Tragedi “Tembok Roboh” Di Makassar

Dinding tebal sebuah perumahan mewah tiba-tiba roboh. Setidaknya 11 orang dilaporkan tewas akibat tertimpa tembok roboh itu. Kejadian itu terjadi di Kelurahan Sinrijala, Kecamatan Panakkukang, kota Makassar, kemarin (4/12).

Ini adalah kejadian memilukan. Sebagian besar korban adalah orang miskin yang tinggal di rumah sederhana. Selain itu, kejadian ini juga merupakan potrem buram tentang kesenjangan sosial yang kian menganga di Indonesia.

Potret kesenjangan ini kian nampak dalam satu dekade terakhir. Satu sisi, Indonesia masih terjebak krisis ekonomi, sementara di sisi lain, bisnis rumah mewah terus berkembang pesat. Indonesia merupakan salah satu negara paling berkembang bisnis perumahan mewahnya, bahkan termasuk yang  paling pesat di Asia.

Sementara kemiskinan akibat neoliberalisme makin mempersulit kemampuan mayoritas rakyat mendapat rumah yang layak dihuni. Menurut data BPS, dari jumlah rumah tangga sekitar 61 juta, baru sekitar 78% yang dianggap tinggal di rumah layak huni. Sedangkan 22 persen penduduk atau 13 juta keluarga masih tinggal di daerah ilegal, rumah mertua, kontrak maupun menyewa rumah.

Kejadian di Makassar merupakan contoh nyata tentang betapa timpangnya proyek pembangunan rumah di Indonesia: berdirinya rumah-rumah megah nan mewah di tengah-tengah kepungan pemukiman miskin dan kumuh. Kejadian ini juga menjelaskan bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang menempati rumah tidak aman.

Akan tetapi, kesenjangan dalam pembangunan rumah hanyalah gambaran lain dari kesenjangan pembangunan ekonomi di Indonesia. Menurut temuan Perkumpulan Prakarsa, pada tahun 2010 jumlah kekayaan 40 orang terkaya Indonesia sebesar Rp680 Triliun (71,3 miliar USD) atau setara dengan 10,33% PDB.

Katanya, jumlah kekayaan 40 orang itu setara dengan kekayaan sekitar 15 juta keluarga atau 60 juta jiwa paling miskin. Kekayaan yang dimiliki oleh 43 ribu orang terkaya itu, hampir setara dengan akumulasi kepemilikan 60% penduduk atau 140 juta orang. Juga, menurut temuan majalah Forbes, selama 5 tahun terakhir kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia naik rata-rata 80% per-tahun.

Sementara itu, mayoritas rakyat Indonesia hidup dengan pendapatan 2 USD. Selain itu, setidaknya 62% rakyat Indonesia tidak punya tabungan. Sedangkan laporan lain menyebutkan bahwa jumlah rumah tangga Indonesia yang dapat mengakses air bersih baru 47,71 persen.

Kelompok mayoritas ini, yang sebagian besar tidak bisa mengakses kebutuhan dasarnya, sangat sulit mengakses perumahan layak huni. Mereka hidup di tengah perkampungan kumuh, bahkan mendiami daerah-daerah berbahaya seperti pinggiran sungai, daerah rawan longsor, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut