Tolak Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa Dan Buruh Datangi Istana Negara

Seratusan mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam Front Persatuan Pembebasan Nasional (FPPN) menggelar aksi massa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di depan Istana Negara, Selasa (25/11/2014).

Dalam aksinya massa mengusung sejumlah tuntutan, yakni menuntut pembatalan kenaikan harga BBM, pencabutan UU nomor 22 tahun 2001 tentang migas, nasionalisasi perusahaan tambang asing, dan penghentian liberalisasi di sektor migas nasional dari hulu hingga ke hilir.

Selain itu, FPPN juga mendesak pemerintahan Jokowi-JK untuk menghapuskan utang luar negeri dan melaksanakan pasal 33 UUD 1945. Tak hanya itu, mereka juga menuntut pemerintahan Jokowi-JK konsisten melaksanakan Trisakti sesuai dengan janji politiknya saat kampanye.

“Saat Pilpres lalu, Jokowi-JK getol mengkampanyekan Trisakti dan kemandirian energi. Sekarang ia malah mengikuti tekanan lembaga asing, khususnya korporasi asing dan Bank Dunia, untuk menaikkan harga BBM,” kata Vivin Sriwahyuni, salah seorang juru bicara dari aliansi ini.

Menurut Vivin, dengan menaikkan harga BBM, pemerintahan Jokowi-JK telah memuluskan agenda liberalisasi sektor hilir migas Indonesia. Sebab, kata dia, kenaikan harga tersebut telah mendorong harga BBM indonesia bisa menyamai harga pasar.

“Alasan bahwa kenaikan BBM itu karena defisit APBN dan subsidi yang tidak tepat sasaran hanyalah alasan yang dibuat-buat. Tujuan esensialnya adalah menderek harga BBM kita ke harga pasar, “ terang perempuan yang juga Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) ini.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Supriadi Prasetyo, membeberkan dampak kenaikan harga BBM terhadap kehidupan kaum buruh.

“Kenaikan harga BBM menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok dan biaya hidup makin mahal. Akibatnya, daya beli kaum buruh pun merosot,” kata Supriadi.

Menurut Supriadi, situasi tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa penetapan upah minimum di berbagai daerah masih jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak kaum buruh. Karena itu, ia menganjurkan agar gerakan buruh bersatu untuk melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM.

Untuk diketahui, sebelum menggelar aksinya di depan istana negara, massa aksi FPPN menggelar aksinya di depan kantor Radio Republik Indonesia (RRI). Di sana mereka menuntut agar stasion radio pemerintah itu menyiarkan siaran pers mereka.

FPPN merupakan gabungan dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO), Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI-1992), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), PII dan ICACI.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut