Tiga Juta Pendukung Chavez Merahkan Caracas

Lebih dari tiga juta chavista, sebutan bagi pendukung Hugo Chavez, membanjiri jalan-jalan di Caracas, Ibukota Venezuela,  dua hari lalu (4/10). Mobilisasi besar-besaran itu berkaitan dengan kampanye terakhir Hugo Chavez menjelang pemilihan Presiden pada 7 Oktober besok.

Mobilisasi ini disebut terbesar dalam sejarah negeri itu. Konsentrasi massa bahkan memenuhi tujuh jalanan utama kota Caracas. Sudah begitu, mayoritas chavista datang dengan mengenakan kostum warna merah.

Sebelumnya, kandidat dari sayap kanan, Capriles Radonski, juga menggelar kampanye terakhirnya. Massa pendukung Radonski sempat memenuhi satu jalanan utama di kota itu. Sebagai respon atas mobilisasi oposisi, Chavez pun menyerukan mobilisasi besar-besaran untuk kampanye terakhirnya.

Akhirnya, meski diguyur hujan deras, jutaan massa rakyat membanjiri jalan-jalan di pusat kota Caracas. Mereka tak hentinya bernyanyi dan meneriakkan yel-yel mendukung kandidat sosialis, Hugo Chavez.

Juga tak ketinggalan, kampanye dihiasi dengan spanduk, poster, plakat, bendera organisasi dan partai, seni instalasi, balon berwarna, bendera nasional, dan berbagai bentuk aksesoris lainnya. Cacacas benar-benar berubah menjadi “lautan merah”.

Tak sedikit pendukung Chavez ini berasal dari pemukiman miskin di atas bukit yang mengelilingi kota Caracas. Tak sedikit diantara mereka yang datang sangat pagi sekali untuk membuktikan dukungan kepada Hugo Chavez.

Salah satunya adalah Estefanni Oropeza (19), salah seorang pendukung Chavez dari Chacao, salah satu distrik di Caracas. Katanya, ia datang dengan suka cita untuk menunjukkan dukungan kepada Chavez.

“Berkat dia (Chavez), kita menikmati pendidikan dan kesehatan gratis,” katanya.

Esetefanni sengaja datang untuk membuktikan kecitaannya pada Chavez dan Revolusi Bolivarian. Maklum, media internasional banyak mendiskreditkan Chavez. Media-media tersebut menuding massa pendukung Chavez termobilisasi karena dibayar.

“Kedatangan saya di sini karena hati,” kata seorang perempuan yang mengaku menikmati program pemerintah, Mission Ribas, sebuah program pendidikan untuk mendorong rakyat bisa lulus Universitas.

Akan tetapi, massa pendukung Chavez tak beranjak dari tempatnya sekalipun hujan sangat deras. Hal itu membuktikan bahwa mereka pendukung sadar dan ideologis. Mereka mendukung Chavez karena keinginan melihat Venezuela bisa berkembang lebih maju, lebih demokratis, dan menyejahterakan rakyat.

Mantan Presiden AS, Jimmy Carter, mengatakan, dari 92 proses pemilu yang dimonitornya, proses pemilu di Venezuela merupakan yang terbaik di seluruh dunia.

Bahkan, seperti dilaporkan Correo Del Orinoco, massa pendukung Chavez bertahan hingga tengah malam. Mereka mendengarkan musik sambil menari—dari salsa, reggaeton, hingga rap anti-kapitalis.

Venezuela memang sering menjadi korban disinformasi. Media-media barat sering mendistorsi proses politik di Venezuela. Antara lain: menuding rakyat Venezuela sudah jenuh dengan Chavez dan hendak memilih kandidat lain.

Tetapi berbagai jajak pendapat menyimpulkan, Chavez masih unggul dibandingkan kandidat oposisi, Capriles Radonski. Bahkan, keunggulan Chavez berjarak 10% dibanding Radonski.

Survei dari GIS XXI, misalnya, memprediksi 60,1% pemilih cenderung memilih Hugo Chavez, sedangkan 39,9% cenderung beralih ke Capriles Radonski. Sedangkan survei dari 21st Century Social Research Group Publisher memperkirakan Chavez akan meraih suara sebesar 55,1% dan  lawannya akan mendapat 44,9%.

Chavez sendiri berulang kali berpesan, pilpres kali ini merupakan pertempuran menentukan, yaitu antara pendukung revolusi sosialis versus mereka yang hendak mengembalikan neoliberalisme.

Capriles sendiri sangat didukung imperialisme AS. Aktivis dan sekaligus penulis kiri AS, James Petras, menuding Capriles didukung tanpa syarat oleh Obama. “Capriles digambarkan sebagai orang baik, reformis dan lelaki energik, dan orang yang menginginkan jalan moderat bagi Venezuela,” kata Petras.

Petras mengingatkan, kandidat sayap kanan ini berpartisipasi dalam kudeta terhadap Chavez pada tahun 2001, penyerbuan kedutaan besar Kuba di Cacacas, dan aksi lockout manajer minyak pada tahun 2003.

Karena itu, Chavez menyerukan, “kemenangan revolusi Bolivarian pada hari Minggu besok adalah keharusan untuk mencegah kembalinya imperialisme.”

Raymond Samuel

[youtube]Wq5TsQeb7d8[/youtube]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Comandante Hugo Chavez pada awalnya bercita-cita mulia sebagai kampiun pembela kaum miskin dengan ide Bolivarianisme dan menyebarkannya diseluruh Latin Amerika dengan menggunakan petrodollar tetapi akhirnya juga lupa membasmi kemiskinan di Venezuela sendiri dan yang terakhir dia mengidap penyakit kanker yang seringkali mengharuskannya berobat di Kuba sehingga Revolusi Bolivarian nya terancam terbengkalai, seandainya Amerika Serikat tangannya tidak terikat diTimur Tengah dan Afghanistan barangkali Revolusi Bolivarian ini pun tentu sudah akan digembosi dan langkah kearah itu memang ada indikasinya yaitu adanya pangkalan militer dan personil militer AS diwilayah negara tetangganya yaitu Colombia dengan alasan melatih tentara Colombia memerangi narco guerrilleros dari FARC atau Tentara Revolusioner Colombia yang sudah kehilangan ideologi politiknya dan berubah menjadi gerombolan kriminal pemasok narkoba terbesar didunia yang seringkali bersembunyi di wilayah Venezuela dan untuk menumpulkan ancaman gembosan dari luar Comandante Chavez belanja 100 000 pucuk senapan mesin Kalashnikov terbaru dan 2 Squadron SU-30 dan 100 Tank T-95 dari Rusia untuk mempersenjatai Milisi Bolivariana, semoga Chavez berhasil dalam perang dua front yang diperjuangkannya yaitu membasmi kemiskinan di Latin Amerika dan melawan kanker yang berkecamuk didalam tubuhnya.