Turunkan Harga!

Selain dibuat pusing oleh ledakan kompor gas yang terjadi setiap hari, rakyat Indonesa juga dipusingkan oleh melambung-tingginya harga-harga kebutuhan pokok, misalnya beras, cabe, bawang, telur, ayam, dan lain sebagainya. Dalam sekejap, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok seperti “balapan”; harga cabai telah naik melebihi 100%, disusul harga bumbu dan sayuran antara 50 hingga 60 persen, dan harga beras yang juga bergerak naik secara konstan.

Diperhadapkan dengan kenaikan itu, pemerintah hanya sanggup menganjurkan rakyat Indonesia untuk “mengencangkan ikat pinggang”, dan menyatakan bahwa faktor-faktor kenaikan tersebut berada di luar kendali pemerintah. Menurut versi pemerintah, penyebab kenaikan ini meliputi tiga hal utama; cuaca (perubahan iklim), spekulan, dan menipisnya persediaan (stock).

Itulah hobby pemerintah kita—melempar kesalahan pada faktor alam. Hal pertama yang patut kita persalahkan adalah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Tarif dasar listrik (TDL) pada tanggal 1 Juli lalu. Akibat keputusan “keblinger” ini, sejumlah kebutuhan pokok yang bersentuhan langsung dengan pemakaian listrik, misalnya produksi, distribusi, dan penyimpanan, segera mengalami kenaikan. Kalangan dunia usaha pun mengakui, bahwa kenaikan TDL telah menyebabkan hasil produksi mereka naik 5%.

Disamping itu, persoalan iklim pun sebetulnya tidak akan masalah, jika seandainya pemerintah bisa menghitung kebutuhan rakyat untuk beberapa bulan dan melakukan penyimpanan (stock) berdasarkan kebutuhan tersebut. Di sini, karena peran negara telah menghilang, maka para “spekulan-lah” yang melakukan penyimpanan.

Selain itu, doktrin neoliberal telah memaksa negara untuk tidak melakukan intervensi terhadap pasar, padahal negara dapat melakukan apapun demi untuk melindungi dan mengamankan kepentingan rakyatnya.

Lebih jauh lagi, pemerintah pun patut dipersalahkan atas merosotnya daya beli rakyat Indonesia secara umum, terutama kalangan rakyat kecil. Selama ini, pemerintah sangat puas untuk menjadikan “upah murah” sebagai unsur penarik investasi asing. Pemerintah juga bertanggung jawab terhadap hancurnya industri kecil dan menengah akibat liberalisasi ekonomi. Bukankah keseluruhan kebijakan itu telah “menggerogoti” kantong rakyat?

Selanjutnya, saat harga produk pertanian melonjak naik di pasaran, kenyataan menunjukkan bahwa para petani tidak mendapat keuntungan sedikitpun. Kenaikan harga beras tidak memperbaiki nilai tukar petani (NTP). Demikian pula dengan jenis komoditi lain. Apa yang perlu ditegaskan di sini adalah, bahwa pertanian kita sudah sedemikian terpuruknya sehingga negara selalu gagal mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Kita sangat berkeyakinan, bahwa tanpa mewujudkan kedaulatan pangan nasional, maka kebutuhan “perut” rakyat akan selalu tidak terpenuhi dengan baik.

Dari penjelasan di atas, kita segera mengetahui, bahwa kenaikan harga akhir-akhir ini sangat bersinggungan dengan kebijakan ekonomi-politik pemerintah. Sebagian besar persoalan di atas muncul akibat menyusutnya peran negara dalam kehidupan ekonomi. Padahal, dalam aspek-aspek tertentu, negara harus menggunakan kekuasaannya untuk mengatur pasar agar tidak meninggalkan kesenjangan dan kesengsaraan rakyat banyak.

Pemerintah harus bergerak cepat untuk menurunkan harga. Dalam tahap pertama, pemerintah harus segera mengembalikan subsidi kepada rakyat, termasuk subsidi TDL yang baru saja dicabut. Tidak bisa dipungkiri, terutama untuk negara yang sebagian besar penduduknya telah dimiskinkan seperti Indonesia, mekanisme pemberian subsidi sangat berguna untuk menstimulasi daya beli dan usaha ekonomi rakyat.

Untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat, pemerintah Indonesia bisa mengikuti contoh mulia dari Presiden Hugo Chavez di Venezuela, dimana melalui program “mission mercal’ telah mendirikan supermarket mini di seluruh negeri yang berfungsi memastikan ketersediaan pangan murah untuk seluruh rakyat.

Negara juga harus mengembalikan perannya yang telah dilucuti oleh doktrin “neoliberal” yang menyesatkan. Negara seharusnya mulai menempatkan polisi dan aparatus kekerasannya untuk membasmi spekulan dan pencoleng uang negara, bukan menindas dan menggusur ekonomi rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut