Venezuela Bagikan Laptop Dan Buku-Buku Untuk Anak Sekolah

Penghujung tahun 2011 mengungkap banyak kisah duka bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya kekerasan agraria yang mencuat di mana-mana, tetapi juga kisah miris seorang pelajar 15 tahun yang dipenjara lima tahun hanya karena mencuri sandal seorang anggota Kepolisian.

Tetapi tidak demikian dengan Venezuela, negeri yang selama 13 tahun terakhir sedang menjalankan revolusi. Di penghujung tahun 2011, rakyat Venezuela diguyur dengan sejumlah program sosial pemerintah. Diantaranya: rakyat Venezuela menerima pembagian rumah yang dibangun oleh pemerintah.

Satu lagi yang membanggakan bagi Venezuela di penghujung tahun ini: program pembagian laptop dan buku pelajaran bagi pelajar sekolah. Sedikitnya 5 juta anak ditarget menerima program laptop yang dinamai Canaimas. Pemerintah Venezuela punya cita-cita besar: setiap anak Venezuela punya laptop.

Program laptop ini sudah berjalan sejak tahun 2009. Pemerintah menargetkan 3 juta anak sudah menerima laptop ini pada tahun 2012. Laptop itu memiliki layar ukuran 8,9 inchi, kamera, wireless, dan memori satu gigabyte.

Awalnya, sebagian besar laptop ini diimpor dari Portugal. Tapi, tidak mau bergantung kepada negara lain, Venezuela membangun pabrik khusus untuk laptop ini. “Suatu hari kami akan mengekspor laptop ini,” kata Hugo Chavez, Presiden Venezuela.

Sementara itu, untuk program pembagian buku, Venezuela juga meluncurkan kompedium editorial gratis berisi mata pelajaran wajib: bahasa dan sastra, ilmu-ilmu sosial, matematika, dan ilmu alam. Jumlahnya mencapai 12 juta buku.

Buku itu diterbitkan langsung oleh Kementerian Pendidikan Venezuela, didukung oleh 60-an peneliti, guru dan pendidik. Tujuannya: mempromosikan pemikiran kritis, analitis, kreatif untuk mentrasformasikan realitas.

“Kami tidak mempromosikan sistem mengulang, berbasiskan ingatan, reproduksi fikiran mekanik, yang menghasilkan konvergen. Tetapi kami mempromosikan cara berfikir kreatif, pemikiran reflektif, untuk mentransformasikan realitas. Ini adalah fikiran bahwa para teknisi dalam dunia pendidikan harus berfikir divergen,” kata  Maryann Hanson, pejabat dari Dinas Pendidikan.

Pembuatan buku ini menghabiskan 195 juta bolivar. Buku-buku ini akan didistribusikan untuk kepada anak kelas 1 hingga klas 6 di seluruh penjuru negeri.

Banyak isi buku ini mengambil karakter lokal: masyarakat adat, keragaman budaya, dan lain-lain. Para pahlawan Venezuela, yang berasal dari berbagai etnik dan warna kulit, juga ditampilkan dalam buku-buku pelajaran ini. Ini untuk mendorong anak-anak menghargai kebudayaan amerika latin.

Venezuela membuka harapan buat kita: jika kita berani keluar dari kolonialisme, maka kita akan punya peluang untuk mengelola kekayaan alam dan potensi nasional kita demi kemakmuran rakyat. Bukan tidak mungkin kita bisa mengejar kisah sukses Venezuela.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut