.

Sayang, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden dari tahun 2001 hingga 2004, semua TAP MPRS yang melecehkan Soekarno dan ajarannya itu tidak dicabut. PDI Perjuangan, partai yang selalu mengklaim sebagai pewaris ideologi Soekarno, juga sangat lunak ketika memperjuangkan penghapusan semua TAP MPRS tersebut.

Inilah masalahnya: sosok Soekarno diagung-agungkan, fotonya dipajang dan diarak di setiap pemilu, gaya pidatonya ditiru banyak elit politik, kata-katanya dikutip dimana-mana, tetapi pemikiran dan ajarannya diabaikan. TAP MPRS yang membelenggu ajaran Soekarno tidak pernah dicabut secara resmi.

Saya kira, yang penting dari historiografi seorang revolusioner bukan hanya soal perjalanan hidupnya, tetapi yang lebih penting adalah menyelidiki apa yang diwariskannya. Dengan begitu, kita sebagai “pelanjut angkatan” bisa memetik pelajaran darinya dan melanjutkan cita-citanya. Atau, seperti yang sering dikatakan Soekarno sendiri: “ambil apinya, bukan abunya.”

Bagi saya, ada dua hal penting dari warisan Soekarno dan relevan untuk sekarang ini: pemikiran/ajaran dan proyek cita-cita politiknya. Dan saya kira, yang paling ditakuti oleh musuh Soekarno sepanjang sejarah, yakni kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme, adalah dua hal tersebut: pemikiran dan proyek politiknya.

Tak bisa disangkal, pemikiran Soekarno berkontribusi besar dalam penyadaran dan mobilisasi kelas popular di Indonesia dalam kerangka melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Hal ini tidak lepas dari kemampuan Soekarno memperkenalkan pemikiran-pemikirannya, baik melalui bacaan maupun pidato, dengan bahasa sangat sederhana dan gampang dicerna oleh rakyat jelata. Tak bisa disangkal, dari sekian banyak pemimpin revolusioner di Indonesia, Soekarno-lah yang memiliki pengikut terbanyak.

Ajaran Soekarno adalah marhaenisme, yakni sebuah azas politik yang menghendaki sebuah susunan masyarakat tanpa imperialisme dan kapitalisme. Namun, dalam kerangka mewujudkan cita-cita itu, marhaenisme berpijak pada dua pemikiran Soekarno juga, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sayang, inti-inti ajaran Soekarno ini jarang dielaborasi hingga sekarang, bahkan oleh partai dan gerakan politik yang ‘mendaku’ sebagai pewaris ajaran Soekarno.

Soekarno sendiri mengatakan, untuk memahami marhaenisme dengan tepat dan benar, ada dua hal mendasar yang mesti dikuasai terlebih dahulu: pertama, pengetahuan yang mendalam mengenai situasi dan kondisi Indonesia; dan kedua, pengetahuan yang mendalam mengenai marxisme. Tanpa menguasai dual tersebut, kata Soekarno, seseorang tidak akan memahami marhaenisme. Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang belajar marhaenisme ketika marxisme masih menjadi barang terlarang di Indonesia?

Soekarno, yang meninggal 43 tahun yang lalu, juga mewariskan cita-cita besar bagi bangsa Indonesia, yakni proyek sosialisme Indonesia, yakni sebuah masyarakat yang di dalamnya tidak ada lagi kapitalisme dan  l’exploitation de l’homme par I’homme (penghisapan manusia atas manusia). Soekarno juga mewariskan cita-cita besar untuk seluruh umat manusia di dunia, yakni tatanan dunia baru tanpa tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’.

Sayang, karena interupsi oleh kudeta Soeharto yang disokong oleh kaum imperialis di pertengahan 1960-an, cita-cita itu tidak kesampaian. Justru, karena itu, tugas para “Soekarnois” sekarang adalah melanjutkan proyek cita-cita Soekarno itu. Namun, untuk melanjutkan cita-cita itu, kita harus terbuka untuk mendiskusikan apa yang sudah dibangun oleh Soekarno dan yang belum, apa yang melenceng dan apa yang sudah tepat, apa yang perlu dikoreksi dan apa yang harus diperkuat. Saya kira, pendiskusian terbuka soal ini justru akan menjadikan proyek politik Soekarno menjadi hidup dan sesuai dengan konteks zaman.

Saya kira, inilah saatnya menghidupkan ajaran-ajaran Soekarno, dengan mengelaborasi dan mengembangkannya dengan perkembangan zaman. Sebab, seperti dikatakan Soekarno sendiri, “teori-teori haruslah diubah, kalau jaman itu berubah; teori-teori haruslah diikutkan pada perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut.” Ajaran Soekarno harus dikembalikan elang revolusionernya

Yang tak boleh juga dilupakan, cita-cita “Sosialisme Indonesia” ala Soekarno belumlah selesai, sehingga kita terpanggil untuk melanjutkannya. Adalah tugas kita, kaum marhaenis atau penerus Soekarno, untuk memastikan cita-cita itu mencapai tujuannya.

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD); Pimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut