Uraian Pancasila oleh Sukarno

Peringatan Hari Kemerdekaan ke 21 Republik Indonesia tidak seperti biasanya. Suasana Jakarta mencekam.[1] Peristiwa sebelas bulan sebelumnya tidak hanya membekas, tapi semakin jauh merangsek ke pusat kekuasaan. Sukarno disasar.  Dia dianggap tidak tegas. Malah didakwa membela PKI.

Dalam suasana demikianlah, peringatan kemerdekaan Indonesia dilaksanakan, dimana nafas kegusaran itu tampak dari pidato yang dibacakannya oleh Presiden Sukarno, di muka istana merdeka. Segala kekisruhan politik itu dikhawatirkan akan mengoyak-ngoyak bangsa ini. Melalui nadanya yang semakin gusar, Bung Karno berteriak;

…Lalu mengapa kita harus melempar jauh yang jelas-jelas baik. Tidak! Pancasila, Pancajimat, Trisakti, harus kita pertahankan terus. Bahkan kita pertumbuhkan terus!”[2]

Hadiah Tuhan untuk bangsa ini adalah Bung Karno, Putera Sang Fajar. Dan hadiah dari Bung Karno kepada bangsa ini adalah Pancasila. Namun, Bung Karno selalu menolak kalau dia disebut sebagai penemu Pancasila. Dia lebih senang disebut sebagai penggali Pancasila. Sebab  menemukan dan menggali itu berbeda. Bila menemukan, seakan-akan dari hal yang tidak ada menjadi ada. Sedangkan menggali adalah sesuatu yang sudah dalam bumi Indonesia, ber-abad-abad lamanya, dan lalu mengambil intisarinya.

Dalam sebuah kesaksian batiniah nya, dia berkata bahwa menggali konsepsi Pancasila melalui sebuah perenungannya yang mendalam di bawah pohon Sukun, dalam satu pengasingannya di Pulau Ende.

Di Pulau Buangan jang sepi tidak berkawan aku telah menghabiskan waktu berdjam-djam lamanja merenung dibawah pohon kaju. Ketika itu datanglah ilham jang diturunkan oleh Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup jang  sekarang dikenal dengan Pantjasila. Aku tidak mengatan, bahwa aku mentjiptakan Pantjasila. Apa jang kukerdjakan hanjalah menggali tradisi kami djauh sampai ke dasarnja dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara jang indah.”[3]

Mengapa Ende? Bung Karno, mengakui sama sekali, bahwa selama pengasingannya itu, Pulau Ende memiliki kesan yang sangat mendalam. Jiwanya yang selalu bergolak, laksana ombak api yang menyambar-nyambar, seperti mendapatkan tempat di pula tersebut. Hal tersebut digambarkannya sebagai berikut:

Aku memandangi samudra bergolak dengan hempasan gelombangnja jang besar memukul pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bergerak tak henti-hentinja. Pasang naik dan pasang surut, namun ia terus menggelora setjara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kita tidak mempunjai batasnja. Revolusi kami, seperti juga samudra luas, adalah hasil tjiptaan Tuhan, satu-satunja Maha-Penjebab dan Maha-Pentjipta.”[4]

Melaluinya pidatonya yang sangat bersejarah pada 1 Juni 1945 di Sidang BPUPKI, Bung Karno memberi landasan tentang perlunya sebuah negara memiliki dasar pijakan sebagai alasan menengakkan satu negara Indonesia, yang disebutnya sebagai Weltanschauung.[5]

Pidato Bung Karno di sidang BPUPKI tersebut dapat dikatakan sebagai tonggak penting tentang masa depan Indonesia merdeka. Setelah sebelumnya, dia melihat langsung betapa awalnya setiap golongan-golongan yang hadir dalam persidangan itu hanya memikirkan secara fragmentatif dan terbangun poliriasasi yang kuat, hal tersbut tentulah mempengaruhu pemikiran tentang masa depan Indonesia merdeka. Hal itu dikatakan oleh Bung Karno sebagai berikut:

Para pemuka bangsa dari seluruh kepulauan — jang kupilih dan kemudian disetudjui oleh Djepang— menghadiri sidang-sidang dari Badan Persiapan itu. Masing-measing mengemukakan rentjana dan sarannja mengenai tetek bengek jang menjedihkan jang telah mereka persiapan terlebih dahulu. Tidak kulihat adanja koordinasi antara satu dengan jang lain. Orang-orang berfilsafat dangkal dari Djawa, saudagar –saudagar dari Sumatera, orang-orang dusun dari pulau-pulau lainnja tidak memperoleh kata sepakat. Selama istirahat dari djam  satu sampai djam lima, maka kelompok Islam mengadakan pertemuan  sendiri. kelompok Nasional mengadakan pertemuan sendiri, penganut Federalis dan penganut Kesatuan masing-masing mengadakan pertemuan tersendiri pula. Mereka jang mutlak menuntut daerah meliputi bekas djadjahan Hindia Belanda membentuk satu kelompok.”[6]

Oleh karena itu, penyampaian pidato Bung Karno tersebut adalah untuk mencapai Weltanschauung yang disepakati bersama. Kesepakatan bersama mengenai sebuah dasar merupakan salah modal besar untuk mendirikan sebuah negara merdeka. Yaitu sebuah negara merdeka yang pernah diucapkan dalam sebuah pidatonya yang menggelegar, bahwa Indonesia ini didirikan, “bukan untuk sewindu lamanya, melainkan 1000 windu lamanya.”

Mengenai pentingnya persetujuan bersama atas Weltanschauung tersebut, sampai-sampai Bung Karno memberi penekanan hebat pada hal tersebut:

Kita bersama-sama mencari persatuan Philosophische grondslag, mencari satu Weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju!

Yang saudara Yamin setuju, yang saudara Abi Koesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita mencari satu model. Tuan Yamin ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui.”[7]

Maka dari pidato 1 Juni 1945 itulah, kemudian disepakati Weltanschauung bangsa Indonesia merdeka, yang dinamakan Pancasila, dengan lima prinsip sebagai berikut; Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme, atau Perikemanusiaan; Mufakat, atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; Ketuhanan yang Berkebudayaan.[8] Dalam pidato itu juga Bung Karno mengatakan bahwa ke lima prinsip ini dapat pula dijadikan Trisila, yaitu Sosio-Nasionalisme; Sosio-Demokrasi; Ketuhanan yang Berkebudayaan, pula menjadi Eka Sila, yaitu Gotong Royong.[9]

Susunan Pancasila yang sedemkian rupa itulah, maka dimaknai oleh Bung Karno sendiri sebagai pemersatu Indonesia, yang sedari awal penciptaannya sudahlah dalam keadaan  plural. Dengan tegas Bung Karno berujar bahwa ”Pantjasila adalah satu alat mempersatu, jang saja jakin sejakin-jakinnja Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke hanjalah dapat bersatu padu diatas dasar Pantjasila itu.”[10]

Tidak ada yang membantah sama sekali, apa yang dikatakan oleh Bung Karno itu. Melihat kenyataan, baik secara historis dan sosiologis, Indonesia merupakan sebuah entitas lama yang telah tumbuh secara subur kekayaan kebudayaan, bahkan jauh sebelum bangsa Eropa datang untuk melakukan penjajahan ekonomi, politik dan kebudayaan. Oleh karenanya kesadaran akan kekayaan entitas itu harus dimaknai dengan sebaik-baiknya, supaya dapat menjadi kekuatan bersama dalam membangun kedaulatan bangsa.

Walau dalam kenyataannya, Pancasila selalu saja berada dalam ancaman ketika hendak diselewengkan oleh sebuah rezim, dan hal itu terjadi pada masa Orde Baru. Ada keinginan kuat oleh Suharto untuk memberikan tafsiran tunggal atas Pancasila itu, yang lebih dari sekadar dasar dan falsafah negara, juga menjadi pedoman untuk kehidupan individu, masyarakat dan bernegara.[11]

Padahal, perkara demikian bukanlah kehendak dari pendiri bangsa ini. Pancasila harus-lah diletakkan dalam keadaan terbuka, sehingga memberikan peluang kepada siapapun memberikan tafsirnya, tanpa kemudian meninggalkan fungsi Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut ditegaskan oleh Fachry Ali sebagai berikut:

…Sedangkan Pancasila itu sendiri merupakan pandangan hidup bangsa. Ini berarti bahwa  nilai-nilai dasar Pancasila harus memberi dasar, arah dan tujuan kehidupan berbangsa. Oleh karena itu pulalah Pancasila harus direfleksikan sedemikian rupa, ke dalam kehidupan bernegara khususnya, dan ke dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.”[12]

Dalam perjalanannya, terutama berkaitan dengan kehidupan sosial politik dan agama, Pancasila kemudian mampu menjadi wadah yang menjembatani nilai agama di dalam dunia politik, yang kemudian muncul sebagai sistem etika dan moralitas politik di Indonesia.[13]

Jadi, perlu kerja keras untuk menjadikan Pancasila ini merupakan sebuah sebagai dasar dan fasafah negara kepada rel-nya, setelah mengalami penyelewengan dan ancaman berarti di zaman ini. Penyelewengan yang dimaksud adalah ketika rezim Orde Baru memaksakan tafsir tunggalnya atas Pancasila. Sehingga pihak manapun yang memberi tafsiran yang berbeda, maka akan dianggap melawan negara.[14]Ancaman akhir-akhir ini terhadap Pancasila tentu saja munculnya kelompok-kelompok intoleran yang mengancam keberagaman, yang hal itu sebenarnya anugerah Tuhan kepada bumi Indonesia.

Pancasila tentu saja susunan kelima prinsip yang dikemukan nanti tidak dalam bentuk pidato Bung Karno tersebut. Hal ini dikarenakan pada tanggal 22 Juni 1945, dengan perdebatan yang lebih mendalam dan melibatkan banyak elemen, termasuk penghilangan 7 kata legendari Piagam Jakarta, telah disusun Pancasila dengan lima prinsip yang seperti kita kenal sekarang. Lima prinsip itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatanyang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Akhir dari pengantar ini, Pancasila  adalah penegasan tentang konsensus bangsa ini. Bahwa keberadaan Pancasila adalah modal untuk menata Indonesia  di masa mendatang.

Melalui pidato 1 Juni 1945, tentang Pancasila, Suakrno memberi pemaknaan tentang ketuhanan sebagai penutup dari 4 prinsip sebelumnya. Bahwa Ketuhanan adalah sebuah sikap yang saling menghormati antara sesama pemeluk agama, yang kemudian diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu dengan apa keragaman itu diikat? Sehingga menjadi sebuah kesatuan, meminjam istlah Bung Karno, yang bulat-kuat. Tentu saja saja jawabannya dengan paham kebangsaan. Dan Pengalaman Keindonesiaan telah menunjukkan hal itu dengan sebaik-sebaiknya. Jadi dalam pandangan Sukarno, Kebangsaan dan Ketuhanan adalah inti dari keindonesiaan. Dan hal tersebut termaktub dalam Pancasila.

MUHAMMAD ALKAF, Ketua Pusat Studi Pancasila Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa

——————————————-

[1] Suasana serba kebingungan mengenai apa yang terjadi pada malam 1 Oktober 1965 diceritakan melalui pengalaman gadis kecil dari Jepang yang berusia 10 tahun, namanya Sugiyama Mariko, anak dari  jurnalis Jepang yang sedang bertugas di Jakarta. Selama di Indonesia, dia dititip di rumah Samanjaya, salah seorang tokoh penting di Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Mariko dengan mata kepalanya sendiri melihat ketegangan di Jakarta. Dan yang paling menyesakkan dadanya, ketika menyaksikan betapa ketakutannya anak istri Samanjaya, yang harus bersembunyi di loteng rumah, setelah penangkapan besar-besaran aktivis kiri oleh Angkatan Darat. Lihat Aiko Kurasawa, Peristiwa 1965 Persepsi dan Sikap Jepang, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015), hal. 80-82.

[2]  Pidato Sukarno, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, 17 Agutus 1966.

[3] Cindy Adams, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (Jakarta: Gunung Agung, 1966), hal. 300.

[4] Ibid, hal. 183.

[5] Bung Karno, Panca Azimat Revolusi, (Banteng: Totalitas, 2002), hal. 39.

[6] Cindy Adams, Bung Karno Penjambung…, hal. 299.

[7] Bung Karno, Panca Azimat…, hal. 41.

[8] Ibid, hal. 49-50.

[9] Ibid, hal. 51.

[10] Bung Karno, Pantjasila Dasar Filsasat Negara, (Djakarta:: Jajasam Empu Tantular, tth), hal. 9

[11] Deliar Noer, Mohammad Hatta Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES, 1990), HAL. 688

[12] Fachry Ali, Islam, Pancasila dan Pergulatan Politik, (Jakarta: Pustaka Antara, 1984), hal. 200-201.

[13] Fachry Ali, Golongan Agama dan Etika Kekuasaan Keharusan Demokratisasi dalam Islam Indonesia, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hal. 209

[14] Salah satu perlawanan  oposisi yang paling dikenang dalam sejarah Orde Baru adalah kelompok Petisi 50. Sebuah kelompok yang melakukan koreksi terhadap jalan pikiran Suharto tentang kedudukan pemerintahannya dengan Pancasila dan UUD 1945. Suharto kala itu, menurut pandangan kleompok Petisi 50, telah melenceng jauh ketika rezimnya dianggap sebagai manifestasi dari Pancasila dan konstitusi. Sehingga bagi pihak manapun yang melakukan koreksi atas jalannya pemerintahan Suharto, maka akan didakwa dengan pasal subversif.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut