TNI Dan Tugas Sejarahnya

Kemarin, 5 Oktober 2012, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67. Tentang Hari Kelahiran itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman punya pesan penting: “TNI lahir karena Proklamasi 17 Agustus 1945, hidup dengan proklamasi itu dan bersumpah mati-matian hendak mempertahankan kesuciannya proklamasi tersebut.”

Pada perayaan HUT TNI 1962, Bung Karno menegaskan bahwa angkatan perang Indonesia sengaja dibentuk untuk menjaga Proklamasi 17 Agustus 1945. Artinya, kelahiran TNI tak bisa lepas dari tugas mempertahankan kemerdekaan. Dengan demikian, TNI mesti berjiwa anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Itulah tugas sejarah TNI.

Yang jadi persoalan, kelihatannya TNI mengabaikan tugas sejarah ini. Mau bukti, ya, lihatlah sepak terjang TNI dalam panggung sejarah bangsa ini. Lihatlah, kekuatan mana yang paling depan saat penggulingan Bung Karno? Kekuatan mana pula yang menjadi ‘ekskutor’ terhadap jutaan aktivis nasionalis dan anti-imperialis pendukung Bung Karno? Kekuatan mana pula yang bertindak sebagai ‘fondasi’ berdirinya kekuasaan orde baru? Jawabannya: TNI! Ya, memang tidak semua TNI. Hanya sekelompok tentara: Soeharto and the gang..

Yang terjadi, Soeharto melikuidasi cita-cita proklamasi kemerdekaan. Ia menghamba kepada negeri-negeri imperialis. Lalu, sebagai konsekuensinya, ia membuka pintu ekonomi selebar-lebarnya agar modal asing bebas mengeduk kekayaan nasional bangsa Indonesia. Sementara kekuasaan politik yang dibangunnya benar-benar hanya menjadi ‘penjaga’ kekuasaan modal. Ironisnya, TNI menjadi pilar utama penopang kekuasaan orde baru.

Praktis, pasca 1965 hingga sekarang, banyak yang berubah dalam konsep angkatan perang kita. Dalam banyak hal, angkatan perang lebih banyak menjadi penjaga kekuasaan. Akibatnya, dalam merumuskan siapa musuh pun terkadang fokus pada mencari-cari musuh internal: bahaya laten komunis, penentang kebijakan orde baru, dan pejuang demokrasi. Tak jarang senapan TNI diarahkan kepada petani yang sedang berjuang mempertahankan tanahnya, buruh yang menuntut upah dan kondisi kerja yang lebih baik, kaum miskin kota yang menolak penggusuran, atau kepada mahasiswa yang memprotes korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Bagi saya, ketundukan TNI mestinya bukan pada kekuasaan, melainkan kepada massa-rakyat. Bung Karno sendiri pernah bilang, “pada awalnya adalah Rakyat Indonesia; kemudian Rakyat Indonesia itu menyatakan diri merdeka dan mendirikan Republik; kemudian dari itu, Republik itu membentuk angkatan perangnya untuk menjamin keamanan seluruh rakyat itu.”

Kita sering mendengar semboyan “NKRI harga mati”. Pada peringatan HUT TNI ke-67 kemarin, SBY kembali menegaskan semboyan “NKRI harga mati itu”. Semboyan ini, jika dilepaskan cita-cita proklamasi kemerdekaan, akan menjadi chauvinis. Lihat saja, protes ketidakadilan ekonomi dan pembangunan di era orde baru ditumpas dengan semboyan “NKRI harga mati” ini. Padahal, ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan pembangunan adalah penghianatan terhadap cita-cita proklamasi.

Ya, sama juga dengan sekarang. Bisa-bisa kritik terhadap kekuasaan disamakan dengan “anti-NKRI”. Makanya, ketika terjadi protes menentang kenaikan harga BBM, banyak spanduk “NKRI harga mati” bertebaran. Seakan-akan menentang kebijakan pemerintah adalah anti-NKRI.

Yang saya lihat, “NKRI harga mati” itu sebatas dimaknai keutuhan teritorial. Padahal, ketahanan nasional kita mestinya mengcakup aspek politik, ekonomi, dan budaya. Apa gunanya keutuhan teritorial kalau secara politik kita tidak berdaulat? Apa gunanya teritori kita lengkap kalau kekayaan alam kita masih terus mengalir keluar untuk memperkaya kantong korporasi asing? Apa gunanya gembar-gembor NKRI jikalau kepribadian nasional kita diluluh-lantakkan oleh kebudayaan imperialis?

Bung Karno sendiri pernah bilang, “kemerdekaan nasional adalah suatu kebebasan untuk menjalankan urusan politik, ekonomi, dan sosial kita sejalan dengan konsepsi nasional kita sendiri.” Artinya, konsep ketahanan nasional kita mestinya memperkuat kemerdekaan nasional di lapangan ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Dengan demikian, cita-cita masyarakat adil dan makmur bisa terwujud.

Di sinilah letak persoalannya: sekarang konsep pertahanan kita itu hanya semata-mata ketahanan militer yang mengabdi pada keutuhan wilayah. Sedangkan ketahanan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya diabaikan. Ketahanan militer juga tak diabdikan untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Yang terjadi sejumlah paradoks. Setiap tahun terjadi perbaikan alutsista (Alutsista), namun kedaulatan politik, ekonomi, dan sosial-budaya kita makin terancam. Bahkan, banyak yang bilang, kita sudah terjajah secara politik, ekonomi, dan sosial-budaya.

Bukti-bukti bisa dijejalkan. Hampir semua produk politik kita, termasuk perundang-undangan, didiktekan oleh pihak luar. Belakangan politisi PDI Perjuangan, Eva Sundari, melansir ada 76 produk UU yang terintervensi oleh asing. Banyak diantara UU itu justru merongrong kepentingan nasional kita: UU nomor 22 tahun 2011 tentang migas, UU nomor 4 tahun 2009 tentang mineral dan batubara, UU nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal asing, dan UU nomor 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, UU No.18/2004 tentang Perkebunan, UU No.19/2004 tentang Kehutanan, UU Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN (RUU perubahan UU BUMN 2011), Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, dan lain-lain.

Belakangan terungkap pula keterlibatan asing dalam amandemen UUD 1945. Diketahui, hasil amandemen telah menghilangkan roh anti-kolonialisme dan anti-imperialisme di dalam konstitusi tersebut. Alhasil, UUD 1945 tak lagi menjadi senjata untuk menghalau kolonialisme dan imperialisme.

Begitu pula di lapangan ekonomi. Dominasi asing kian digdaya merebuti satu persatu aset dan kekayaan nasional kita. Jutaan hektar tanah kita telah terkavling oleh kapital asing. Sumber daya alam kita, seperti gas, minyak, batubara, bauksit, tembaga, nikel, dan lain-lain, juga dikangkangi oleh korporasi asing. Belum lagi pertanian, hutan, laut, dan udara kita yang mulai terklaim oleh asing.

Nah, lapangan budaya pun tak lolos dari kuasa neokolonialis. Kebudayaan imperialis bahkan nongkrong selama 24 jam melalui kotak bernama Televisi. Dan itu mendikte kebudayaan rakyat kita hingga tempat tidur. Tidak gaul kalau tidak bergaya “kebarat-baratan”. Sekarang malah ditambah “koreanisasi”. Belum lagi, produk literatur, cerpen, novel, tarian, dan lain-lain yang makin serba impor.

Lantas, dimana TNI berada? Ya, TNI sibuk minta anggaran untuk belanja Alutsista. TNI juga sibuk memperjuangkan sejumlah RUU untuk memperluas ruangnya mengontrol kehidupan rakyat. Ironisnya, berkali-kali TNI justru meletuskan senapannya ke arah rakyatnya sendiri. Sampai-sampai, saking pilunya melihat keadaan, banyak aktivis pejuang rakyat yang menulis di spanduk mereka: “Jenderal Soedirman akan menangis jika melihat kelakuan TNI sekarang.”

TNI harus kembali kepada tugas sejarahnya: melanjutkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Untuk itu, seperti dipesankan oleh Bung Karno, TNI bersarang di hati rakyat, dicintai atau dimiliki oleh rakyat itu sendiri. Dengan demikian, sudah saatnya TNI meninggalkan doktrin-doktrin anti-rakyat. Jangan lagi ada pengiriman TNI untuk belajar di negeri-negeri imperialis. Yang terpenting, TNI belajar doktrin-doktrin kebangsaan sebagaimana dianjurkan pendiri bangsa. Juga, tak kalah pentingnya, TNI belajar tentang demokrasi.

TNI juga mesti menegaskan ketundukannya sebagai alat pertahanan rakyat, yang tunduk dan setia kepada Pancasila dan UUD 1945, bukan kepada rezim berkuasa atau kelompok politik tertentu.

Aditya Thamrinpenggiat di perhimpunan diskusi Praxis Theoria (aditya.praksis@gmail.com)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Selamat Ultah TNI dan hidup TNI, tulisan bung Aditya Thamrin sangat mengena dan tepat sasaran memang TNI belum sempurna tetapi sudah mengarah pada kesempurnaan dan seandainya TNI tidak ada barangkali saya harus minta visa kalau pergi berkunjung ke Kalimantan misalnya atau mau berlibur ke Bali tetapi ini tidak terjadi dan hal ini patut kita hargai, pada jaman Bung Karno TNI memang tidak pernah mengarahkan moncong senapannya kepada rakyat yang harus dilindungi dan dipertahankan dan sebaliknya rakyat sangat mencintai TNI dan membantu kegiatan TNI sehingga semua usaha pembelahan NKRI tidak pernah berhasil walaupun didukung oleh Nekolim dibidang materi.
    Kejayaan TNI pada jaman Bung Karno tidak berlangsung lama walaupun secara organisatoris mereka kompak , loyal dan patriotik yang mempunyai daya gempur dahsyat tapi ada satu titik lemah yang dicermati oleh Nekolim karena mereka semuanya adalah pendukung revolusi Indonesia dan mendukung Bung Karno tanpa reserve, jadi faktor yang satu ini harus disingkirkan dulu dengan cara yang luwes tetapi kejam, meskipun usaha pembunuhan langsung terhadap Bung Karno sering terjadi tetapi tidak pernah berhasil.
    Kenapa Nekolim mengincar Indonesia? jawabannya sederhana saja yaitu ” sumber daya alam ” yang luar biasa besarnya konon kekayaan alam kita ini melebihi kekayaan Jepang, Korea Selatan,Taiwan, Malaysia, Singapore dan Brunei ditumpuk menjadi satu, tetapi pemimpinnya sangat nasionalis dan tentaranya sangat kuat sehingga tidak bisa didikte karena Soekarno selalu berunding dari sisi yang kuat bahkan beliau pernah berkata pada mereka ” go to hell with your aid ” dan mengeluarkan Indonesia dari PBB ( hanya Indonesia! ) karena belau menilai badan internasional ini sudah tidak objektif dan dikendalikan oleh kepentingan Nekolim. Rekayasa dan kampanye disinformasi mulai digarap melalui agen2 yang sudah ditanam sejak jaman revolusi 1945, perwira TNI (kebanyakan dari angkatan darat) diundang untuk belajar disekolah staff dan komando dimana diajarkan cara2 ” pengendalian demokrasi” dan bukan cara2 pelestarian demokrasi seperti dinegara dimana mereka belajar dan hal ini erat hubungannya dengan konteks perang dingin pada waktu itu pula. Bung Karno memperingatkan rakyat Indonesia bahwa tahun itu adalah tahun berbahaya dengan pidatonya ” tahun vive re pericoloso ” dan desas desus disebar luaskan akan adanya ” dewan jenderal ” yang akan menggulingkan Bung Karno, dewan ini sebetulnya tidak ada yang ada adalah pimpinan teras AD yang akan menentukan karir bekas panglima Mandala Mayor Jenderal TNI Soeharto setelah usai pelaksanaan Trikora karena dianggap tidak sesuai dengan kebijakan TNI karena kegiatannya dalam perdagangan selama menjabat sebagai perwira senior TNI ( di non aktifkan atau pensiun dini ) Tanggal 30 September 1965 dinihari elemen pasukan Cakra Bhirawa dari AD dibawah komando LetKol Untung bergerak menculik dan membunuh pimpinan teras AD yang semuanya adalah loyalis Bung Karno dan yang selamat hanya Jenderal Nasution meskipun cedera dan ajudannya Kapten Tendean serta anak bungsu Jenderal Nasution dibunuh oleh pasukan ini, sementara itu Mayor Jenderal Soeharto duduk menjabat sebagai komandan pasukan cadangan strategis AD atau Kostrad sedang sibuk mengurus putra bungsunya Tommy yang tersiram air panas di RSPAD dihubungi tetangganya yang bernama Mashuri ( kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan pada pemerintahan Soeharto ) bahwa di Menteng terjadi tembak menembak dan berkeliaran pasukan misterius jam 10 pagi RRI pusat menyiarkan maklumat LetKol Untung yang mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi dan mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua dewan tersebut dan menurunkan kepangkatan TNI tidak melebihi dari pangkatnya sendiri yaitu Letnan Kolonel lalu terjadilah vaccuum kepeminpinan dan Bung Karno sendiri diungsikan oleh DKP ( detasemen kawal pribadi dari polisi ) dibawah pimpinan AKBP Mangil ke LanUd Halim Perdana Kusuma sesuai dengan prosedur penyelamatan kepala negara bila terjadi bahaya, setelah menguasai Jakarta selama sehari LetKol Untung dengan dewan revolusinya bingung dan tidak mengerti apa yang harus diperbuat selanjutnya karena mereka tidak mempunyai cetak biru gerakan mereka yang sebetulnya, peluang ini digunakan oleh Mayor Jenderal Soeharto menggulung dewan revolusi LetKol Untung dan memulihkan keamanan dan pengejaran tokoh dewan revolusi ini mulai lalu di Jakarta ditemukan ” dokumen Gilchrist ” yaitu dokumen rahasia milik Dubes Inggeris di jakarta pada waktu itu yang menyatakan bahwa di pelabuhan Tanjung Priok berlabuh kapal milik RRC yang membawa 100,000 puculk senapan serbu “Chung” yang ditujukan kepada elemen ormas PKI yang sedang dilatih kemiliteran di LanUd Halim Perdana Kusuma dalam rangka Dwikora mengganyang Malaysia kebenaran dokumen Andrew Gilchrist diragukan dan disangkal oleh Kedubes Inggreris di Jakarta ( ingat kampanye disinformasi ! ) keadaan di Jakarta memanas dan serba membingungkan ( ingat taktik perang psikologi ) dan dalam waktu singkat Mayor Jenderal Soeharto menggulung G30S dan pasukan Pasopati dari Kodam Diponegoro yang menjadi mata tombak G30 S cerai berai dan dinetralisir oleh pasukan RPKAD dan LetKol Untung diburu dan ditemukan di daerah Jawa Tengah lalu dibunuh ditempat tanpa diperiksa ataupun diinterogasi sehingga duduk perkara yang sebenarnya tidak pernah terungkap ( cara ini adalah pembungkaman sistim mafia sehingga kebenaran tidak pernah terungkap ! ) konon diberitakan bahwa LetKol Untung ini adalah perwira yang dibina oleh PKI jadi ada dasar pemerintah untuk juga menggulung PKI yang dianggap mendalangi peristiwa ini yang menjadi tragedi yang melukai psyche nasional dan histeria yang menyusul terjadi pembantaian orang2 PKI atau kelompok kiri termasuk ribuan tenaga ahli menengah yang ikut menjadi korban dalam daftar ” yang harus dilenyapkan ‘ yang diberikan oleh perancang tragedi ini, dengan efisien Mayor Jenderal Soeharto memulihkan keadaan, lalu jenazah para korban penculikan dan pembunuhan pasukan G30 S ditemukan didaerah kawasan LanUd Halim Perdana Kusuma dan di Jakarta bermunculan puluhan surat kabar yang tadinya tidak pernah ada isinya memanaskan suasana dan membingungkan ( lagi kampanye disinformasi dan perang psikologi ) dan mahasiswa UI bergerak dan membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dengan memakai jaket kuning ( ingat revolusi dengan pakai warna! ! ) supaya diketahui dimana mereka berdiri dan dikendalikan yang menuntut pembubaran PKI dan menghendaki Bung Karno lengser maka sempurnalah perangkap tikus Nekolim dalam rangka mengantongi Indonesia dan yang terjadi selanjutnya adalah karir Mayor Jenderal Soeharto mengorbit luar biasa dimulai dari Pangkopkamtib, Pejabat Presiden, Presiden dan seterusnya dan seterusnya sampai akhirnya dia juga dilengserkan oleh revolusi mahasiswa yang sudah muak dan jenuh dengan sistim KKN pemerintahannya ditahun 1998.
    Apa yang terjadi dengan TNI? Singa regional di Asia Tenggara setelah G30S mulai digembosi, taring dan kukunya dipreteli , Angkatan Udara Republik Indonesia yang sangat kuat sayapnya dipotong : Strategic Bomber Squadron Tu-16 dibesi tuakan dan dijual ke Mesir ( perlu diperiksa kembali datanya ), squadron Supersonic Mig-21 dihibahkan ke Amerika Serikat untuk dijadikan agressor squadron yang melatih penerbang angkatan laut AS seperti dalam film Top Gun yang dibintangi Tom Cruise dan Angkatan Laut Republik Indonesia kapalnya dibesi tuakan termasuk diantaranya kapal perang kapital kebanggaan kita RI Irian dan armada kapal selam dan pasukan Marinir diperkecil. jadi dalam waktu singkat daya gempur atau fire power TNI dibungkam tanpa melalui proses peperangan dan TNI dijadikan ” pengendali demokrasi ” dibawah pemerintahan Soeharto dengan moncong senapannya diarahkan kepada rakyat yang dianggap menghambat ” pembangunan ” sistim kepemimpinan perwiranya diganti dengan sistim ” mikul duwur mendem jero ‘” yang bertolak belakang dari sistim meritokrasi. dan era KKN berkembang pesat, sumber daya alam kita diobral murah, hutan kita ditebang habis, minyak kita dikuras habis, ikan kita dilaut teritori NKRI dicuri habis2an oleh nelayan asing sampai nelayan Kamboja beroperasi dilautan kita apa daya? TNI sudah terlanjur lemah malah diremehkan oleh tetangga kita yang tadinya gemetaran dengan daya gempur TNI kita, sebagai pelipur lara TNI AU menerima wakaf pesawat lungsuran F 86 Sabre dari Australia yang mutunya jauh lebih rendah dari pesawat supersonic yang pernah kita miliki dan TNI AL menerima kapal lungsuran bekas Perang Dunia II dari AS yang jalannya menggik mentol menurut istilah arek2 Suroboyo. Sedih sekali apabila mengingat masa kejayaan TNI dimasa lampau bahwa TNI pernah menjadi kekuatan militer terkuat dibelahan bumi selatan dan mengingat 3 orang kakak saya yang tewas di Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945 yang mempertahankan kedaulatan NKRI pada usia muda sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar.