Sudah Saatnya Seruan Moral Menjadi Tindakan Politik

Kemarin, 8 Agustus 2011, sedikitnya 45 tokoh kembali berkumpul untuk membicarakan persoalan bangsa. Diantara yang hadir dalam pertemuan itu adalah KH Ali Yafie, KH Cholil Badawi, Tyasno Sudarto,  Hariman Siregar, Sukardi Rinakit, Soeryadi Sudirja, Adnan Buyung Nasution, Soegeng Sarjadi, dan Mulyana W Kusuma.

Para tokoh ini menilai penyelenggaraan negara saat ini sudah menyimpang dari jauh dari cita-cita proklamasi kemerdekaan 1945. Lebih lanjut, para tokoh ini berusaha mengidentifikasi bahwa bangsa Indonesia saat ini dilanda 7 krisis nasional, meliputi: krisis kewibawaan kepala pemerintahan, krisis kewibawaan kepala negara, krisis kepercayaan terhadap parpol, krisis kepercayaan kepada parlemen, krisis efektifitas hukum, krisis kedaulatan sumber daya alam, krisis kedaulatan pangan, krisis pendidikan, dan krisis integrasi nasional.

Untuk itu,  para tokoh bangsa itu menganjurkan agar kita kembali kepada cita-cita dan semangat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Cita-cita itu adalah menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka dan bersatu, berdaulat, dan mewujudkan rakyat yang sungguh-sungguh hidup beradab.

Seruan pun bergema sangat lantang dari pertemuan para tokoh bangsa ini. Salah satunya yang paling tegas ialah meminta kepada DPR untuk segera mengambil langkah politik guna mengakhiri kekuasaan yang hanya menyandera rakyat. “Kepemimpinan SBY sudah terbukti tidak mampu dan secara moral sudah tidak patut untuk menyelenggarakan negara dan kekuasaan pemerintahan,” demikian seruan para tokoh bangsa itu.

Kami sangat mengapresiasi pertemuan para tokoh bangsa itu. Setidaknya ini merupakan bentuk tanggung jawab moral para tokoh bangsa terhadap persoalan bangsa. Pertemuan ini juga patut diperhitungkan, sebab menghimpun begitu banyak tokoh dan berasal dari spectrum yang luas.

Akan tetapi, mengingat begitu banyak konsolidasi-konsolidasi sejenis ini sebelumnya, kami khawatir jikalau hasil akhir dari pertemuan besar seperti ini hanya menghasilkan rekomendasi moral.

Anehnya, para tokoh ini terkesan masih “mengemis” kepada DPR untuk melakukan tindakan politik. Padahal, sebagaimana diketahui, DPR dikuasai oleh aliansi politik pendukung pemerintah. Sehingga hampir mustahil untuk mengakhiri kekuasaan politik saat ini dengan mengemis kepada DPR.

Soal kecenderungan “mengemis” ini, kami menjadi teringat dengan pengalaman Bung Karno dalam perjuangan kemerdekaan. Pada tahun 1922, dalam sebuah rapat akbar yang diorganisir oleh radicale consentratie, Soekarno mengecam para pemimpin yang berpidato seperti meminta-minta.

Soekarno berkata:

    “Apa gunanya kita puluhan ribu banyaknya berkumpul di sini jikalau yang kita kerjakan hanya menghasilkan petisi? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada pemerintah untuk meminta kebaikan hatinya supaya mendirikan sekolah untuk kita? Bukankah itu politik berlutut?”

Menurut Soekarno, tidak satupun sesuatu diberikan karena belas-kasihan, termasuk kebebasan dan kemerdekaan. “Marilah kita menjalankan politik percaya diri sendiri dengan tidak mengemis. Sebaliknya, kita berteriak, ‘tuan imperialis, inilah yang kami tuntut,” ujar Soekarno.

Soekarno melakukan gerakan politik. Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai alat perjungannya. Ia juga menyusun azas dan taktik-taktik perjuangannya, hingga akhirnya membentur tembok rejim kolonial: Soekarno dipenjarakan berkali-kali dan dibuang ke berbagai tempat.

Tapi, karena itulah, rakyat mengenal siapa pemimpinnya. Jika Soekarno pasrah dan mengemis, atau mungkin memilih jalan koperatif, maka belum tentu kemerdekaan itu datang dalam waktu singkat.

Pengalaman pergerakan di berbagai tempat lain di dunia pun mengajarkan begitu. Tanpa sebuah gerakan politik, yang mengikat mayoritas rakyat dalam sebuah tujuan politik yang konkret, maka sulit untuk mengubah keadaan.

Sudah saatnya para tokoh bangsa itu turun ke kampung-kampung, pabrik-pabrik, desa-desa untuk mengajak rakyat menuntut pemerintah berhenti dan sebuah jalan untuk Indonesia baru harus dibentangkan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut