Persatuan Anti-Kolonialisme NTT Duduki Kantor Gubernur

Aksi unjukrasa menyikapi pembantaian petani penolak tambang di Bima, juga kasus konflik agraria di NTT, terus berlanjut. Hari ini, Jumat (30/12), Persatuan Anti-Kolonialisme Nusa Tenggara Timur (PAK NTT) menduduki kantor Gubernur NTT.

Aksi dimulai di depan Posko PAK NTT pukul 08.00 WIT. Satu demi satu perwakilan organisasi yang bergabung menyampaikan orasi politik. Seperti hari-hari sebelumnya, isi orasi didominasi kecaman terhadap kebijakan neoliberal pemerintah Yudhoyono; penanganan konflik agraria dengan cara kolonial; dan kritik terhadap pemberian izin pertambangan oleh gubernur dan bupati/walikota .

Selanjutnya massa PAK NTT menyebrang ke depan Mapolda NTT, kembali menggelar orasi dan pertunjukan teatrikal, dan di sana mereka menuntut Kapolda NTT keluar menemui pengunjukrasa. Sekitar pukul 11.00 WIT, Kasat Reskrim Polda NTT menjumpai massa dan berdialog.

Dalam dialog, massa mendesak Polda NTT meneruskan pernyataan sikap dan tuntutan PAK NTT kepada Kapolri, yaitu penarikan pasukan Brimob dari Bima, NTB; pembebasan aktivis dan rakyat dari pemenjaraan sewenang-wenang; serta pemecatan Kapolda NTB dan Kapolres Bima.

Hampir seratusan massa aksi dari aliansi 20an organisasi di Kota Kupang ini kemudian bergerak menuju kantor Gubernur NTT. Tiba pukul 12.30 WITA, massa PAK langsung merangsek masuk hingga ke front office tanpa mampu dibendung oleh aparat kepolisian dan satpol PP. Massa PAK NTT kemudian menduduki koridor dan pintu depan kantor gubernur, sekitar 45 menit lamanya, hingga ditemui asisten I Pemprop NTT.

Kepada Perwakilan Pemprop NTT, secara singkat satu demi satu perwakilan organisasi anggota PAK NTT menyampaikan sikap dan tuntutannya. Referendum tetang masa depan pertambangan NTT yang melibatkan seluas-luasnya rakyat menjadi fokus tuntutan. Sebelum referendum bisa dilaksanakan, PAK menuntut pemprop membekukan semua izin tambang di NTT.  PAK juga mendesak Gubernur NTT Leburaya, atas nama rakyat NTT, mengirim surat kecaman terhadap Gubernur NTB.

Setelah semua organisasi diberikan kesempatan bicara, massa meninggalkan kantor gubernur, kembali ke Posko PAK NTT.

Salah satu pimpinan PAK NTT, Alberto Maia, aktivis LMND NTT mengatakan, PAK NTT akan terus mengkonsolidasikan organisasi dan individu di NTT untuk mendesak pelaksanaan referendum  dan pembekuan aktivitas pertambangan.***

JOEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut