Kader Bermental Borjuis

Apa jadinya bila partai “wong cilik” dihuni kader bermental borjuis? Wah, bisa-bisa partai hanya akan menjadi alat dari kader borjuis itu. Partai semacam itu, kata Bung Karno, hanya akan menjadikan rakyat sebagai kuda-tunggangannya.

Itulah kekhawatiran Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, yang ditumpahkannya di hadapan ribuan kader dan simpatisan PDIP se-Jawa Tengah di Semarang, Senin (1/10). Ia mengaku sangat resah dengan perilaku elit-partainya yang kian “borjuis” itu. Bayangkan, elit-partai tidak pernah ‘nyambung’ dengan kehendak rakyat.

Padahal, PDIP mengaku sebagai pewaris “Marhaenisme”. Kita tahu, marhaenisme itu sangat menentang imperialisme dan kapitalisme. Bung Karno bilang, marhaenisme itu ideologinya rakyat jelata untuk menghapuskan sistim kapitalisme. Akan menjadi sebuah ironi, bahkan kelucuan tak ada bandingannya, bila partai berideologi marhaenisme justru menjadi rumahnya kaum borjuis.

Kita patut mengapresiasi pidato Megawati itu. Sebagai seorang pimpinan partai, ia sangat terbuka melakukan otokritik konstruktif. Jarang-jarang ada pimpinan partai mau berlaku demikian. Yang ada, pemimpin partai mati-matian menutupi kebusukan partainya. Bahkan, ada pimpinan partai yang sangat sengaja melindungi kader-kadernya yang terjerat kasus korupsi.

Yang menarik dari pidato Megawati itu, elit partai harus nyambung dengan massa-rakyat di ranting-ranting. Tak hanya itu, elit partai harus mampu menyerap, menampung, dan mengartikulasikan aspirasi rakyat di tingkat bawah. Dengan begitu, katanya, mesin partai bisa berjalan.

Tak sedikit parpol yang hanya menganggap rakyat sebagai “lumbung suara”. Dan mesin politik partai tak ubahnya mesin pengumpul suara. Pengurus partai di tingkatan ranting, yang terkadang memainkan peranan penting dalam mobilisasi suara, diberi fasilitas sedemikian rupa agar tetap loyal kepada pimpinan. Sampai-sampai muncul guyonan: “tak mau jalan kalau tak ada uang bensin.”

Banyak partai yang sengaja dibangun oleh plutokrat. Merekalah yang mengguyurkan uang untuk berdirinya struktur partai itu di berbagai daerah. Tak sedikit orang yang berduyung-duyung masuk partai karena mimpi “kecipratan” uang. Akhinya, mesin partai pun berjalan dengan berpelumaskan “uang”.

Sang plutokrat, yang sudah menghamburkan banyak uang, berharap menggunakan partainya itu untuk meraup uang yang lebih besar. Akhirnya, begitu berkuasa di eksekutif maupun legislatif, partai kaum plutokrat ini berlomba-lomba untuk merampok uang rakyat. Mereka juga menggunakan negara untuk memfasilitasi dan memperluas kepentingan bisnisnya. Inilah mungkin yang disebut kapitalis-birokrat.

Partai politik mestinya menjadi alat perjuangan politik massa-rakyat. Dengan partai, massa rakyat mengartikulasikan kehendak politiknya. Dan hal ini hanya mungkin kalau partai itu dikendalikan sepenuhnya oleh rakyat yang menjadi anggotanya. Dan, supaya partai bisa dikendalikan oleh anggota dari bawah, maka proses demokrasi harus ditumbuh-kembangkan di dalam partai itu. Anggota harus diberikan suara yang kuat untuk memutuskan arah dan gerak partai. Dengan demikian, fungsi organ pimpinan atau pengurus pusat tak lebih sebagai simbol “penyatuan ide-ide dan program” dari seluruh anggota partai.

Pendidikan politik, termasuk pelatihan skill, juga penting. Kita sadar, semua orang akan bisa bertindak sama, termasuk dalam menyuarakan tuntutannya, jikalau ia punya pengetahuan untuk mengetahui hal-hal yang membelenggunya dan solusi untuk keluar dari belenggu tersebut. Dengan demikian, pendidikan politik secara reguler dan terorganisir menjadi mutlak bagi partai ideologis.

Kita lihat, Megawati ingin elit partainya kembali ke tengah massa. Mungkin seperti kata-kata Mao Zedong: menjadi ikan di dalam air. Bukan menjadi ikan di tengah minyak goreng. Memang, kalau PDIP belajar dari Pilkada DKI Jakarta, maka “kembali ke tengah massa” menjadi keharusan. Bahwa pimpinan-pimpinan partai harus aktif melakukan turun ke bawah (turba). Dengan begitulah, pimpinan partai bisa memahami persoalan-persoalan rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut