Sidang Pemukul Jurnalis Tertutup, Jurnalis Dan Aktivis Protes

Sidang terhadap lima terdakwa pelaku penyerangan jurnalis dan aktivis yang tergabung dalam Aliansi Menolak Toperang Restorasi (Aliansi Metro) di depan kantor Nasional Demokrat (Nasdem), di Jakarta, pada 16 Januari lalu, berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta, Kamis (30/5/2013).

Namun, sidang yang berlangsung sore hari tersebut tidak dihadiri oleh korban. Padahal, agenda sidang tersebut sudah memasuki tahap pembacaan tuntutan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Seharusnya sidang tersebut berlangsung terbuka untuk masyarakat umum, terutama untuk para korban,” kata juru bicara dan kuasa hukum Aliansi Metro, Poltak Agustinus Sinaga, Jumat (30/5).

Lebih parah lagi, kata Poltak, tuntutan yang dibacakan oleh JPU terhadap para pelaku penyerangan sangat minimum, yakni hanya 8 bulan kurungan penjara. “Aliansi Metro menilai tuntutan ini tidak memenuhi rasa keadilan,” ujarnya.

Menurut Poltak, terkait pokok perkara yang disidangkan, JPU menuntut pelaku hanya pada persoalan perusakan peralatan aksi, seperti mobil, alat pengeras suara, dan lain-lain. Padahal, bagi Poltak, pokok persoalannya adalah aksi pembubaran dan pemukulan terhadap sebuah aksi untuk menyampaikan pendapat.

“Ini mengindikasikan bahwa Jaksa menilai pembubaran aksi dan pemukulan sebagai peristiwa biasa, bukan sebagai kasus pelanggaran HAM dan kebebasan berpendapat,” katanya.

Dalam sidang tersebut, kelima terdakwa (MT, RS, MN, NH, DM) terang-terangan mengakui bahwa mereka melakukan pembubaran aksi dan perusakan alat-alat karena diperintah oleh seseorang.

Namun, kelima terdakwa menolak menyebutkan nama orang yang meminta mereka untuk membubarkan aksi dan melakukan perusakan perangkat aksi.

“Seharusnya jaksa maupun hakim bisa mendalami siapa yang memerintahkan mereka. Sebelumnya, dalam kesaksiannya, Aliansi Metro telah memberikan kesaksian dan keterangan seputar siapa otak pelaku kekerasan,” kata Poltak.

Aksi penyerangan dan pembubaran aksi tersebut terjadi pada tanggal 16 Januari 2013 lalu. Saat itu, para jurnalis dan aktivis yang tergabung dalam Aliansi Metro dan Aliansi Sovi (Solidaritas untuk Luviana) menggelar aksi solidaritas terhadap Luviana, jurnalis Metro TV yang di-PHK sepihak oleh Metro TV.

Aksi tersebut berlangsung di depan kantor Surya Paloh, pemilik Metro TV, di jalan RP Soeroso, Gondangdia, Jakarta. Dalam aksinya, Aliansi Metro dan Aliansi Sovi menagih janji Surya Paloh untuk mempekerjakan kembali Luviana.

Sayang, baru saja aksi berlangsung, sekelompok massa berseragam Satgas Gemuruh Nasdem tiba-tiba menyerang massa aksi. Lima aktivis dari Aliansi Metro menerima perlakuan kekerasan. Tak hanya itu, mobil dan perlengkapan aksi lainnya juga rusak berat.

Mencermati proses persidangan yang tertutup Kamis kemarin, Aliansi Metro dan Aliansi Sovi meminta kejaksaan agung untuk mengawasi proses persidangan kasus ini. Mereka juga meminta Ketua PN Jakpus bersikap adil dan profesional dalam menangani kasus ini.

“Pengawasan dari Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung sangat penting karena sering terjadi berbagai kejanggalan selama proses persidangan,” kata Ferry Latief, aktivis Aliansi Metro dan sekaligus pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut