Tiba Di Bandar Lampung, Petani Jambi Disambut Panggung Rakyat

Setelah berjalan kaki selama 34 hari, peserta aksi jalan kaki (long march) petani Jambi sudah menginjakkan kaki di kota Bandar Lampung, Lampung, Senin (14/1). Kedatangan para petani disambut secara besar-besaran oleh sejumlah organisasi rakyat se-Bandar Lampung.

Proses penyambutan petani berlangsung di Tugu Adipura, Enggal, Bandar Lampung. Sebuah panggung rakyat didirikan oleh para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) di tempat tersebut.

Selain itu, lebih dari 300-an petani dan aktivis pergerakan rakyat sudah menunggu petani di tempat itu. Begitu petani peserta longmarch tiba, teriakan “Hidup Petani” bersahut-sahutan menyambut mereka.

Selain disambut oleh petani dan aktivis pergerakan, kedatangan petani Jambi juga disambut oleh Asisten I Sekda Kota Bandar Lampung, Dedi Amrullah. Dia hadir mewakili Walikota Bandar Lampung.

Wondo, salah seorang petani Jambi peserta aksi longmarch, mengaku sangat terharu dengan proses penyambutan ini. Menurutnya, proses penyambutan yang cukup meriah itu menandakan besarnya dukungan rakyat terhadap perjuangan petani Jambi.

“Kami merasa penyambutan itu sebagai penghormatan besar terhadap kami dan perjuangan kaum tani,” kata Wondo.

Seusai bersalam-salaman, petani Jambi dan Lampung pun duduk berbaur. Lalu, sejumlah aktivis dari berbagai organisasi menyampaikan orasi politik berisi dukungan terhadap perjuangan petani.

Deputi Politik KPW PRD Lampung, Rakmad Husein, menjelaskan, perjuangan petani Jambi dan Lampung tidak terlepas dari ketidakadilan agraria yang sedang menimpa kaum tani Indonesia.

Karena itu, menurut Rakhmad, misi yang diusung petani Jambi dan Lampung, yakni pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 dan UUPA 1960, harus disokong sepenuhnya.

“Panggung rakyat ini merupakan bentuk dukungan terhadap perjuangan petani untuk memperjuangkan Pasal 33 UUD 1945 dan UUPA 1960,” kata Rakhmad Husein.

Orasi-orasi politik juga disampaikan oleh perwakilan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Serikat Tani Nasional (STN), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).

Mimbar bebas ini diakhiri dengan pembacaan 5 tuntutan pejuang agraria: Tegakkan Pasal 33 UUD 1945, Laksanakan UUPA 1960, Kembalikan Tanah Ulayat Milik SAD 113, Kembalikan Tanah milik petani Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya, dan Copot Menhut Zulkifli Hasan.

Di akhir acara, sejumlah organisasi mahasiswa memberikan bantuan kepada petani Jambi. Salah satunya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila).

Menurut Presiden BEM Unila, Arjun Fatahillah, bantuan yang diserahkannya merupakan bentuk uluran tangan mahasiswa untuk membantu perjuangan petani.

“Jangan dilihat dari nilainya, tapi ini adalah bentuk dukungan kami untuk aksi bapak-ibu,” katanya.

Para petani juga menerima bantuan berupa air mineral, mie instan, dan susu.

Seusai acara penyambutan di Tugu Adipura, para petani kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut