Warga Suku Anak Dalam: Ini Soal Hidup Atau Mati!

Tahun baru sebentar lagi tiba. Biasanya, Soleh merayakan momen pergantian tahun itu dengan selebrasi kegembiraan. Tentu saja bersama keluarga dan kawan-kawan dekatnya.

Tetapi sejak tiga tahun terakhir, Soleh merayakan Tahun Baru jauh dari kampung halamannya. Juga jauh dari keluarga dan kawan-kawan sekampungnya. “Sudah tiga kali saya merayakan tahun baru di Jakarta. Ya, bersama kawan-kawan petani,” ujarnya.

Soleh adalah warga Suku Anak Dalam (SAD) dari desa Bungku, kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi. Pemuda kelahiran 23 Juni 1982 ini turut serta dalam perjuangan SAD untuk merebut kembali tanah adatnya yang dirampas PT. Asiatic Persada.

Warga SAD sendiri sudah tiga kali menggelar aksi ke Jakarta: tahun 2011, 2012, dan 2013. Hampir semua aksi massa itu berlangsung antara bulan November hingga Januari. Jadinya, mereka pun merasakan suasana Tahun Baru di Jakarta. Dan, di tiga kali aksi itu, Soleh selalu ikut dan mendapat tugas sebagai perangkat aksi.

…..

Untuk diketahui, sejak tahun 1987 warga SAD diusir dari tanahnya. Saat itu, rezim Orde Baru menerbitkan Hak Guna Usaha (HGU) kepada PT. Bangun Desa Utama (BDU) seluas 20.000 ha. Ironisnya, HGU tersebut menindis wilayah perkampungan SAD.

Untuk mengusir warga SAD, Orba mengirim tentara untuk mengumbar dentuman senjata. Tak hanya itu, mereka menghancurkan pemukiman dan peradaban SAD. Sejak itulah warga SAD terusir dan hidup berpencar-pencar di berbagai tempat.

Kutar, yang didaulat sebagai Ketua SAD Bathin Bahar, punya cerita tersendiri mengenai kejadian itu. “Tanpa salam, tentara bersepatu laras masuk ke dalam rumah. Mereka mengusir kami. Keluar kau, katanya,” tuturnya.

Tak jarang, kalau orang SAD menolak pergi, ujung bedil pun menempel di jidatnya. Setelah penghuni rumah dikeluarkan, eskavator pun mulai beraksi. Satu per satu rumah orang SAD dirobohkan. “Saya hanya bisa mengusap dada melihat kejadian itu. Perih rasanya,” kata Kutar.

Kejadian itu menimbulkan trauma mendalam bagi SAD. Menurut Kutar, pasca kejadian itu, warga SAD akan ketakutan kalau ada tamu yang membawa senapan. “Rumah dan ladang pun akan ditinggalkan kalau tahu ada tamu bawa senapan,” ujarnya.

Tahun 2007, HGU PT. BDU beralih ke PT. Asiatic Persada, anak perusahaan Wilmar Grup. Tak berbeda dengan majikan lama, majikan baru ini pun tak kalah kejamnya. Perusahaan yang bermarkas di Singapura ini juga tak segan-segan memakai TNI, Polisi, dan preman untuk mengusir warga SAD.

Tapi warga SAD tak mau menyerah. Terutama kelompok SAD 113. Tahun 2010, mereka bertemu dengan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sejak itu, sebagian besar warga SAD diorganisasikan dalam Serikat Tani Nasional (STN), organisasi petani yang bernaung di bawah PRD.

Sejak itu bendera-bendera PRD dan STN menancap di halaman rumah warga SAD 113. Setiap hari mereka menimba ilmu berorganisasi dan menyusun perlawanan. Aksi massa pun mulai digencarkan, yang menyasar kantor-kantor pemangku kebijakan di tingkat lokal.

Perlawanan itu memuncak di tahun 2011 lalu. Ribuan warga SAD berangkat ke Jakarta. Di bawah panji-panji Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945—sebuah gerakan yang dimotori oleh PRD, warga SAD mendesak pemerintah pusat segera memaksa PT. Asiatic Persada mengembalikan tanah ulayat milik SAD.

Tetapi perjuangan merebut hak-hak yang dirampas kapitalis memang tidaklah gampang. Tak hanya bolak-balik mendatangi kantor-kantor pemangku kebijakan di Jakarta, seperti BPN RI, DPR-RI, dan Istana Negara, warga SAD juga melakukan aksi pendudukan. Sebulan lebih mereka menginap di depan gedung DPR-RI.

Perjuangan itu berbuah hasil: BPN-RI memenuhi tuntutan warga SAD. Saat itu BPN memerintahkan agar pihak Asiatic Persada segera mengembalikan hak ulayat SAD seluas 3550 ha. Keputusan BPN ini diperkuat dan didukung oleh DPR-RI, Menteri Kehutanan, DPD-RI, Komnas HAM, dan Pemerintah Daerah Jambi.

Warga SAD pun kembali ke kampung halaman. Namun, lama berselang, PT. Asiatic tidak memperlihatkan itikad baik melaksanakan keputusan BPN RI tersebut. Pemerintah daerah juga diam-diam saja. Akhirnya, warga SAD kembali bergerak. Mereka menggelar aksi pendudukan di kantor Gubernur Jambi.

Tak hanya itu, pada bulan November 2012, warga SAD kembali datang ke Jakarta. Mereka menggelar aksi pendudukan selama berbulan-bulan di depan Kantor Kementerian Kehutanan bersama para petani dari Mekar Jaya/Kunangan Jaya, Sarolangun.

Tak hanya itu, warga SAD bersama petani Sarolangun juga menggelar aksi jalan kaki dari Jambi ke Jakarta. Mereka butuh waktu 43 hari untuk menempuh jarak kurang lebih 1000 km. Inilah aksi long-march petani dengan jarak terjauh dalam dalam sejarah gerakan tani Indonesia.

Menurut Abas Subuk, pimpinan SAD 113, berbagai metode perjuangan sudah ditempuh SAD untuk merebut kembali hak-haknya, seperti aksi blokade untuk mencegat truk pengangkut sawit, aksi massa di kantor pemerintah, aksi pendudukan berbulan-bulan, hingga aksi pendudukan di lahan konflik.

“Kami sudah kenyang asam garam perlawanan. Sejak pengurus STN masuk tahun 2003-2004, kita sudah berjuang dengan berbagai metode. Hingga yang paling radikal,” ujar Abas Subuk.

Abas menjelaskan, semua metode perjuangan itu ditempuh karena jalan baik-baik sudah tidak mungkin. Menurutnya, warga SAD sudah lama bersabar dan mencari solusi terbaik. Sayang, PT. Asiatic Persada justru yang tidak punya itikad baik.

Abas juga mengungkapkan, rumitnya penyelesaian konflik agraria antara SAD versus PT. Asiatic diperparah oleh sikap Pemerintah Daerah yang tidak netral. “Harusnya posisi Pemda ini di tengah, tetapi kenyataannya mereka terlalu dekat dengan perusahaan,” katanya.

Tanggal 7 Desember lalu, PT. Asiatic Persada kembali mengusir paksa warga SAD di tiga dusun, yakni Tanah Menang, Padang Salak, dan Pinang Tinggi. Penggusuran itu didukung Tim Terpadu (Timdu) Batanghari, yang didalamnya ada unsur pemerintah daerah Batanghari. Penggusuran itu juga melibatkan ribuan pasukan TNI, Polri, dan security PT. Asiatic Persada.

Penggusuran tiga pekan lalu itu sangat brutal. Tidak hanya mengusir paksa warga SAD, para penggusur juga menghancurkan rumah, fasilitas umum, lahan pertanian, ternak, dan harta milik warga SAD. Tak hanya itu, TNI dan Polri juga kembali mengumbar rentetan tembakan untuk menancapkan teror dan ketakutan di memori orang SAD.

“Selama saya menjadi Ketua Adat 113, ini yang paling keras. Dan ini juga yang paling kejam. Sementara kita sedang negosiasi, mereka mengirim tentara dan polisi untuk mengusir kita pagi-pagi sekali. Sekitar jam 07.00 pagi,” ujar Abas.

Warga SAD kembali terusir dari tanahnya. Tetapi kali ini warga SAD menyatakan tidak gentar. “Ini soal hidup atau mati. Kalau hari ini kami menyerah, maka selamanya mereka akan menginjak leher kami. Tetapi jika hari ini kami bangkit, maka mereka yang harus angkat kaki dari tanah kami,” ujar Abas Subuk.

Saat ini, kata Abas Subuk, warga SAD berjuang di dua tempat. Ada yang menggelar aksi pendudukan di pendopo Gubernur Jambi. Sementara ratusan lainnya menggelar aksi di Jakarta. Dengan gerakan ini, warga SAD berharap bisa memberikan tekanan kedua titik sekaligus, yakni Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.

Di Jakarta, warga SAD menginap di kantor Komnas HAM. Di sana ratusan warga SAD mengasah harapan bahwa perjuangan mereka akan berhasil.

Mahesa Danu

Sekedar informasi: sejak 10 Desember lalu, ratusan warga SAD datang ke Jakarta untuk memperjuangkan haknya. Sudah 21 hari mereka menginap di kantor Komnas HAM. Bagi kawan-kawan yang ingin bersolidaritas bagi perjuangan rakyat SAD, silahkan mengirimkan bantuan  ke Nomor Rekening: 0921325141 BCA A/n Binbin Firman Tresnadi atau datang langsung ke Komnas HAM. Kebutuhan darurat SAD di Komnas HAM saat ini: beras, lauk-pauk, selimut, obat-obatan, dan lain-lain. Kontak person:  08159761693 (Binbin Firman Tresnadi).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • eBookStore HelpDesk

    Kompleksitas persoalan manusia semakin memuncak… bukan persoalan salah atau benar, tapi upaya bertahan dlm hidup. Benarkah atau haruskan demikian? Populasi manusia sdh melebihi batas daya tampung bumi & salah-urus bumi dgn kemajuan teknologi & perubahan gaya hidup manusia sepanjang sejarah manusia sejak mulai diterapkannya pertanian sejak puluhan ribu tahun lalu adalah faktor utama yg menciptakan persoalan hidup manusia. SAD & perjuangan penguasaan tanah ulayat mereka adalah salah satu contoh kecil… tanpa bermaksud mengecilkan maknanya.

  • fi2et

    yang jelas ketidak berdayaan pemerintah dengan intervensi dari pihak asing sehingga rakyat menjadi korban dan maaf kalo pihak perusaan ini tidak segera di tindak maka akan hilang sebuah sejarah dan budaya ekosistem kita