Waspada Krisis Memburuk! Credit Rating Amerika Serikat Turun

Ini bisa jadi pertanda krisis ekonomi global masuk babak baru. Dua lembaga pemeringkat utang (credit rating agency), Dagon yang berpusat di China, dan Standart & Poor yang berpusat di Amerika Serikat dalam waktu berdekatan menurunkan (downgrade) peringkat utang (credit rating) Amerika Serikat.

Dagong menurunkan credit rating AS pada awal Agustus, dari rating A+ ke A, dan menilai terdapat potensi penurunan lebih lanjut. Sementara Standart & Poor, pada 4 Agustus menurunkan peringkat utang AS dari peringkat tertinggi versi agency itu, AAA menjadi AA+.

Diberitakan The Economist.com (3/8/2011), “The debt ceiling crisis, US credit rating downgraded”, Dagon melandaskan keputusannya berdasarkan sejumlah penilaian terkait keputusan pasca debat panjang soal peningkatan plafon utang AS antara Partai Demokrat dan Partai Republik di Kongres.

Yang pertama, perdebatan berlarut-larut antara Partai Demokrat dan Partai Republik soal plafon utang AS telah menurunkan kepercayaan investor pada obligasi US Treasury, yang mempengaruhi stabilitas pendapatan utang AS.

Kedua, keputusan Kongres AS menaikkan plafon utang AS justru menunjukan bahwa banyak faktor yang selama ini mempengaruhi kapasitas penyediaan utang nasional tidak berkembang positif dalam jangka panjang. Menurut lembaga ini, keputusan tersebut menunjukkan tidak akan ada perubahan substansial dalam penciptaan keseimbangan antara kekayaan riil dengan tingkat konsumsi nasional AS yang sangat tinggi. Dagong juga memprediksi tingkat defisit anggaran Pemerintah Amerika Serikat akan tetap moderat tinggi di masa depan, dan jumlah utang pemerintah akan melampaui GDP pada akhir 2012.

Lebih parah lagi, credit rating agency (CRA) asal Asia ini menilai Kongres AS tidak menghasilkan resolusi positif tentang bagaimana mengantisipasi persoalan  keterbatasan kekuatan penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Bagi Dagong, hal ini mengindikasikan pemerintah AS tidak dapat memecahkan pengaruh fundamental dari pertumbuhan ekonomi yang lambat, defisit tinggi, dan peningkatan tajam utang pada kemampuan penyediaan utang melalui peningkatan kesejahteraan riil. Tanpa mampu dihindari, Amerika Serikat menghadapi penurunan solvabilitas nasional.

Sebagai dampaknya, menurut prediksi Dagong, otoritas moneter AS akan mengeluarkan QE3, atau quntitative easing gelombang ketiga, yang justru akan melemparkan perekonomian dunia ke dalam krisis secara keseluruhan, dan dolar AS akan mengalami goncangan hebat.

Ketika sejumlah ekonom mainstream AS masih mendebat penilaian Dagong sebagai berbau politis karena datang dari lembaga yang berkantor pusat di saingan utama AS, China, hanya sehari kemudian penilaian negatif atas credit rating AS justru datang dari dalam negeri.  Standart & Poor,  salah satu dari the Big Three credit rating agency ini, menurunkan peringkat utang AS dari AAA menjadi AA+.

Tentu saja ini tidak biasa, mengingat sebagaimana ditulis Dylan Mat (The U.S. is downgraded. Now what? www.washingtonpost.com 5/8/2011), hal ini merupakan kejadian pertama kali. Selama ini, baik oleh S&P, maupun saingannya Moody’s, credit rating AS selalu AAA. Itu berarti selama  94 tahun (Moody berdiri pada 1917) baru kali ini credit rating AS turun.

Pertanda Apa dan Apa Dampaknya?

Credit rating atau peringkat utang adalah  penilaian kelayakan kredit dari penerbit istrument utang tipe tertentu yang dikeluarkan perusahaan dan pemerintah, dan penilaian atas instrumen utang itu sendiri. Ini adalah evaluasi yang dilakukan lembaga pemeringkat utang terhadap kemungkinan  gagal bayar. Dalam melakukan evaluasi, lembaga pemeringkat kredit menggunakan informasi kuantitatif dan kualitatif dari perusahaan atau pemerintah penerbit instrumen utang, termasuk informasi non-publik yang mereka peroleh.

Credit rating agency ini tidak banyak jumlahnya. Wikipedia misalnya hanya mendaftar tidak lebih dari 14 CRA di dunia. Di Amerika Serikat sendiri hanya ada sekitar 10 CRA, dan sejak 1970 hingga 2003, hanya S&P, Moody’s Investor Service, dan Fitch Ratings yang masuk dalam  Nationally Recognized Statistical Rating Organizations (NRSROs).

Nah, ketika credit rating agency menurunkan peringkat utang suatu negara, ada hal tidak beres yang mereka baca, terutama untuk kasus Amerika Serikat, ketika keputusan men-downgrade credit rating AS justru setelah perdebatan plafon kredit menemukan titik temu di Konggres AS. Saat publik AS menaruh harapan pada keputusan tersebut, credit rating agency justru menurunkan peringkat utang AS, yang artinya kemampuan pemerintah AS mengembalikan kredit turun.

Di depan telah dikutip dasar keputusan Dogong, yang menilai keputusan Kongres AS soal peningkatan plafon utang pemerintah justru menunjukan ketidakmampuan pemerintah AS menciptakan kekayaan riil nasional. Itu berarti Pemerintah AS gagal mengembalikan kesempatan kerja dan produktivitas ekonomi nasional. Dogong malah memprediksi AS akan mengambil langkah bailout berikutnya, EQ3, dan menyebabkan krisis ekonomi dunia semakin luas dan buruk.

EQ atau Quntitative Easing adalah kebijakan moneter non-konvensional yang digunakan bank sentral untuk menstimulasi perekonomian nasional ketika kebijakan moneter konvensional tidak efektif. Hal itu dilakukan dengan membeli aset finansial dari bank swasta atau perusahaan swasta di sektor lain. Dalam kasus krisis finansial 2008-kini, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed melakukan dua kali (periode) Quantitave Easing, yang kemudian dikenal sebagai EQ1 dan EQ2.

Putaran pertama, EQ1 berlangsung antara 14 Desember 2008 hingga 30 Maret 2010, dimana The Fed membeli 300 miliar dolar AS long-term Treasury securities; 175 miliar pada utang perusahaan terkait sektor perumahan (Fannie Mae dan Freddie Mac), dan 125 miliar pada sekuritas agency-guaranteed mortgage-backed (surat berharga yang dijamin perusahaan penjamin hipotek). EQ2 terjadi pada periode November 2010 hingga Juni 2011, ketika the Fed membelanjakan 600 miliar dolar AS pada longer-term U.S. Treasury securities

Kalau menurut Dogong akan ada EQ3, artinya akan ada lagi sejumlah perusahaan swasta atau bank swasta AS yang terancam bangkrut dan karena itu pemerintah AS kembali melakukan bailout.

Terkait downgrade versi S&P,  Dylan Mat dalam www.washingtonpost.com menulis, downgrade ini akan berdampak pada sejumlah hal. Dua di antaranya adalah 1) naiknya harga pinjaman (bunga kredit) dan 2) ketidakpastian dalam ekonomi AS.

Hal yang pertama terjadi karena sekitar 7.000 instrumen keuangan AS (obligasi) yang nilainya mencapai 130 miliar dollar AS menyandarkan pendapatan dan posisi tawarnya pada US Treasury (surah utang pemerintah yang diterbitkan oleh US Departement of the Treasury). Jika credit rating pemerintah AS (berarti kemampuan membayar kembali US Treasury) turun, berarti kepercayaan masyarakat pada obligasi lain yang bergantung pada US Treasury juga turun. Dampaknya, investor individu atau lembaga hanya akan bersedia berinvestasi (membeli obligasi) pada tingkat bunga yang setimpal risiko.

Yang kedua, ketika krisis 2008 menyebabkan orang ramai-ramai menjual instrumen investasi keuangan yang dimiliki, hanya satu yang relatif masih mereka pertahankan: US Treasury. Hal itu karena publik AS—investor pasar modal—yakin bahwa surat utang pemerintah AS bernilai risiko “nol.” Maka kini, ketika ternyata setelah hampir 100 tahun peringkat utang AS turun, publik kehilangan kepercayaan tersebut.

Apa artinya itu semua? Ekonomi AS sedang dan akan kembali terguncang!

Kita tentu tak perlu terlalu percaya dengan pemeringkatan utang yang diterbitkan beragam CRA. Lembaga-lembaga inilah yang dengan penuh percaya diri memberi peringkat AAA pada berbagai instrumen spekulatif yang menyebabkan gelembung subprime credit sepanjang 2000-2008. Ketika berbagai jenis  collateralized debt obligations, Residential Mortgage Backed Securities, dan bentuk lain structured finance yang terkait subprime industry itu gembos, peringkatnya masih AAA. Artinya, lembaga (perusahaan atau pemerintah) dan instrumen utang yang menyandang status AAA pun ternyata seringkali investasi sampah yang nilainya di-mark up credit rating agency.  Tentu saja, pemaparan Stiglitz dalam The Roaring Nineties-nya tentang kejahatan manipulasi yang dilakukan perusahaan akuntan publik bisa juga terjadi pada credit rating agency.

Meskipun demikian, kita patut pasang telinga untuk kasus ini, karena kali ini, Standart & Poor, CRA terbesar yang senantiasa melayani kepentingan imperialisme AS justru bertindak sebaliknya: menurunkan peringkat utang AS. Kalau ini pertanda akan ada badai krisis ekonomi global gelombang kesekian, akankah Mr. President kita masih jumawa berkata, “We are on the right track?” Kita tunggu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Paul Aoetpah

    Pertanda pergeseran ke arah multipolar..

  • mrbill

    sebuah analisa yang cerdik, kritis dan komprehensif…