Turki Dilanda Aksi Protes Besar-Besaran

Aktivis Partai Komunis Turki (TKP) melawan represi brutal Polisi saat peringatan May Day lalu.

Sudah dua hari ini Turki dilanda aksi protes besar-besaran yang disertai bentrokan antara aktivis dan kepolisian. Protes ini dipicu oleh rencana pemerintah membongkar sebuah taman bernama Gezi Park.

Awalnya, demonstrasi ini berjalan damai. Para demonstran menyatakan agar Gezi Park tidak dibongkar. Maklum, Gezi Park ini merupakan salah satu ruang terbuka hijau paling penting di kota Istambul.

Namun, polisi telah bereaksi sangat represif terhadap protes ini. Akhirnya, sejak Jumat (31/5) kemarin, demonstrasi telah berubah menjadi pertempuran jalanan di dua kota besar Turkir, Istambul dan Angkara.

Di Istambul, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk menghalau ribuan massa yang berusaha menyeberangi jembatan Bosphorus. Padahal, ribuan massa ini berkeinginan menggelar aksi protes di lapangan Taksim.

Dalam kejadian ini, polisi menangkap sejumlah aktivis. Selain itu, seperti dilaporkan Asosiasi Dokter Turki, ribuan orang terluka sejak aksi protes Jumat kemarin. Bahkan, 6 demonstran yang kehilangan mata karena dipukul tabung gas.

Di Angkara, ribuan orang berkumpul di sebuah taman kecil, lalu pindah ke sebuah jalan pusat perbelanjaan terkenal. Sejumlah demonstran meminum alkohol di jalanan sebagai bentuk protes atas rencana pemerintah membatasi alkohol.

Sementara, sejumlah demonstran yang berusaha bergerak menuju gedung parlemen dihadang oleh polisi. Ozturk Turkdogan, ketua Asosiasi HAM Turki, mengungkapkan bahwa ratusan orang terluka di sejumlah kota dan ratusan lainnya ditangkap.

Ozturk Turkdogan mengecam tindakan polisi menggunakan gas air mata secara berlebihan. Menurutnya, tindakan polisi itu bukan hanya membahayakan demonstran, tetapi juga membahayakan kondisi kesehatan masyarakat umum. “Ini adalah kejahatan,” katanya.

Bagi sebagian masyarakat Turki, tindakan pemerintah Turki, dalam hal ini Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, sudah sangat berlebihan dan cenderung mengarah ke otoritarianisme.

Banyak demonstran mulai menyerukan “penggulingan” pemerintahan Erdogan. “Ini bukan hanya soal menyelamatkan taman lagi, ini sudah soal bahaya otoritarianisme,” kata seorang demonstran.

Kemal Kilicdaroglu, pemimpin partai oposisi, Partai Rakyat Republiken, menuntut pemerintahan Erdogan menarik polisi dari wilayah taman Gezi. Ia juga mengeritik sikap Gubernur Istambul, Huseyin Avni Mutlu, yang dianggapnya terlalu berlebihan menangani situasi.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut