Surat Presiden

Ada-ada saja tingkah laku Presiden Republik Indonesia saat ini: Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 18 Agustus lalu, sehari setelah peringatan HUT Kemerdekaan, Nazaruddin mengirim surat kepada Presiden SBY. Isinya: meminta Presiden SBY untuk melindungi Neneng, Istri Nazaruddin, dan anak-anaknya. Sebagai imbal baliknya, Nazaruddin berjanji tidak akan menyeret politisi lain.

Tak lama kemudian, SBY pun segera membalas surat Nazaruddin itu. Ia meminta bekas anak-buahnya di Partai Demokrat itu untuk jujur dan membuka kasus itu seterang-terangnya. Di sini, pak SBY seolah hendak menunjukkan dirinya sebagai seorang yang serius terhadap pengungkapan kasus ini.

Tidak ada yang salah dengan surat-menyurat itu. Akan tetapi, ada pertanyaan yang muncul: tidakkah ganjil Presiden SBY membalas surat Nazaruddin secepat kilat, sementara ada ratusan ribu atau mungkin jutaan surat rakyat Indonesia lainnya justru tidak pernah berbalas?

Lagi pula, Presiden SBY sudah tahu betul bahwa Nazaruddin sedang tersandung oleh kasus korupsi. Kenapa Nazaruddin begitu menyita waktu dan perhatian Presiden SBY, sehingga harus saling berbalas-surat.

Ada beberapa hal yang perlu digaris-bawahi dari surat-menyurat Presiden dengan koruptor dari partai demokrat ini?

Pertama, Kasus Nazaruddin sedang menjadi sorotan publik. Dengan membalas surat itu, dengan penegasan bahwa Nazaruddin harus membuka kasus itu dengan teras, Presiden SBY berusaha mengambil keuntungan politik: ia ingin tampak sebagai presiden yang benar-benar serius memberantas korupsi.

Tetapi usaha itu percuma. Ada banyak bukti bagaimana SBY tidak punya komitmen anti-korupsi secuil pun. Sebut saja: kasus Nazaruddin tetap berjalan di tempat, kasus Bank Century ditutup rapat, kasus Andi Nurpati tidak tersentuh polisi, dan masih banyak lagi.

Kedua, Presiden SBY suka merespon hal yang remeh-temeh, tetapi mengabaikan hal-hal yang sangat besar dan berkaitan dengan hajat hidup bangsa.

Kenapa harus merespon surat, sementara aksi protes berbagai sektor rakyat Indonesia di depan istana negara, yang terjadi hampir setiap hari, tidak pernah mendapat respon Presiden. Tidak pernah sekalipun Presiden SBY menampakkan batang-hidungnya di depan rakyat yang sedang menggelar protes itu.

Ketiga, Dengan merespon surat Nazaruddin, yang sedikit banyak berkaitan dengan nasib partai Demokrat, Presiden SBY menunjukkan kualitasnya bukan sebagai pemimpin bangsa atau kepala negara. Level Presiden SBY masihlah seorang pemimpin partai atau golongan.

Apa boleh buat, kita harus menelan sebuah kenyataan pahit: presiden kita bukanlah seorang negarawan, tetapi seorang pemimpin golongan. Ratusan juta rakyat Indonesia berjuang mati-matian untuk survive, dengan segala keluh-kesahnya, tetapi sang pemimpin malah sibuk mengurus urusannya sendiri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut