Sudah 8 Hari Petani ‘Duduki’ Kantor BPN Lampung

Sudah 8 hari petani dari Lampung Tengah menggelar aksi pendudukan di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung. Meski begitu, Pihak BPN belum juga merealisasikan tuntutan petani.

Tetapi semangat petani tidak kendor sedikitpun. Hendri, salah seorang petani, mengaku tetap bersemangat mengikuti aksi pendudukan ini. Ia dan kawan-kawannya juga rutin menggelar aksi massa dan kegiatan lain di depan kantor BPN.

“Kami sangat yakin bahwa hanya perjuangan yang bisa mengubah keadaan. Kami pantang pulang tanpa kemenangan,” kata Hendri seraya mengepalkan tangan.

Maslan, seorang petani yang juga berasal dari Lampung Tengah, mengaku tidak gentar dalam perjuangan. Meskipun, seperti diakuinya, perjuangannya itu menghadapi banyak cobaan, seperti logistik seadanya, menu debu jalanan setiap hari, kedinginan, dan terkadang terik matahari di siang hari.

Seperti kemarin, Selasa (27/3/2012), 200-an petani ini menggelar aksi massa di depan kantor BPN Lampung. Mereka menuntut kejelasan dari BPN terkait kepemilikan tanah mereka yang sebelumnya diklaim oleh PT. Sahang.

Cukup lama berorasi, pihak BPN tidak juga menemui petani. Akhirnya, petani mengambil inisatif untuk mendobrak pagar. “Kita terus diabaikan oleh pihak BPN. Ayo, kawan-kawan, dobrak pagar ini,” kata Maslan memberi komando.

Pintu gerbang BPN pun digoyang-goyang oleh massa petani. Barulah setelah itu pihak BPN memanggil perwakilan petani untuk dialog. Sementara ratusan massa petani lainnya diminta menunggu di luar.

Para petani, yang berjuang dibawah panji-panji Partai Rakyat Demokratik (PRD), juga mendapat dukungan solidaritas dari gerakan mahasiswa, yakni Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Risma Bourthon, seorang aktivis LMND, dalam orasinya mengatakan, para petani hanya memperjuangkan apa yang menjadi haknya yang dirampas pengusaha. Karena itu, katanya, pihak BPN harusnya mendengar aspirasi petani.

“BPN RI bertanggung jawab atas dosa sejarah yang telah ia lakukan dengan mengembalikan hak atas tanah ini kepada kaum tani pemilik sahnya,” tegas aktivis perempuan yang mengenakan kerudung ini.

Setelah sekitar 40 menit berdialog, perwakilan petani pun keluar dari kantor BPN dan menemui massa petani. Rakhmat Husein DC, salah seorang jubir petani, menyatakan bahwa pihak BPN-RI berjanji akan memberikan jawaban atas tuntutan petani pada tanggal 29 Maret mendatang.

Sementara pihak BPN Lampung, kata Husein, akan berangkat ke Jakarta besok untuk menyerahkan surat Bupati Lampung Tengah kepada pihak BPN RI. “Lagi-lagi mereka menguji kesabaran kita. Tapi, kawan-kawan, kita pantang tanpa membawa kemenangan,” kata Husein.

Sampai kemarin, sejumlah petani mulai mengalami gangguan kesehatan. Seorang petani bernama Kholil (70 tahun) jatuh pingsan karena terserang diare dan dehidrasi. Ia pun dilarikan ke Rumah Sakit. Sedangkan seorag petani lainnya, Sakun (60 tahun), terserempet kendaraan motor dan mengalami cedera di bagian tangan.

SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut