STN Mengecam Kekerasan Dan Perampasan Lahan Milik Petani Karawang

Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (KPP-STN) mengecam keras perampasan lahan milik warga tiga desa di kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Selasa (24/6/2014).

“Sebanyak 1200-an petani di tiga desa, yakni Margamulya, Wanasari, dan Wanakerta, dirampas lahannya oleh PT Sumber Air Mas Pratama (SAMP) yang dimiliki oleh PT Agung Podomoro Land Tbk,” kata pengurus KPP STN, Yoris Sindhu Sunarjan, di Jakarta, Rabu (25/6/2014).

Menurut Yoris, dalam proses perampasan lahan tersebut, pihak pengusaha didukung oleh aparatus pengadilan yang korup dan sedikitnya 7000-an anggota Brimob Polda Jabar.

“Petani yang berjumlah 1200-an orang berjuang gagah-berani mempertahankan tanahnya berhadapan dengan 7000-an anggota Brimob bersenjata lengkap,” ujar Yoris.

Yoris mengatakan, perampasan lahan dengan jalan kekerasan di kabupaten Karawang tersebut semakin menambah eskalasi konflik agraria di Indonesia.

Lebih jauh, Yoris mengungkapkan, peningkatan kasus konflik agraria tersebut didorong oleh kebijakan pemerintah yang lebih memprioritaskan peruntukan tanah bagi kepentingan kapital ketimbang untuk rakyat.

“Liberalisasi sektor agraria telah mendorong pihak swasta, baik domestik maupun asing, sangat leluasa dalam mencaplok dan mengusai lahan milik rakyat,” terangnya.

Yoris menegaskan, liberalisasi sektor agraria itu sangat berlawanan dengan semangat konstitusi, khususnya pasal 33 UUD 1945, yang mengharuskan tata-kelola agraria untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam konteks itu, Yoris menyesalkan absennya para calon presiden dalam membela hak-hak petani di Karawang. “Kalau memang memihak kepada rakyat dan pro-reforma agraria, seharusnya para capres itu bersikap menolak perampasan lahan milik petani Karawang itu,” tegasnya.

Untuk diketahui, pada hari Selasa (24/6) kemarin, sedikitnya 7000-an aparat keamanan gabungan Brimob, Dalmas Polda Jabar, dan Kodim melakukan penggusuran paksa terhadap petani di tiga desa di Kawarang, yakni desa Margamulya, Wanasari, dan Wanakerta.

Proses penggusuran ini diwarnai kekerasan. Awalnya, iring-iringan juru sita dan 7000-an aparat keamanan di blokade oleh aksi solidaritas kaum buruh diGerbang Tol Karawang Barat dan Timur. Bentrokan pun tak terhindarkan. Polisi menggunakan kekerasan untuk membubarkan blokade kaum buruh ini. Akibatnya, 8 orang buruh mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.

Bentrokan kembali pecah ketika rombongan juru sita dan aparat Brimob tiba di desa Margamulya. Para petani dan keluarganya bertahan di atas tanahnya. Polisi pun melepaskan tembakan, gas air mata, dan water canon untuk menghancurkan perlawanan petani.

Dalam kasus penggusuran tersebut, seorang petani bernama Mostofa mengalami luka tembak. Tak hanya itu, puluhan petani dan buruh juga ditangkap oleh aparat keamanan.

Perjuangan para petani tiga desa ini disokong oleh Aliansi Besar Karawang (Federasi Serikat Pekerja, Federasi Serikat Kerakyatan Indonesia dan Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia), PBHI Jakarta, KPA, JMPH, LBH Street Lawyer, Serikat Petani Karawang (Sepetak), Aliansi Masyarakat Karawang, dan BEM Universitas Singaperbangsa Karawang.

Konflik agraria di Karawang ini sudah berlangsung sejak tahun 1974. Saat itu perusahaan bernama PT Dasa Bagja mengklaim lahan milik petani. Kemudian, pada tahun 1986, klaim kepemilikan itu beralih ke PT Makmur Jaya Utama.

Lalu, pada tahun 1990, PT Makmur Jaya Utama mengalihkannya lagi ke PT Sumber Air Mas Pratama (SAMP). Menurut warga, klaim kepemilikan oleh PT. SAMP ini tidak disertai bukti kepemilikan. Pada tahun 2012, PT. SAMP memobilisasi ratusan preman untuk merampas paksa lahan milik petani tersebut.

Warga sendiri sudah mengusai dan mengelola lahan itu secara turun-temurun. Mereka juga mengaku punya bukti kepemilikan yang sah dan rutin membayar pajak.

Belakangan diketahui PT. Sumber Air Mas Pratama ini diambil-alih oleh Agung Podomoro Land. Perusahaan inilah yang mengklaim kepemilikan lahan seluas 350 hektar yang mengcakup tiga desa di Karawang itu.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut