Tak ada ‘Modo-Modi’ di Pasar Gembrong

Perhelatan SEA-Games ke-XXVI sudah memasuki hari ke-9. Ada banyak hal yang bisa kita amati, komentari, dan resensi dari perhelatan ini: prestasi, pemecahan rekor, bangga yang membuncah massa pecandu sepak boleh karena aksi Garuda Muda, sampai teknis-teknis kekurangan Indonesia sebagai tuan rumah.

Saya belum akan “mengeksplorer” hal-hal di atas, tetapi saya akan berusaha mengomentari sedikit perihal maskot resmi di SEA-Games XXVI, yakni “Modo-Modi”. Semoga menambah informasi buat anda.

Pasangan komodo ‘Modo-Modi’ diambil dari kata komodo, kadal besar yang hidup di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang kini tengah diperjuangkan untuk bisa masuk sebagai 7 keajaiban dunia. Komodo adalah sisa binatang purba yang masih hidup dan harus dilestarikan keberadaannya.

Komodo ‘modo-modi’ kini terpampang di mug, gantungan kunci, banner, poster, reklame, sticker, kaos dan jadi miniatur boneka untuk souvenir SEA-Games. Tapi, kelihatan bahwa kepopuleran ‘modo-modi’ masih kalah oleh tokoh/ikon kartun mancanegara. Minat dan animo masyarakat terhadap boneka modo-modi juga masih sangat kecil. Padahal peluncurannya oleh INASOC (Indonesia SEA Games Organizing Committee) selaku panitia Sea Games 2011 sudah dimulai dari 25 April 2011 lalu.

Menurut saya, ukuran populernya tokoh/ikon kartun/barang mainan anak buatan lokal adalah apabila sudah diperbanyak-dijual bebas- dari kaki lima sampai mall. Salah satu tempatnya adalah Pasar Gembrong, Jatinegara.

Saya menjadikan Pasar Gembrong sebagai barometer karena disinilah pusat penjualan mainan anak dalam harga grosir juga murah. Meski sering dikeluhkan sebagai sumber kemacetan lalu-lintas (Casablanca – Jatinegara arah ke Cipinang dan Pondok Kopi), tetapi disinilah surganya mainan anak. Mau ngecer atau kulakan, kemudian dijual lagi, Pasar Gembrong-lah tempatnya.  Nah, hubungan modo-modi dengan pasar gembrong adalah: bahwa karakter kartun lucu dalam miniatur boneka, souvenir, sarung bantal, tas anak bergambar modo-modi tidak/belum ada di pasar Gembrong. Yang mendominasi di sana masih boneka Shaun The Sheep, Ipin-Upin, Oscar Oasis, Sponge Bob, Mickey Mouse, Teletubbies, Naruto, si pirang Berbie, Ben 10 dan seterusnya.

Bicara kepopuleran tentu tidak lepas dari peran media massa terutama televisi. Boomingnya film animasi Shaun The Sheep, juga Upin-Ipin, adalah karena ditayangkan rutin setiap hari di jam-jam tertentu oleh beberapa stasiun tivi. Saking larisnya boneka Shaun The Sheep, sampai-sampai pedagang buah-buahan banting stir ganti jualan dengan gerombolan boneka kambing asal Inggris itu.

Maka, agar ‘Laptop Si Unyil’, ‘Si Bolang’, ‘Modo-Modi’ tidak kesepian dan dilupakan kanak-kanak, maka wajiblah para ahli cerita, sineas-animator kita berkolaborasi menghidupkan terus karakter-karakter mereka itu ke dalam film kartun/animasi berseri yang juga bisa tayang setiap hari di televise (mendidik)  dan meluaskan tercetak lewat komik-majalah dan bacaan-bacaan anak. Juga tentunya mewujud dalam karakter di kaos, sampul buku tulis, sarung bantal, juga boneka. Biar tidak animasi atau kartun asing melulu yang meraja, biar kita bangga – berdaulat sebagai bangsa, dan kanak-kanak Indonesia juga bangga dengan tokoh kartun lokalnya. Bravo Indonesia! ***

Jakarta, 20 Nopember 2011

[email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut