Si Pitung, Jagoan Anti Imperialis dari Tanah Betawi

Sudah lebih dari seminggu penulis berdomisili di Jakarta. Timbul keinginan untuk mengeksplorasi sejarah ibu kota negeri ini, dengan harapan adanya sebuah kisah sejarah yang dapat dijadikan ‘pelumas’ dalam perjuangan melawan sistem imperialisme modern yang masih merantai bangsa ini hingga kini.

Asumsi penulis, tiadalah mungkin kota Jakarta tidak memiliki riwayat perlawanan yang fenomenal dan populer dikalangan rakyat, meskipun mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah ‘mainstream’. Dan benar saja, penulis menemukan sebuah nama yang diidentifikasi sebagai pahlawan penentang imperialisme Belanda dan feodalime tuan tanah di Batavia (nama Jakarta ketika masa penjajahan Belanda) pada abad ke 19. Nama itu sebetulnya telah akrab di telinga penulis sejak kecil. Nama itu adalah Si Pitung.

Si Pitung, sebuah nama yang telah melegenda di kalangan penduduk asli Jakarta, Betawi. Sebuah nama yang diasosiasikan dengan heroisme dan penentangan terhadap kekuasaan kolonial dan feodal yang menindas rakyat miskin. Metode penentangannya pun tergolong unik, yakni dengan merampok harta kekayaan para pejabat kolonial, tuan tanah, rentenir serta tauke yang’menghisap’ pendapatan rakyat miskin pribumi dengan cara-cara kejam. Lalu harta hasil rampokan  itu dibagikan kepada rakyat miskin yang menjadi korban kolaborasi kaum kolonialis dan feodal tersebut. Heroisme Pitung yang demikian itulah yang menyebabkan Pitung mendapatkan gelar lain, yaitu “Robin Hood Betawi”. Nama itu merujuk pada pahlawaan pembela rakyat miskin dari Britania di masa feodalisme Eropa abad pertengahan. Di benak penulis, nama Si Pitung juga identik dengan aktor Dicky Zulkarnaen, yang berperan sebagai Si Pitung dalam beberapa filmnya di tahun 1970-an seperti”Si Pitung  Banteng  Betawi” (1971).

Jagoan Pembela “Orang Kecil”

Banyak versi yang mengulas riwayat hidup Si Pitung. Secara garis besar, hampir semua versi itu menyatakan bahwa daerah asal Si Pitung adalah daerah Pengumben, Rawabelong. Oleh karena itu Si Pitung sering dijuluki Jagoan Betawi dari Rawabelong. Si Pitung lahir dari pasangan Bang Piung dan Mpok Pinah dengan nama asli Salihoen. Sejak kecil, Pitung belajar ilmu agama dan bela diri kepada Haji Naipin, seorang guru agama sekaligus tokoh tarekat di tanah Betawi. Dari sang guru inlah, menurut cerita, Pitung mendapatkan ilmu kebal yang mampu membentengi dirinya dari peluru polisi Belanda.

Salah satu karya ilmiah yang mengulas riwayat hidup Pitung dari beragam versi adalah disertasi Margareth van Till yang berjudul In Search of Si Pitung (1996). Dalam disertasi tersebut dikatakan bahwa menurut salah satu versi, Si Pitung merupakan seorang kriminal, yang mengawali ‘karirnya’ sebagai seorang ‘garong’ pasca kambingnya dirampas oleh para centeng (tukang pukul) tuan tanah di Tanah Abang. Kejadian ini menimbulkan rasa benci di hati Pitung terhadap para tuan tanah yang berlaku sewenang-wenang. Pitung dan kawan-kawannya (salah satunya yang terkenal bernama Dji-ih) akhirnya melakukan tindakan balas dendam dengan  merampok harta Haji Saifudin, seorang tuan tanah kaya di daerah Marunda, Jakarta Utara.Konon rumah Haji Saifudin yang dirampok Pitung itulah yang sekarang ditetapkan sebagai benda cagar budaya DKI Jakarta dan diberi nama Museum Si Pitung.

Setelah persitiwa perampokan di Marunda itulah Si Pitung dan kawanannya menjadi buronan aparat Belanda. Ketika itu di Batavia ada seorang komisaris polisi yang bernama Van Heyne atau dikenal juga dengan nama Van Hinne. Dalam disertasi Van Till, komisaris polisi inilah yang mengomandoi aparat keamanan Belanda di Batavia dalam perburuan si Pitung dan kelompoknya.

Suatu ketika, pasukan Van Hinne berhasil menangkap Pitung dan menjebloskannya ke tahanan ka-Demangan Master Cornelis (gedung ka-demangan ini kini terdapat di kawasan Mester Jatinegara). Namun dengan segala kecerdikan dan ‘kesaktiannya’, Si Pitung berhasil melarikan diri dari tahanan. Setelah peristiwa kaburnya Pitung dari tahanan, kabar mengenai ‘kiprah’ kelompok Pitung dalam menganggu kenyamanan hidup para pejabat kolonial dan tuan tanah kian santer terdengar. Hal inipun makin membuat perwira Van Hinne jengkel dengan ulah Pitung dan kelompoknya. Apalagi ditambah dengan kesaksian-kesaksian yang menyatakan bahwa Pitung memiliki ilmu kebal dan tubuhnya tidak mempan ditembus peluru. Namun di mata penduduk pribumi, Pitung dan klompoknya justru dianggap pahlawan karena kerap membagikan harta hasil rampokannya kepada rakyat kecil. Hal ini menyebabkan Pitung mendapat predikat sebagai jagoan pembela rakyat miskin, berbeda dengan jagoan Betawi lainnya yang kebanyakan menjadi centeng tuan tanah dan kaki tangan Belanda.

Aparat Belanda mulai mengarahkan sasarannya kepada keluarga, sahabat serta guru Pitung,Haji Naipin dalam rangka mencari informasi guna melumpuhkan kesaktian si Pitung. Akhirnya melalui berbagai cara Pitung pun berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Belanda dibawah pimpinan Van Hinne. Ada beberapa versi seputar penyebab ‘hilangnya’ kesaktian Pitung hingga akhirnya berhasil ditewaskan oleh Belanda. Dilempar telur, potong rambut, sampai jimat Pitung yang dicuri oleh antek Belanda merupakan beberapa versi mengenai penyebab kekalahan Pitung oleh Belanda.

Representasi Pemberontakan  Sosial

Kisah si Pitung yang melegenda di tanah Betawi merupakan sebuah kisah heroik yang merepresentasikan pemberontakan terhadap tatanan sosial-ekonomi yang menistakan rakyat banyak di penghujung abad ke 19. Ketika itu, UU Swastanisasi Agraria diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 dan menyebabkan tumbuhnya penguasa-penguasa tanah partikelir. Penguasa-penguasa tanah tersebut ada yang berasal dari investor asing dan ada juga yang berasal dari sisa-sisa feodal pribumi yang dibiarkan eksistensinya dalam sistem sosial oleh kolonialis Belanda. Tidak ketinggalan pula golongan saudagar Cina yang banyak berevolusi menjadi tuan tanah pada abad 19 di Batavia maupun daerah lain di Pulau Jawa.

Pada era swastanisasi agraria inilah banyak terjadi gerakan pemberontakan skala kecil atau protes sosial yang digerakkan oleh kaum tani maupun golongan masyarakat pribumi lainnya yang disengsarakan oleh sistem yang berlaku. Beberapa pemberontakan itu diantaranya pemberontakan Entong Gendut dan Ki Bagus Rangin di daerah Banten dan Jawa Barat  serta gerakan Samin di Jawa Tengah. Penulis melihat gerakan si Pitung (dengan segala kontroversinya) menjadi bagian dari gerakan pemberontakan sosial yang menentang penindasan imperialis kulit putih maupun golongan feodal pribumi dan kulit berwarna pada masa liberalisasi agraria diakhir abad 19.

Spirit penentangan Si Pitung terhadap kolaborasi imperialis dan kaum feodal serta pembelaannya pada rakyat miskin dapat menjadi sumber inspirasi perjuangan baik bagi masyarakat Betawi maupun etnis lainnya di negeri ini guna menghadapi sistem neo-kolonial yang kini kembali meneror bangsa ini. Sebuah sistem yang juga merupakan hasil kolaborasi imperialis asing beserta rezim borjuasi komprador di dalam negeri yang berasal dari kalangan pribumi.

*) Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Sumedang dan Alumnus jurusan Antropologi Universitas Padjajaran (Unpad)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut