Tracy Chapman, Penyair Yang Bernyanyi

Suaranya sangat khas, bening, kuat, dan tajam. Musiknya bertemakan cinta, kemanusiaan dan politik. Tubuhnya kekar dan rambutnya gimbal. Dia adalah Tracy Chapman, perempuan penyair yang bernyanyi.

Tracy Chapman lahir di Cleveland, Ohio, tanggal 30 Maret 1964. Di  usia 4 tahun, kedua orang tua Tracy bercerai. Ia dan kakaknya, Aneta, dibesarkan oleh sang Ibu yang bekerja sebagai pekerja pabrik karet. Ibunya memiliki kecintaan besar terhadap musik. Sejak masa kanak-kanak, ia rajin menulis. Di usia 8 tahun, ia mendapatkan gitar dari Ibunya. Ia kerap mengiringi nyanyian Ibunya yang memujikan lagu Injil. Tak hanya gitar, ia memainkan ukulele, klarinet dan organ.

Mereka hidup dalam tekanan politik Amerika Serikat yang sangat rasialis. Tak bisa sepenuhnya melawan kenyataan, Tracy kecil memilih tenggelam dalam buku-buku. Dalam proses itu ia menemukan sosok Nelson Mandela, bapak pejuang kemerdekaan Afrika Selatan dan penentang Apartheid. Tahun 1982, ia mendaftar di Tufts University, Massachusetts. Ia sengaja memilih Anthropologi dan kajian afrika.

Dari sinilah karir musiknya mulai dirintis. Ia mulai memasuki studio rekaman saat studinya belum selesai. Album pertamanya, Tracy Chapman, langsung meledak. Ia pun mulai populer di seantero Amerika Serikat dan Inggris. Single pertamanya, Fast Car, yang bertutur tentang mimpi seorang perempuan muda untuk kehidupan yang lebih baik dengan serangkaian masalah, begitu digandrungi pada akhir 80-an. Lagu ini juga berbicara soal perjuangan melawan kemiskinan. Tracy mulai menjadi sorotan, namanya mulai diulas di koran, di panggil wawancara di radio-radio, dan mengisi konser-konser keliling dengan tiket terjual habis.

Pada tahun 1988,  Ia meluncurkan hit single keduanya, Talkin Bout a Revolution, yang banyak berbicara soal ketidakadilan. Pada tahun yang sama, Tracy tampil di Konser memperingati 40 Tahun Deklrasi Hak Azasi Manusia. Juga, pada tahun yang sama, ia tampil dalam konser penghormatan untuk Nelson Mandela. Dana yang terkumpul dari konser itu digunakan untuk perjuangan anti-apartheid.

Setahun kemudian, ia mendapat penghargaan Grammy untuk kategori artis baru terbaik,  vokalis pop wanita terbaik dan album rakyat kontemporer. Tak membuang waktu, ia juga kembali menggarap album musik baru dan mendedikasikan Nelson Mandela. Lagu itu berjudul “Freedom Now”.

Tahun 1989, Ia meluncurkan album keduanya: “Crossroad”. Album ini terjual 4 juta kopi—jumlah standar untuk dianggap sukses besar. Namun, angka itu lebih rendah dari penjualan album pertamanya yang mencapai 10 juta. Menurut analisa pengamat musik, hal itu terjadi karena ada kejenuhan para penikmat musik dengan tema-tema politik.

Album selanjutnya, “Matters of the Heart”, pada tahun 1992, menuai banyak kritik dari kritikus musik. Howard Cohen, penulis pada koran Knight-Ridder mencatat, bahwa musik pop dengan tema politik dan cinta mudah ditinggalkan karena selera musik para pendengar cepat berubah. Dan, katanya, musik Tracy agak monoton sejak debut album pertama.

Namun, pada tahun 1995, Tracy kembali. Album “New Beginning” menempatkan Tracy di puncak tangga lagu. “Give Me One Reason”, lagu andalan di dalam album ini, yang ditulis di kala ia masih belajar di perguruan tinggi.

Setelah merilis album New Beginning, Chapman mengambil cuti dari proses rekaman dan musik, ia merasa lelah. “Saya merasa seperti hidup saya hanya berputar pada siklus di luar kendali saya. Membuat catatan dan tur.. membuat catatan dan tur,” papar Tracy kepada majalah Time. Hampir 5 tahun ia beristirahat.

Tahun 2000, Ia kembali merilis album “Telling Stories”. Lalu, dua tahun kemudian menyusul “Let it Rain” (2002), kemudian album “Where You Live” pada tahun 2005, dan “Our Bright Future” di tahun 2008.

Musik dan Politik

Pada tahun 1988, ketika rasialisme masih terasa, Tracy muncul dengan lagu-lagu berbau kritik soal kemiskinan, rasisme, ketidaksetaraan gender, kekerasan dalam rumah tangga dan kehidupan di ghetto. Tak hanya muncul sebagai musisi, Tracy juga menjadi aktivis yang berkampanye soal apartheid, Hak Azasi Manusia (HAM), dan AIDS.

Dalam lagu Fast Car, Ia bercerita tentang kemiskinan:

You see my old man’s got a problem
He live with the bottle that’s the way it is
He says his body’s too old for working
I say his body’s too young to look like his
My mama went off and left him
She wanted more from life than he could give
I said somebody’s got to take care of him
So I quit school and that’s what I did

Situasi di atas banyak dialami oleh anak perempuan yang hidup dalam kemiskinan. Bayangkan, karena kemiskinan itu, ia harus meninggalkan sekolah dan merawat ayahnya yang alkoholik. Tetapi anak perempuan itu punya mimpi punya mobil dan merasakan arti hidup.

Tracy bernyanyi dari berbagai panggung, dari jalanan Harvard hingga ke panggung musik kerakyatan. Ia sadar, musik bisa menjadi saluran efektif untuk menyalurkan protes tentang keadaan. Tracy, yang keturunan Afro-Amerika, merasakan dan melihat langsung diskriminasi rasial berhimpitan dengan kemiskinan.

Kita bisa dengarkan bisikannya dalam lagu “Talkin’ ‘Bout a Revolution”:

Don’t you know
They’re talkin’ about a revolution
It sounds like a whisper
While they’re standing in the welfare lines
Crying at the doorsteps of those armies of salvation
Wasting time in the unemployment lines
Sitting around waiting for a promotion

Poor people gonna rise up
And get their share
Poor people gonna rise up
And take what’s theirs

Kini, di usianya yang hampir mencapai 50 tahun, Tracy masih aktif melakukan tur musik keliling dengan tema politik dan kemanusiaan. Tak banyak yang bisa dikorek dari kehidupan pribadinya. Tracy bisa didapatkan informasi up datenya di www.tracychapman.com

Sahat Tarida, Kontributor Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut